Viral di Twitter, Nih Cerita Lengkap Riska Mahasiswi UNY yang Jasadnya Terkubur Bersama Impian Jadi Sarjana
JAKARTA, REQnews - Nama Riska, mahasiswi UNY baru-baru ini viral di Twitter. Warganet menyorot kisah hidupnya yang memilukan, saat mengejar impian untuk menjadi sarjana.
Kisah tentang Riska ini pertama kali dibagikan oleh warganet dengan akun @rgantas, yang tampaknya merupakan rekan baik wanita tersebut.
Beredar juga foto ucapan duka, yang menunjukkan bahwa Riska telah wafat.
Dalam unggahannya, akun @rgantas menceritakan detail bagaimana perjuangan Riska menempuh pendidikan dengan segala keterbatasan ekonomi.
Riska harus berjibaku dengan masalah Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang mencekik, hingga akhirnya mengubur mimpinya di liang lahat, bersama dengan jasadnya.
Berikut kisah yang dibagikan akun @rgantas tentang kehidupan Riska.
Mungkin tak banyak yang mengenalnya, tapi untuk yg benar-benar berteman dengannya, ia adalah sosok tak terlupakan. Kegigihannya untuk mencoba melanjutkan kuliah berasal dari tekad yg maha dahsyat.
Meminjam Hemingway, tekadnya bak:
“Bisa dihancurkan, tapi tak bisa dikalahkan.”
Ia bernama Riska. Ambisinya utk melanjutkan studi, membawa ia dari desa terpencil di Purbalingga menuju daratan Yogya yg amat asing baginya. Kala itu Riska hanya memegang 130rb untuk ongkos perjalanan naik bus & uang saku seminggu di Yogya. Tentu ini bukan bagian yg terburuk.
Bila ini novel fiksi motivatif, mungkin akan berakhir dengan indah, penuh haru bahagia. Celakanya kita sedang berada di dunia nyata. Dengan segala kegilaan yang nyaris mengubur kewarasan. Tempat di mana kita pada akhirnya akan belajar: betapa mimpi pun bisa dibeli dengan uang.
Lantas bagaimana dengan Riska? Ia percaya kerja keras tak akan pernah menghianati. Saya juga mengenal Riska sebagai representasi dari perempuan yang cerdas. Ia memiliki potensi besar untuk menjadi “sesuatu” yg besar. Sayang masalah ekonomi sedikit banyak menghambat potensinya.
Orang tuanya sehari-hari jualan sayur di gerobak pinggir jalan. Di saat yang sama, ibunya harus menghidupi Riska dan keempat adiknya nan belum lulus sekolah. Tidak sulit untuk menebak bahwa jelas keuangan keluarga Riska tak akan cukup membiayai perkuliahannya.
Saya memang menemukan banyak kasus, di mana nominal UKT mahasiswa UNY melampaui kapasitas keuangan pembayarnya. Dan tidak sulit menemukannya. Terbukti dari hasil temuan @unybergerak. Di mana dari seribuan mahasiswa yg mengisi angket, sekitar 97% keberatan dengan nominal UKTnya.
Keanehan penentuan UKT di UNY memang bukan barang baru. Namun, dalam kasus Riska agak berbeda. Ia sudah mengisi nominal pendapatan yg sesuai dgn kondisi ekonominya. Tetapi, saat diminta mengupload beberapa berkas, ia tidak punya laptop. Sehingga ia meminjam hp tetangganya di desa.
Karna android tetangganya tidak secanggih hp yg sedang Anda pakai. Akhirnya ia tidak bisa mengupload berkas-berkas yg diminta. Ia mengira inilah alasan mengapa nominal UKTnya melonjak. Entah ada pengaruh atau tidak. Namun, secara ajaib nominal UKTnya muncul dgn angka 3.14 jt.
Kala itu Ia hampir mengubur asa untuk berkuliah. Beruntungnya, guru-guru di sekolahnya mau membantu UKT pertamanya. Desir harapan pun hadir. Ia resmi menjadi mahasiswa UNY.
