Bisnis Kontraktor Interior Menjanjikan di Era Milenial dan Gen Z: Nih Tips Jitu dari Pakarnya!
JAKARTA, REQnews - Bisnis kontraktor interior adalah salah satu bisnis yang menjanjikan di era digital saat ini. Dengan perkembangan teknologi dan sosial media, permintaan akan desain interior yang menarik, nyaman, dan instagrammable semakin meningkat. Namun, bisnis ini juga memiliki tantangan dan persaingan yang ketat. Bagaimana cara menghadapi tantangan tersebut dan meraih kesuksesan di bisnis kontraktor interior?
Pada tanggal 31 Agustus 2023 lalu, Associe mengadakan webinar talkshow dengan tema "Bisnis Kontraktor Interior di Era Milenial dan Gen Z". Webinar ini menghadirkan pembicara Hendra Sutianto (CEO dari PT Riforma Cipta Bersama) sebuah perusahaan kontraktor interior yang telah berpengalaman di bidangnya. Hendra dalam webinar tersebut berbagi pengalaman, tips, dan strategi dalam menjalankan bisnis kontraktor interior saat ini.
Berikut adalah beberapa tips penting yang disampaikan Hendra terkait bisnis kontraktor interior di era Milenial dan Gen Z:
Strategi Branding dan Pemasaran
Menurut Hendra, ada dua hal yang paling harus dijaga dalam bisnis kontraktor interior, yaitu trust (kepercayaan) dan competence (kompetensi). Trust adalah modal utama dalam bisnis ini karena klien membayar jasa kontraktor interior untuk mendapatkan ketenangan bahwa uangnya bisa berubah menjadi sesuatu yang sesuai dengan harapannya. Untuk membangun trust, kita sebagai pebisnis harus jujur, terbuka, dan transparan kepada klien.
Selanjutnya competence adalah kemampuan kita untuk mengerjakan proyek dengan baik dan profesional. Competence ini bisa ditingkatkan dengan belajar terus-menerus tentang teknis, material, tren, dan inovasi di bidang desain interior. Selain itu competence juga bisa ditunjukkan dengan portofolio hasil kerja kita yang berkualitas.
Hendra juga menekankan pentingnya word of mouth (WOM) atau rekomendasi dari mulut ke mulut sebagai strategi pemasaran yang efektif. WOM bisa didapatkan dengan memberikan pelayanan yang baik kepada klien sehingga mereka puas dan mau merekomendasikan kita kepada orang lain. WOM juga bisa didapatkan dengan membangun networking dan kerjasama dengan desainer-desainer interior lainnya.
Terkait penggunaan sosial media dalam bisnis kontraktor interior, Hendra mengatakan bahwa kita bisa memanfaatkan sosial media seperti Instagram untuk mempromosikan bisnis kita, namun kita harus menyesuaikan dengan pasar yang kita masuki. Hendra sendiri melalui Riforma Interior mengucapkan bahwa mereka tidak terlalu aktif di Instagram karena bisnisnya sudah tidak bermain di pasar kecil lagi, sehingga leads yang didapatkan dari Instagram tidak relevan. Pak Hendra lebih fokus pada pasar high-end yang lebih mengandalkan trust dan competence.
Preferensi Generasi Muda
Hendra juga membahas tentang preferensi generasi muda dalam hal desain interior. Ia mengatakan bahwa generasi muda, khususnya Milenial dan Gen Z, cenderung menginginkan desain interior yang instagrammable, yaitu yang bisa membuat orang ingin berfoto di dalamnya sekaligus menjadi sarana promosi ketika diupload di Instagram. Hal ini menjadi peluang bagi bisnis kontraktor interior untuk menawarkan desain yang menarik, unik, dan up to date dengan material terbaru.
Namun, Hendra juga memberikan tips untuk menyesuaikan desain dengan budget klien. Ia mengatakan bahwa jika klien adalah generasi muda yang masih memiliki budget terbatas, kita bisa memberikan saran untuk menggunakan material yang lebih murah namun tetap bagus. Namun, jika klien adalah generasi muda yang sudah memiliki budget besar, kita tidak boleh menyarankan untuk menggunakan material yang lebih murah karena itu akan merendahkan klien. Hendra menyarankan untuk memberikan material yang mahal dan biarkan klien yang memutuskan apakah mau downgrade atau tidak.
Teknologi dan Sosial Media dalam Bisnis
Hendra juga menyampaikan pandangannya tentang pengaruh teknologi dan sosial media dalam bisnis kontraktor interior. Ia mengakui bahwa teknologi dan sosial media membawa dampak positif dan negatif bagi bisnis ini. Dampak positifnya adalah kita bisa mendapatkan informasi, inspirasi, dan referensi lebih mudah dan cepat dari internet. Kita juga bisa memanfaatkan teknologi seperti AI untuk membantu kita dalam melakukan riset dan desain.
Namun, dampak negatifnya adalah keterbukaan informasi juga membuat klien menjadi lebih pintar dan tahu harga pasaran. Hal ini membuat kita harus lebih bijak dalam menentukan harga jasa kita. Hendra menyarankan agar kita tidak perang harga dengan kompetitor, tetapi jual ketenangan dan expertise kita kepada klien. Hendra juga mengatakan bahwa teknologi AI (Artificial Intelligence) tidak bisa menggantikan taste orang, sehingga kita tidak perlu merasa terancam oleh AI.
Tantangan dalam Bisnis Kontraktor Interior
Selanjutnya, Hendra mengungkapkan tantangan-tantangan yang dihadapi dalam bisnis kontraktor interior. Ia mengatakan bahwa tantangannya cukup besar selain skill dan kompetensi, namun mendewasakan dirinya sebagai pebisnis. Beberapa tantangan yang ia sebutkan antara lain:
Mengenali Tim
Sebagai kontraktor interior, perlu bagi kita untuk bisa memilih tim yang tepat untuk mengerjakan proyek, memberikan arahan yang jelas, dan mengawasi kualitas kerja mereka.
Mengatur keuangan (cash flow management)
Kita juga harus bisa mengelola arus kas dengan baik, misal ketika mendapatkan DP dari klien, kita coba fokus untuk pembayaran kepada pihak-pihak terkait sehingga kewajiban kita sudah terpenuhi dahulu. Karena jika kita tidak bisa memanage keuangan dengan baik, maka bisa menutup peluang baru kita.
Redaktur : Puri
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.