The Madness of God, Surat Gugatan Terkelam Iblis untuk Tuhan

Kamis, 16 Januari 2020 – 15:00 WIB

Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA, REQnews - Iblis adalah satu-satunya makhluk yang paling disalahkan setelah Adam diciptakan. Ia dikambing hitamkan atas dosa pertama yang dilakukan Adam hingga membuat manusia harus hidup di bumi yang hina, terusir dari surga.

Iblis disebut bersalah karena menolak tunduk, bersujud dan mengakui Adam sebagai yang tersempurna dari ciptaan Tuhan.

Kemudian, Iblis menggugat, ia keberatan. Iblis menyampaikan curahan hatinya,dan gugatannya kepada Tuhan yang disembahnya penuh ketaatan lebih dari 700 ribu tahun. Iblis mengkritik Tuhan, kenapa ia disalahkan? 

"Kau bilang Adam berdosa gara-gara hasutanku? Kalau begitu, atas hasutan siapa aku melakukan dosa? Aku sebenarnya melakukan apa yang Dia perintahkan, dan aku sepenuhnya patuh pada keinginan Allah. Mau bagaimana lagi? Tak ada ruang yang luput dari kuasa-Nya. Aku bukanlah tuan bagi keinginanku sendiri.

Aku menyembah Allah selama 700 ribu tahun! Tak ada tempat tersisa di langit dan bumi di mana aku tak menyembah-Nya. Setiap hari aku berkata pada-Nya, “Ya Allah, anak keturunan Adam menolak-Mu, namun Engkau tetap bermurah hati dan meninggikan mereka. Tapi aku, yang mencintai dan memuja-Mu dengan pemujaan yang benar, Engkau buat menjadi hina dan buruk rupa.”

Lihatlah segala penderitaan dan kesengsaraan yang telah ditimpakan-Nya atas dunia ini. Lihatlah betapa Monster itu melakukan semuanya hanya untuk menghibur diri! Jika ada yang terlihat murni, dibuat-Nya ternoda! Jika ada yang manis, Dia buat masam! Jika ada yang bernilai, dibuat-Nya jadi sampah! Dia tak lebih dari sekadar Badut dan Pesulap Murahan, Pembohong Gila! Dan kegilaan-Nya masih terus membuatku lebih gila lagi!"

Kisah ini ada pada buku berjudul The Madness of God, yang diterbitkan dalam Bahasa Indonesia dengan judul 'Iblis Menggugat Tuhan'. Narasi kritis ini adalah karangan sufi besar Al Shawni, ratusan tahun lalu.

Shawni mengajak pembacanya berpikir, jika seluruh kuasa ada pada kehendak Tuhan, bagaimana mungkin makhluk yang merupakan ciptaan dapat disalahkan atas dosa-dosa yang telah dilakukan? Bukankah, tak ada celah sedikitpun di luar kehendak Tuhan?

Atas dasar prinsip itulah, Shawni menjadikan kisah dakwaan Iblis kepada Tuhan sebagai inti cerita dalam buku tersebut. Shawni mengajak kita pada satu perspektif berbeda melihat kisah antara Tuhan, Iblis dan penciptaan Adam.

Namun, jika kamu membaca buku ini, haruslah ekstra hati-hati. Jika kamu juga tak kritis membacanya, kamu mungkin berkesimpulan bahwa apa yang disajikan Shawni ini adalah kesesatan dan hal yang tabu untuk dibahas.