Wahai Para Pemimpin, Mari Mengenal Kepemimpinan 8 Batara

Jumat, 22 Maret 2019 – 19:00 WIB

Foto : REQnews/Haikal

Foto : REQnews/Haikal

DATA BUKU

Judul : Ajaran Kepemimpinan Asthabrata, Kadipaten Pakualaman

Penulis : K.G.P.A.A. Paku Alam X

Editor : S.R. Saktimulyo dan Sudibyo

Penerjemah : Christopher Allen Woodrich MA

Penerbit : Perpustakaan Pura Pakualaman Yogyakarta, 2017

----------------------------------------------------------------------------------------

Dahulu, pemimpin seperti raja, sultan, ratu/permaisuri, pengeran dan lainnya adalah segalanya. Pemimpin dipersonifikasi sebagai wakil Tuhan bahkan disebut dewa-dewi dan karena itu sering dikultuskan. Pemimpin juga pada umumnya memiliki kharisma atau kemampuan lebih. Ia agung, harus dihormati bahkan disembah. Apa kata pemimpin, maka kata-katanya harus dijalankan. Hitam kata pemimpin maka hitam juga kata pengikutnya. Putih kata pemimpin, maka putih juga kata pengikutnya.

Warisan kepemimpinan semacam itu masih ada di jaman modern saat ini tetapi hanya dalam ruang lingkup yang terbatas seperti negara dan daerah yang menganut sistem monarki atau kerajaan. Dalam ruang lingkup negara, Indonesia memang tidak menganut sistem monarki atau kerajaan, akan tetapi sejumlah daerah seperti Yogyakarta, Solo dan lainnya, masih eksis sekaligus masih menganut dan mempertahankannya. Walau sudah mulai luntur, dilunturkan oleh zaman now, toh nilai-nilai kepemimpinan masa lalu itu masih cukup kental.

Banyak ahli dan para pemimpin apalagi para pemimpin yang lahir dari budaya demokrasi menganggap bahwa gaya dan kepemimpinan masa lalu sebagaimana dibeberkan di atas, sudah tidak relevan lagi dengan masa kini. Kemimpinan di masa kini lebih bersifat terbuka, komunikatif, tidak hanya bersifat linear, top down tetapi harus buttom-up, pemimpin harus lebih sering mendengar daripada didengar, pemimpin juga harus melayani bukan dilayani. Pemimpin bisa dilawan, diabaikan, tidak didengar, dicuekin bahkan bisa dilengserkan jika sang pemimpin tidak becus memimpin.

Lalu kemudian muncul pertanyaan, apakah gaya dan nilai-nilai kepemimpinan masa lalu itu buruk? Apakah harus ditinggalkan, diabaikan? Tentu saja tidak demikian! Sesungguhnya ada banyak nilai kepemimpinan masa lalu yang masih relevan dengan masa kini, yang masih perlu diadopsi dan diejawantahkan. Keutamaan seperti keadilan, kewibawaan, kebijaksanaan (kearifan), ketegasan, kharismatis dan lannya yang telah ada sejak masa lalu, masih sangat relevan bahkan sangat dibutuhkan dalam kepemimpinan masa kini dan sepanjang masa.

Buku “Ajaran Kepemimpinan Asthabrata” yang ditulis oleh KGPAA Paku Alam X, mengulas tentang nilai-nilai ajaran kepemimpinan Asthabrata itu sendiri. Buku ini menurut KGPAA Paku Alam X memaparkan model kepemimpinan Jawa berdasarkan teladan watak para dewa kelompok Lokapala (penjaga alam semesta) yaitu, Batara Indra, Batara Yama, Batara Surya, Batara Candra, Batara Bayu, Batara Wisnu, Batara Brama, Batara Baruna, yang menurutnya dapat digunakan sebagai wahana penyampaian nilai-nilai luhur kepemimpinan yang secara empiris pernah dipraktikkan dalam tata pemerintahan kerajaan-kerajaan Jawa, khususnya Empat Praja Dalem Mataram (Kasultanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran serta Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman).

Dalam Asthabrata versi Pakualaman, pesan disampaikan melalui gambar para dewa dalam wujud yang artistik. Menurut-nya, penyampaian pesan melalui gambar figur para dewa yang sudah dikenal masyarakat secara luas itu akan memudahkan keberimanan amanat. Dengan kata lain, karakter stereotipikal yang dimiliki para dewa tersebut dapat digunakan sebagai wahana pewarisan nilai-nilai kepemimpinan.

Asthabrata mendapatkan sambutan baik dari para pujangga Pakualaman dan hal ini dibuktikan dengan 12 naskah yang memuat ajaran Asthabrata : Baratayuda, Pawukon saha Serat Piwulang, Sestra Ageng Adidarma, Kempalan Serat Piwulang, Sestradisuhul, Piwulang Warna-warni, Slawatan Langen Pradapa, Dasanama Saha Pepali, Kyai Adidamastra, Asthabrata Panca Candra saha Dongeng kancil, Slawatan Melayu, Asthabrata Panca Saha Narpa Candra (Saktimulya, 2015).

Asthabrata, ajaran kepemimpinan dalam serat rana gubahan R.Ng.Yasidapura mensyaratkan bahwa seorang raja ideal harus memiliki delapan karakter utama yang berasal dari delapan dewa lokapala (penjaga alam semesta):

Batara Indra

Dengan identitas kalam bulu angsa yang tertancap pada bola dunia serta renggan berupa mahkota di atasnya, Indra sebagai raja para kawi atau para pujangga tidak henti-hentinya memberikan pemahaman ilmu kepada siapa pun yang dikehendakinya.

