Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!
Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!

Senin, 08 April 2019 – 15:48 WIB

Iklan Politik Luar Ruang, Bermanfaat atau Sampah Visual?

Kota Jakarta benar-benar jadi kota sampah visual. Sejak awal tahun 2019, penuh reklame atau iklan luar ruang politik. Hampir setiap pertigaan, perempatan hingga sisi kiri-kanan jalanan, dari jalan negara, jalan provinsi, jalan kota, jalan kelurahan, hingga gang-gang sempit ada reklame politik. Penempelan dan pemancangan tiang reklame juga tidak beraturan. Sesukanya! Bahkan saling melindas. Ada yang menonjol, ada yang dipepet, ditutup/dihalangi. Terjadi perang reklame. Jadi ada reklame yang menonjol sendiri. Repotnya lagi ada reklame yang menempel di tiang-tiang listrik dan tiang telepon dan lainnya. Ada juga ditempel di pohon, bukan diikat tetapi dipaku. Tak bisa disangkal, kota Jakarta menjadi semrawut apalagi mendekat tanggal 17 April. Kondisi kota nan semrawut dengan sampah visual semacam ini dipastikan terjadi hingga tanggal 13 April atau menjelang minggu tenang, 14 April. Kondisi semrawut ini juga sebenarnya tak perlu terjadi andai saja para pelaku/politisi/tim sukses mematuhi aturan. Ya sebab aturan reklame di kota Jakarta misalnya, sudah diatur dalam Peraturan KPU (PKPU), Peraturan Baswaslu, UU Pemilu termasuk Pergub terkait reklame. Di Jakarta misalnya, sudah ada ketentuan titik-titik dan lokasi mana saja yang boleh dipasang reklame. Gubernur, walikota, aparat Satpol PP, pihak kelurahan, pihak RT/RW dan lainnya seperti menutup mata. Antara dibiarkan atau ditertibkan.Pihak KPU dan Ba/Pan-waslu tahu betul dengan kesemrawutan, tetapi apa daya. Banyak warga masyarakat justru membenarkan kesemrawutan semacam itu. Mereka mengatakan, "Yah ini kan cuma sementara. Kita juga bisa tau wajah dan program kerjanya. Kalau tidak begitu, bagaimana kita tau," ungkap seorang warga di Jakarta Selatan. selengkapnya : www.reqnews.com

Penulis: REQtv