Kematian Ratu Elizabeth II, Pengangkatan Raja Charles III, dan Nasib Kulit Hitam di Inggris
London, REQNews.com -- Jenazah Ratu Elizabeth II dimakamkan dengan segala pujian, banjir kehormatan, dan bla bla bla. Namun, menurut france24.com, komunitas kulit hitam bertanya-tanya; apa yang mereka Ratu Elizabeth II lakukan untuk kita?
Pertanyaan itu adalah gambaran awal tentang apa yang harus dihadapi Raja Charles III, penerus Ratu Elizabeth II.
Alih-alih cukup trampil menjawab pertanyaan itu, beredar video Raja Charles III mengabikan sodoran tangan seorang kulit hitam pelayat Ratu Elizabeth II. Video itu viral, mengundang berbagai tanggapan.
Christopher Andersen, Brothers and Wives: Inside the Private Lives of William, Kate, Harry and Meghan, menulis tentang Pangeran Charles -- saat itu belum jadi raja -- yang bertanya kepada Camilla, istrinya, tentang rupa anak-anak Pangeran Harry dan Meghan Markle?
Camilla menjawab; "Tentu saja cantik."
Pangeran Charles menegaskan; "Maksud saya, menurut Anda seperti apa warna kulit anak-anak mereka?"
Kisah ini yang membuat Meghan Merkle, wanita keturunan Afro-Amerika, berani menuduh ada rasisme di Istana Buckingham. Tuduhan disampaikan dalam talk show Ofrah Winfrey.
Raja Charles III sepertinya akan kesulitan menghadapi isu rasisme di dalam istana, dan kenyataan historis tentang perdagangan budak di era kolonial Inggris.
Ia tidak hanya kepala negara Britania Raya, tapi juga 14 negara di luar Inggris. Singkatnya, Raja Charles III masih memiliki hak yang dipertuan di 14 bekas jajahan Inggris.
Kahinde Andrews, profesor kulit hitam di University of Birmingham, sehari setelah kematian ratu menulis; "Untuk anak-anak Kerajaan Inggris, kami yang lahir di sini dan di 14 negara persemakmuran, Ratu Elizabeth II adalah simbol supremasi kulit putih nomor satu."
Andrews melanjutkan; "Ratu Elizabeth II mungkin dilihat sebagai institusi, tetapi bagi kami dia adalah manifestasi rasisme institusional yang harus kami hadapi setiap hari."
Banyak kulit hitam Inggris tidak ingin lagi tinggal diam tentang rasisme yang berakar di jantung banyak institusi. Subyek ini muncul dalam protes Black Lives Matter, yang menyeru agar patung tokoh-tokoh dengan masa lalu pebisnis budak dirobohkan.
Selama masa berkabung nasional yang berakhir dengan pemakaman Ratu Elizabeth II pada 19 September, Inggris dilanda protes penembakan Chris Kaba -- pria kulit hitam tak bersenjata yang diterjang peluru polisi London.
Bagi warga kulit hitam, penembakan itu adalah tindakan rasis aparat kepolisian. Jadi, wajar jika terjadi aksi demo.
Kebangkitan Masif
Raja Charles III tidak hanya yang dipertuan bagi 14 negara di luar Inggris, tapi juga pemimpin kelompok negara persemakmuran yang beranggotakan 56.
Kelompok Negara Persemakmuran adalah negara-negara bekas jajahan Inggris dengan 2,6 miliar orang di dalamnya. Sebagian dari 2,6 miliar itu tidak berkulit putih dan berusia 30 tahun.
David Olusoga, penulis Black and British: A Foreign History, mengatakan terjadi kebangkitan masif terhadap realitas dan warisan imperialisme dan perbudakan di negara-negara persemakmuran.
Ilmuwan Inggris menulis di The Guardian bahwa Istana Buckingham gagal mengenali atau memahami pergeseran kesadaran itu. Itu terlihat dalam kunjungan Pangeran Williams dan Cahterine awal tahun ini, yang secara luas dikritik sebagai pukulan kolonialisme.
Pangeran William menghadapi tuntutan untuk meminta maaf atas perbudakan dan monarki Inggris membayar reparasi.
"Sejarawan mungkin melihat tur itu sebagai pertanda pertama zaman tempat kita menemukan diri kita pasca Elizabethian," kata Olusoga.
Sejak itu, Pangeran William memuji kontribusi besar generasi migran Karibilia 'Windrush', yang datang ke Inggris setelah Perang Dunia II untuk membangun kembali negara yang memperbudak nenek moyang mereka.
Padahal, banyak migran Karibia yang datang secara legal tapi ditahan dan dideportasi di bawah kebijakan imigrasi garis keras.
Kesetaraan Ras
Ashok Viswanathan, wakil direktur Operasi Black Vote, mengatakan Raja Charles IIII -- melalui badan amal Prince Trust -- bekerja dengan orang-orang muda kulit hitam yang kurang beruntung untuk berbicara dengan untuk dirinya.
Namun, lanjut Viswanathan, untuk meyakinkan warga kulit hitam Inggris -- terutama kalangan generasi muda -- Raja Charles III harus memupuk hubungan dalam peran barunya.
Raja Charles disebut sebut bekerja di belakang layar untuk melawan diskriminas. Awal September, misalnya, dia mendiundang untuk menyunting The Voice -- sebuah surat kabar untuk komunitas Afro-Karibia.
Namun, bukan itu yang dituntut Afro-Karibia. Kulit hitam hanya menginginkan dua hal; permohonan maaf atas perbudakan dan monarki membayar reparasi.
Redaktur : Teguh Setiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
