REQNews.com

Nahloh! Penunjukan Maudy Ayunda Jadi Jubir G20 Tuai Kritik, Memang Layak atau Cuma Buat Gimmick?

The Other Side

Senin, 18 April 2022 - 14:31

Maudy Ayunda ditunjuk jadi Jubir Presiden G20.Maudy Ayunda ditunjuk jadi Jubir Presiden G20.

JAKARTA, REQnews - Penunjukan artis cantik Maudy Ayunda sebagai juru bicara presidensi G20 oleh pemerintah RI berujung polemik. Keputusan pemerintah ini kini menuai kritik dari berbagai pihak.

Sejumlah akademisi dan peneliti ilmu politik menilai langkah pemerintah memilih bintang pop sebagai jubir G20 ini sebagai "janji sia-sia" atau sekadar gimmick yang dibuat pemerintah demi terhubung dengan populasi muda.

Keputusan pemerintah ini kian diragukan, pasalnya Maudy Ayunda mengisi posisi penting jubir G20 di saat Indonesia tengah menghadapi keseimbangan yang sulit untuk menampung para pemimpin dari 20 ekonomi terbesar dunia akibat invasi Rusia ke Ukraina.

Terlebih, delegasi Rusia masih diundang ke pertemuan G20 di Washington pekan ini, meskipun negara-negara lain mengancam akan memboikot.

"Penunjukan simbolis ini merupakan bagian dari upaya meredam kritikan dari kaum muda terhadap isu-isu kritis, seperti pekerjaan dan pelayanan publik," kata Wasisto Raharjo Jati, peneliti politik di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI.

"Penjangkauan pemerintah condong ke kaum muda perkotaan yang memiliki hak istimewa – jenis milenium yang sesuai dengan ide yang ingin mereka promosikan – sementara meninggalkan mayoritas yang berpenghasilan menengah ke bawah dan tinggal di daerah pedesaan," lanjutnya.

Lebih dari setengah dari 273 juta orang di Indonesia berusia di bawah 35 tahun dan tingkat pengangguran di dalam negeri berusia 16 hingga 30 tahun berkisar 14 persen tahun lalu.

Dilansir dari Bloomberg, Senin, 18 April 2022, kaum muda Indonesia lebih mungkin menjadi pengangguran dua kali lipat dari tingkat nasional 6,5%. Terlepas dari program pelatihan kerja dan beasiswa untuk pendidikan tinggi yang dikelola negara, sekitar satu dari lima di antaranya tidak bekerja atau belajar, angka yang menjadi pertanda buruk bagi tujuan Indonesia untuk menjadi ekonomi berpenghasilan tinggi pada tahun 2045.

Melihat berbagai persoalan pelik yang dihadapi Indonesia ini, banyak yang kemudian ragu atas penunjukan Maudy sebagai juru bicara. Apalagi, Maudy diketahui tidak memiliki pengalaman diplomatik atau ekonomi apapun sebelumnya.

Penampilan Maudy sebagai jubir pada pengarahan perdananya pun jadi sorotan. Dia tampak mengabaikan pertanyaan tentang kehadiran Putin. Penyelenggara lantas mengatakan kepada wartawan untuk bertanya tentang kepribadiannya sebagai gantinya.

"Sebagai bagian dari tim juru bicara, perannya adalah untuk melaporkan hasil pertemuan G20 yang relevan dengan Indonesia sementara isu-isu sensitif akan ditangani oleh perwakilan lain," kata Maudy Ayunda menanggapi pertanyaan Bloomberg.

"Ia terpilih sebagai sosok yang dapat menjangkau masyarakat luas, khususnya generasi millennial dan Gen Z," kata Dedy Permadi, Juru Bicara Kementerian Komunikasi.

Namun, ketika Bloomberg mengirimkan pertanyaan tentang G20 ke Kementerian Luar negeri dan Kementerian Komunikasi, pertanyaan itu diarahkan kepada Maudy Ayunda sebagai juru bicara.

"Penunjukan Maudy Ayunda masuk akal karena pendidikannya di luar negeri dan dorongan pemerintah untuk menciptakan panutan bagi kaum muda," kata Irfan Wahyudi, Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga.

Tetapi untuk G20, tentunya negara membutuhkan perwakilan yang menguasai dan mampu berbicara tentang isu-isu global atas namanya.

"Dalam hal ini, pemanfaatan anak muda hanya akan dilihat sebagai gimmick, bukan sebagai fungsi strategis."

 

Redaktur : Puri

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.