Bosan di Rumah? Coba Saja Nonton Film Karya Garin Nugroho

Selasa, 15 September 2020 – 09:03 WIB

Garin Nugroho

Garin Nugroho

JAKARTA, REQnews - Film Kucumbu Tubuh Indahku, karya sutradara Garin Nugroho mengangkat film isu sensitif di kalangan masyarakat tanah air. Bagaimana tidak, kisah ini menyinggung soal orientasi seksual.

Walapun film ini menuai kritikan dari berbagai kalangan, namun ternyata mampu meraih banyak penghargaan beragam di berbagai ajang baik dalam maupun luar negeri. Seperti, penghargaan di Asia-Pasific Film festival (APFF), Piala Citra Festival Film Indonesia, Festival Film Tempo, Venice Independent Film Critic, Festival Des 3 Continents.

Film Kucumbu Tubuh Indahku juga pernah diputar di bioskop di Italia. Selain film Kucumbu Tubuh Indahku, sutradara asal Yogyakarta ini mempunyai sejumlah film yang wajib kalian tonton. Berikut ulasanya.

1. Daun di Atas Bantal (1998)
Walaupun terbilang film jadul. Film berdurasi 77 menit ini menceritakan tentang kehidupan tiga anak jalanan, Kancil, Heru, dan Sugeng, yang tinggal di Yogyakarta tahun 1997. Mereka tinggal bersama Asih (Christine Hakim), ibu asuh bagi ketiga anak ini. Mereka dihadapi dengan kemiskinan yang setiap hari mencekik kehidupan mereka.

Meskipun hidup dalam kemiskinan, mereka ingin lepas dari kemiskinan dan berharap memperoleh pendidikan. Mereka mengemis, menjual ganja, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan jalanan lainnya. Setiap malam, ketiga anak itu selalu berkelahi untuk memperebutkan bantal daun kepunyaan Asih.

2. Puisi Tak Terkubur (2001)
Film yang mengisahkan seorang penyair Ibrahim Kadir, ketika dipenjara tahun 1965, Gayo, Aceh. Ibrahim Kadir dipenjara bersama orang-orang yang dituduh sebagai simpatisan komunis. Selama berada dipenjara, rekan-rekannya tidak pernah kembali dan tidak tahu pergi dibawa kemana. Hari demi hari, jumlah mereka berkurang seiring dieksekusinya para tahanan. Puisi Tak Terkuburkan adalah Kesaksian Ibrahim Kadir, dan diperankan oleh dirinya sendiri atas tragedi kemanusian.

3. Opera Jawa (2006)
Film Opera Jawa, menceritakan kehidupan penuh konflik yang diangkat dari kisah Ramayana. Sepasang suami istri, Setio dan Siti memiliki tembikar tradisional. Mereka bertemu Ludiro. Ia menyukai Siti dan bermaksud menggoda wanita muda itu selagi Setio pergi dalam sebuah perjalanan. Film ini menggabungkan unsur seni drama, tari, busana tradisional Indonesia serta menampilkan juga keindahan panorama Indonesia.

4. Soegija (2012)
Film Soegija berkisah tentang uskup pribumi pertama di Hindia-Belanda, Monsinyur Albertus Soegijapranata SJ, dari sejak ditasbihskan hingga berakhirnya perang kemerdekaan Indonesia (1940–1949). Satu dasawarsa penuh gejolak ini ditandai dengan akhir penjajahan Belanda, masuk dan dimulainya masa pendudukan Jepang, proklamasi kemerdekaan RI, dan kembalinya Belanda yang ingin mengambil kembali Indonesia sehingga memulai perang kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa yang terjadi dituangkan Soegija dalam renungan catatan hariannya, dan juga perannya dalam meringankan beban penderitaan rakyat. Dia mencoba berperan di semua tingkat, baik politik lokal, nasional dan internasional. Atas peran sertanya, Presiden Soekarno memberikan penghargaan dengan gelar Pahlawan Nasional.

5. Nyai (2016)
Film Nyai menggambarkan kehidupan seorang perempuan bersuami Belanda yang sudah tua dan sakit-sakitan. Perempuan ini dipanggil Nyai, yang berarti wanita simpanan. Saat Suaminya yang sedang sakit berulang tahun, Nyai harus menghadapi banyak tamu yang mengunjungi rumahnya, mulai dari akuntan, aktivis politik, pemusik, hingga tokoh agama.

Nyai dengan kegigihannya mempertahankan jati dirinya. Kehidupan Nyai saat mengurus suaminya menjadi sebuah drama kesendirian tentang keberadaannya di dunia dengan hidup yang telah direbut paksa darinya. (Widya)