REQNews.com

Mengenal Apa Itu Klitih, Kekerasan di Jalan yang Tewaskan Anak Anggota DRPD Kebumen

The Other Side

Tuesday, 05 April 2022 - 17:00

Ilustrasi korban (Foto: Istimewa)Ilustrasi korban (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Jagat Twitter dibuat heboh dengan tagar #DIYdaruratklitih dikarenakan munculnya beberapa kasus kekerasan remaja di Yogyakarta atau yang lebih dikenal dengan klitih. Akibatnya, sejumlah orang menjadi korban dan mengalami luka ringan bahkan berujung hingga tewas. Meskipun terdengan familiar, namun beberapa orang belum mengetahui apa itu klitih?

Tewasnya korban bernama Daffa Adzin Albazith (17), warga Kebumen, Jawa Tengah, pelajar SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta pada Minggu 3 April 2022 dini hari menyita perhatian publik. Anak salah satu anggota DPRD Kebumen, Madkhan Anis itu menjadi korban klitih di Yogyakarta. 

Istilah klitih sendiri bagi sebagian masyarakat bukanlah istilah baru. Kata klitih sendiri terdengar familiar oleh masyarakat khususnya pada daerah di sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta atau DIY.

Namun, nampaknya ada pergeseran istilah klitih. Pada awalnya, istilah klitih sendiri digunakan untuk mendefinisikan kegiatan berputar-putar atau melintasi jalan untuk mencari angin atau mengisi waktu luang ataupun mencari makan.

Kata klitih berasal dari bahasa Jawa klitah-klitih yang artinya “kegiatan mengisi waktu luang” yang bersifat positif, seperti kegiatan menjahit, membaca, dan sebagainya.

Istilah klitih ini kemudian memiliki konotasi yang berbeda belakangan ini. Sekarang dipakai untuk menunjuk aksi-aksi kekerasan dan kriminalitas. 

Klitih umumnya terjadi di malam hari.

Klitih adalah fenomena kekerasan menggunakan senjata tajam yang dilakukan sekelompok orang dengan mengendarai sepeda motor. Aksi klitih biasanya dilakukan lebih dari satu orang dan menggunakan senjata tajam, seperti digunakan pedang, golok, dan gir sepeda motor yang telah dimodifikasi.

Para pelaku klitih biasanya menyusuri ruas jalan yang sepi atau tempat nongkrong, seperti warung bubur kacang ijo (burjo) atau warung kopi. Penggunaan senjata tajam seringkali menimbulkan luka parah, bahkan kematian.

Menurut Sosiolog kriminal Universitas Gadjah Mada, Drs. Soeprapto, S.U, sejarah klitih berawal pada tahun 2007-2009. Saat itu, pemerintah Yogyakarta membuat kebijakan di sekolah-sekolah bahwa pelajar yang terlibat tawuran akan dikembalikan ke orang tua, baik dalam wujud skorsing maupun dikeluarkan.

Kebijakan tersebut berdampak pada terkekangnya para pelajar, terutama mereka yang hidup dalam kondisi rumah yang tidak kondusif, mengalami kekecewaan, atau merasa bosan karena tidak ada kegiatan. Para pelajar ingin melampiaskan kekecewaan sehingga mereka berkumpul dan mengendarai sepeda motor berkeliling kota untuk mencari musuh.

Pemilihan musuh tidak dilakukan secara acak. Musuh yang dijadikan target adalah sesama pelajar, khususnya sekolah tertentu yang dilihat dari lambang di baju seragam sekolah.

Drs. Soeprapto, S.U mengatakan geng-geng itu melakukan kegiatan mencari musuh dengan mengelilingi kota secara acak. Jika sebelumnya tindakan kekerasan karena motif balas dendam, maka saat ini motifnya beragam. 

 

 

 

 

 

Redaktur : Tia Heriskha

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.