3 Buku Terlarang, Jika Anda Baca Bisa Auto Ateis

Minggu, 20 Desember 2020 – 17:31 WIB

Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA, REQnews - Pernahkah Anda coba-coba iseng mengoleksi buku yang selama ini dianggap tabu untuk dibaca? Buku yang bisa menyeret Anda ke lubang yang gelap dan menyesatkan, salah satunya menjadi seorang ateis atau tak percaya akan agama dan Tuhan?

Ya, sebenarnya tidak ada salahnya jika hanya untuk menambah referensi. Perlu diketahui, di dunia banyak buku yang berisikan tema-tema ateisme. Narasi-narasi dalam buku ini bisa mengantarkan Anda pada sebuah dilema, yang di titik ekstrem, bisa membuat Anda yakin bahwa agama dan Tuhan hanyalah khayalan belaka.

Jika Anda menghindarinya, tentu tak ada yang salah. Namun, jika penasaran, coba baca tiga buku ini dan siapkan diri Anda sepenuhnya dari guncangan keyakinan.

1. Ateisme Sigmund Freud (Karya Hans Kung)

Hans Kung menggambarkan Freud sebagai seorang pemikir ateistik yang begitu brutal. Ia sampai pada kesimpulan, bahwa simbol, aturan agama dan wujud Tuhan yang diyakini manusia semuanya adalah kegilaan. Ia bahkan menyamakan para pemeluk agama, dengan pasien-pasien neurotisnya di rumah sakit jiwa.

Bagi Freud, agama hanyalah ilusi yang bermuara pada kegilaan. Dalam buku ini, Kung menyajikan logika disika-eksakta ala Freud untuk melawan segala bentuk keyakinan atas Tuhan.

 

2. The God Delusion (Karya Richard Dawkins)

Dawkins menuangkan perlawanannya terhadap kepercayaan akan Tuhan dalam buku garang ini. Ada empat inti pembahasan yang disajikan sang penulis.

Pertama, Ateisme bisa bahagia, tanpa harus beragama dan meyakini Tuhan. Kedua, seleksi alam dan teori ilmiah dipercaya lebih unggul dalam menjawab kehidupan, dibanding teori-teori agama. Ketiga, Dawkins menentang segala bentuk pelabelan agama ketika seorang anak lahir ke dunia. Keempat, ia mengajak semua ateisme untuk merasa bangga sebagai manusia merdeka.

3. Atheism: The Case Against God (Karya George H Smith)

Bagi Smith, kepercayaan pada Tuhan sungguh tidak menunjukkan sisi rasionalitas manusia. Dalam buku ini, Smith menegaskan, ia sama sekali tak menggiring orang untuk menjadi ateis. Namun, untuk mereka yang percaya pada agama dan Tuhan, maka tidak sepantasnya mengaku sebagai makhluk berakal.