Selama menjadi mahasiswa, ia dikenal sebagai orang yg ceria. Sangat ceria malah menurutku. Sayang keceriannya mulai luntur tiap mendekati pembayaran UKT, seperti sekarang ini. Ancaman putus kuliah, seolah meremas-remas hatinya. Menyergap semua mimpi indah yang ia bangun.
Tidak kurang-kurang usaha yg ia lakukan agar bisa melanjutkan studi. Segala cara dia coba, dari mencari beasiswa hingga mengambil part time. Menurut saya praktis semua usaha sudah ia coba. Namun hasilnya lebih sulit dari yg diduga
Bahkan sebenarnya di awal perkuliahannya, ia sempat bolak-balik dri Rektorat UNY utk mengajukan keberatan terhadap nominal UKTnya. Tapi, menurtnya, ia: “kaya bola yg lagi dimaenin oper sana-sini gak jelas.”
Pengalaman Riska nampak tak asing bagi kita yg berhadapan dgn birokrasi
Padahal, baru-baru ini saya baru tau, kala itu hanya untuk bolak-balik rektorat, ia selalu jalan kaki dari kosannya di Pogung sampai ke jl. Colombo. Riska memang selalu jalan kaki ke mana saja. Maklum, ia ga memiliki cukup uang utk memesan driver online.
Dia selalu berhati-hati utk menggunakan uang. Salah satu temannya pernah memberinya Abon. Dia sangat senang. Selama di kos dia terlihat hanya makan nasi dengan Abon yg diberi temannya tadi. Bahkan odol, sabun, shampo dan mie instan dia dapatkan dari pemberian temannya.
Ini yang membuat saya begitu kagum dengannya. Ia begitu kuat, sangat kuat, terlalu kuat. Atau yg sebenarnya terjadi, dia dipaksa kuat.
Salah satu hal yg membuat Riska berusaha kuat, ialah ambisinya utk menjadi sarjana. Agar di satu masa ia dapat membantu masa depan adik-adiknya.
Riska pernah bilang, bila akhirnya dia tdk bisa melanjutkan kuliahnya. Ia ingin kerja agar dpt menguliahkan adiknya. Dia ingin mewujudkan mimpi adiknya.
Kata itu terucap saat lagi-lagi masa pembayaran UKT mendekati deadline. Ia nyaris kehilangan asa, karna tak bisa membayar UKT.
Sebelumnya saya menghubungkan Riska dengan salah satu petinggi kampus. Pihak birokrat kampus meminta beberapa dokumen penting untuk membantu penurunannya secara langsung. Dia juga sudah mengisi link pengajuan penurunan UKT yg disediakan kampus. Ironinya, UKTnya cuman turun ±600rb.
Ada dua kabar berbeda. Ada yg mengatakan ia akhirnya menyerah. Ada juga yg bilang dia cuti dan mencari kerja utk membayar UKT semester selanjutnya. Saya sendiri lebih percaya yg nomor dua. Orang segigih dia tak mungkin menyerah.
Tentu hal tersebut bukan bagian paling buruk nan menyakitkan. Bagian yg paling menyakitkan adalah mengetahui bahwa kisah ini benar-benar terjadi di UNY. Makam Riska tak hanya mengubur jasadnya, tapi juga mengubur mimpinya. Mimpi untuk menjadi sarjana. Mimpi yg ingin saya lihat.
Lagi, saya kembali disadarkan bahwa kita tidak sedang hidup di Novel Laskar Pelangi. Apa yg salah dari mimpi Riska? Ia hanya ingin menjadi sarjana demi membantu ibunya. Bahkan di hari pemakamannya, ibunya berkisah bahwa Riska tidak pernah meminta uang.
Baca selengkapnya di link berikut ini: https://twitter.com/rgantas/status/1613165855940153345
Redaktur : Ryan Virgiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