Batara Yama

Gambar tungku di atas perapian dengan lidah api sebagai sarana pembakarannya mewakili keberadaan Batara Yama sebagai penegak hukum dan penumpas kejahatan.

Batara Surya

Divisualisasikan dengan renggan “bunga matahari” yang inti bunganya berwarna kuning emas. Gambar ini sekaligus mewakili bentuk dan warna “koin uang emas” kesukaan Batara Surya seperti yang tertera di dalam teks. Melalui renggan “koin uang emas” pembaca diingatkan untuk giat bekerja mengupayakan dan mengelola kekayaan secara benar.

Batara Candra

“Bunga Soma” bunga yang mekar dan harum di malam hari ini mewakili keberadaan Batara Candra yang selalu dirindukan. Ia pemberi kasih dan penghangat cinta. Melalui teks dan renggan ini diperoleh pemahaman perlunya menumbuhkan dan memelihara rasa kasih sayang antarmanusia.

Batara Bayu

Identitas Batara Bayu yang divisualisasi dengan renggan gada Lukitasari, kelat bahu Candrakirana, sumping pudhak sategal, sisik porong naga dan kain bermotif poleng ini melambangkan watak tegar, gigih, mantap dan penuh semangat.

Batara Wisnu

Senjata cakra dan trisula serta tempat pembakaran dupa dengan nyala api dana asap dupanya mewakili identitas Wisnu sang pemimpin yang pertapa. Teks dan rerenggan-nya menegaskan bahwa memelihara keutamaan budi dan tawakal merupakan perisai diri agar tidak terjerat gemerlap kehidupan duniawi.

Batara Brama

Identitas Batara Brama yang divisualisasikan dengan gambar pedang, tombak, bandera, umbul-umbul dalam satu wadah, dan lidah api dengan dominasi warna merah ini melambangkan keberanian. Sikap keperwiraan yang tangguh dan gagah berani merupakan bekal untuk menciptakan ketenteraman.

Batara Baruna

Renggan untuk Batara Baruna berupa untaian daun dan sulur ini sepadan dengan renggan “lung jangga milet tranggana" yang dalam naskah Babar Palupyah (h.86) dimaknai sebagai pujangga yang cerdas lagi bijaksana. Ada pun bingkai teks berupa gambar sisik ikan mewakili visualisasi Baruna sebagai dewa laut.


Penyunting buku yakni; S.R. Saktimulya dan Sudibyo, menjelaskan, untuk penulisan buku ini, dipilih teks Asthabrata yang terdapat dalam Sestrhadisuhul karena teks ini mencoba menjelaskan teks Asthrabrata di antara ajaran para nabi, wali, raja-raja Mataram dan Pakualam. Oleh karena itu, teksnya lebih lengkap karena merupakan komparasi dari teks korpus piwulang yang sudah ada dan juga dari praktik nyata penyelenggaraan pemerintahan.

Teks Sestradisuhul juga disebut berasal dari periode yang lebih awal jika dibandingkan dengan teks lainnya karena diawali pengubahannya pada sabtu 11 syakbhan 1775 (24 Juli 1847) berdasarkan prakarsa Paku Alam II (1829-1858). Para penggubahnya adalah Arjawinata yang bertindak sebagai pembaca, Jayengminarsa sebagai penulis dan Jayadin sebagai penanggung jawab hingga menjadikan teks tersebut sebagai teks artistis.

Meskipun tidak sepenuhnya berbeda dengan susunan para dewa Lokapala, dalam Asthabrata versi Pakualaman, posisi kuwera digantikan oleh Wisnu. Dengan demikian, karakter raja yang diidealkan adalah bijak bestari, adil dan tegas dalam menegakkan hukum, cermat dalam urusan keuangan serta memiliki kemahiran bersiasat, bersahaja dan mampu mengayomi.

Baik Asthabrata Yasadipuran maupun Pakualaman, keduanya menjelaskan sifat-sifat yang harus dipenuhi oleh penyelenggaraan pemerintahan, yaitu bijaksana, berani, adil, cerdas dan tegas dalam menegakan hukum. Pujangga Pakualaman menambahkan sifat lain yang dianggap penting, yaitu cermat dalam urusan keuangan, memiliki pesona dan kepribadian yang kuat, bersahaja serta petapa. Kombinasi ini menjadikan konsep kepemimpinan model Pakualaman lebih lengkap karena di samping mensyaratkan keunggulan duniawi, juga menekankan kecerdasan rohani. Perpaduan ini menjadikan idealisasi kepemimpinan model Pakualaman lebih rumit.

Kita patut mengacungi jempol buat Pakualaman termasuk penulis buku ini, KGPAA Paku Alam X dan tim pendukungnya, yang apresiatif dan konsisten terhadap pemeliharaan sastra Jawa kuno, budaya masa lalu, yang harus diwariskan kepada generasi masa kini (milenial) dan masa mendatang. Generasi kepemimpinan masa kini dan nanti masih sangat membutuhkan warisan budaya dan nila-nilai luhur kepemimpinan masa lalu yang selalu relevan dan kontekstual.

Para pembaca pada umumnya terutama para pemimpin dan calon pemimpin, kiranya wajib membaca buku ini. Ya setidaknya kita mengenal delapan karakter utama delapan dewa lokapala (penjaga alam semesta).(*/Bos)