Inilah Kecanggihan KRI Dr Soeharso yang Ditugaskan Evakuasi WNI dari Diamond Princess

Jumat, 21 Februari 2020 – 11:00 WIB

KRI Dr Soeharso

KRI Dr Soeharso

JAKARTA, REQnews - Pemerintah RI akan segera mengevakuasi 74 WNI yang berada di kapal pesiar terpapar corona, Diamond Princess. Pasopsatgas Kol Laut (P) Tony Herdianto mengatakan, pemerintah akan menggunakan KRI Dr Soeharso untuk proses evakuasi.

KRI Dr Sooharso adalah kapal perang rumah sakit dengan kelengkapan medis yang tak perlu diragukan lagi. Meski berperan sebagai rumah sakit terapung, sistem persenjataan KRI Dr Soeharso jangan diragukan.

Yuk, simak sederet kecanggihan KRI Dr Soeharso yang akan menjalankan misi kemanusiaan ke Jepang, untuk mengevakuasi 74 WNI dari Diamond Princess.

1. Desain Luas

Kapal yang sebelumnya bernama KRI Tanjung Dalpele (972) ini memiliki panjang 122 meter, lebar 22 meter, dan draft 4,9 meter. Kapal ini berbobot 11.394 ton kosong dan 16.000 ton berisi penuh, dengan geladak yang panjang dan luas, sehingga mampu mengoperasikan dua helikopter sekelas Super Puma.

Selain itu, kapal ini dilengkapi hanggar untuk menampung satu helikopter lagi. Di dalamnya tersedia 1 ruang UGD, 1 ruang ICU, 1 ruang post operasi, 3 ruang bedah, 6 ruang poliklinik, 14 ruang penunjang klinik, dan 2 ruang perawatan dengan kapasitas masing-masing 20 tempat tidur.

2. Keunggulan dan Sistem Persenjataan

KRI Dr Soeharso memiliki kemampuan membawa 75 ABK, 65 staf medis dan dapat menampung hingga 40 pasien rawat inap. Dalam keadaan darurat, kapal ini bisa mengangkut 400 hingga 3.000 penumpang.

Persenjataannya jangan diragukan. Di kapal ini, tersedia dua pucuk meriam Penangkis Serangan Udara Rheinmetall 20mm. Tenaga penggerak kapal ini adalah mesin diesel.

3. Operasi Kemanusiaan

Kapal ini pernah terlibat dalam sejumlah operasi kemanusiaan, seperti bencana tsunami di Aceh tahun 2004, lalu gempa Sumatera Barat tahun 2009, kemudian penanganan kabut asap Kalimantan tahun 2015. KRI ini juga dilepas Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dalam operasi kemanusiaan di Wamena pada 2019 lalu.