Membedah Asal Usul Nama Kampung di Barat Jakarta Lewat Buku Toponimi Jakarta Barat

Senin, 04 Januari 2021 – 00:04 WIB

Cover buku Toponimi Jakarta Barat

Cover buku Toponimi Jakarta Barat

JAKARTA, REQnews - Buka google.com dan ketik ‘asal-usul nama tempat di Jakarta, Anda akan menemukan sedemikian banyak tulisan tentang asal-usul nama tempat (toponimi) di ibu kota, terutama yang sedemikian populer dan memiliki sejarah.

Tulisan itu -- tersedia di blog pribadi dan media online -- bertutur tentang arti kata yang menjadi nama tempat yang tercatat dalam arsip VOC dan Hindia Belanda, dikenal masyarakat, dan menjadi bagian sejarah ibu kota.

Rujukannya bisa apa saja dan dari mana saja, mulai dari buku, wawancara dengan sejarawan atau penutur sejarah Jakarta, dan orang tua penduduk asli yang dianggap mewariskan kisah tentang tempat itu.

Tidak jarang tulisan-tulisan itu tanpa rujukan. Ada yang menggunakan kata ‘dulunya’ dan ‘katanya’ untuk mengalirkan cerita, dengan mengambaikan penjelasan tentang asal kata yang menjadi nama tempat itu. Padahal, jika mengacu pada definisi toponimi, tulisan tentang asal-usul nama tempat tidak sesederhana itu.

Toponimi adalah bagian dari onomastik, atau pengetahuan tentang nama. Onomastik terdiri dari dua cabang, yaitu antroponomi atau pengetahuan riwayat asal-usul nama orang atau yang diorangkan, dan toponimi atau asal-usul nama tempat.

Toponomi, dalam bahasa Inggris ditulis toponym, berasal dari dua kata dalam Bahasa Yunani; topos dan nym. Topos berarti tempat atau permukaan seperti topografi, atau gambaran tentang permukaan suatu tempat di bumi. Nym berasal dari onyma atau onomos, yang berarti nama. Dalam Bahawa Inggris, toponimi sering disebut geographical names atau place name.

Topos memiliki definisinya sendiri, yaitu bagian permukaan bumi di daratan, lautan, dan di bawah laut, yang mudah dikenali sebagai alamat.

Buku ini ditulis dengan menggunakan pendekatan toponomi, dan sejarah pembukaan tanah-tanah partikelir di sekujur Ommelanden atau kawasan luar tembok kota Batavia.

Namun pendekatan toponimi relatif hanya bisa digunakan untuk menelusuri asal-usul nama-nama tempat dengan latar belakang tanah partikelir.

Dalam beberapa kasus, asal-usul nama berasal dari kesalahan, lebih tepatnya kesulitan, etnis tertentu mengeja nama atau kata dalam Bahasa Belanda atau Bahasa Melayu.

Hendrik E Niemeijer memperkirakan sebelum perjanjian damai VOC-Banten, tanah-tanah Ommelanden telah dipetak-petak, dipetakan, dan dijual ke investor.

Sebagian investor, kendati masih dalam suasana perang, berani mengambil risiko dengan membuka lahan menjadi tanah pertanian. Investor lain lebih suka menunggu sampai perang usai, dan membiarkan tanah yang dibeli menjadi lahan tidur.

Selama periode inilah hampir seluruh nama tanah partikelir yang kini menjadi nama kecamatan dan kelurahan muncul. Namun, dalam beberapa peta tanah partikelir koleksi Frederick de Haan, satu nama tanah partikelir terkadang ditulis dengan beberapa versi.

Landmeeter tidak melulu menggunakan kondisi topografi sebuah wilayah untuk memberi nama. Saat memberi nama Kamal untuk tanah partikelir milik Dederik Durven, landmeeter ditengarai mempertimbangkan nama yang sudah dikenal penduduk lokal.
Peta tanah partikelir VOC dan Hindia-Belanda secara konsisten menuliskan satu nama persil, atau bidang tanah. Akibatnya, tidak mudah mencari arti kata yang menjadi nama tanah partikelir.

Penduduk
Tidak sekadar menarasikan asal-usul tempat, dan arti kata yang menjadi nama tempat, buku ini berusaha menampilkan cerita tentang penduduk yang berada di setiap tempat. Ini menjadi penting karena Ommelanden di masa awal kedatangan VOC, dan saat mulai dibuka sebagai tanah partikelir, bukan kawasan banyak penduduk.

Ommelanden West, atau Jakarta Barat saat ini, relatif mulai kedatangan penduduk setelah industri gula menjamur sekujur kawawan luar tembok kota.

Pertanyaannya, siapa penduduk awal kampung-kampung di Jakarta Barat? Edi S Ekajati, dalam Sejarah Kabupaten Tangerang, menulis setelah perjanjian damai VOC-Banten tercapai tanah-tanah partikelir kedatangan mantan prajurit Kesultan Banten yang mencari peruntungan di tanah yang baru dibuka sebagai perkebunan.

Mereka bertani, mengolah lahan yang disediakan landheer atau tuan tanah dan bekerja di bidang tanah yang dikelola langsung para tuan.

Penduduk berikut yang datang ke Ommelanden West adalah orang-orang dari berbagai pedesaan di Jawa Tengah dan Jawa Barat, sedikit budak, dan orang-orang dari berbagai etnis – yang terlibat dalam ekspedisi militer VOC – dan dimukimkan.

Mereka, yang semula terpisah menurut garis etnis, berbaur lewat kawin-mawin, melahirkan generasi hasil perkawinan campur yang mengidentifikasi diri sebagai orang Betawi.

Ommelanden, atau kawasan luar tembok Kota Batavia, adalah melting pot. Di sini, di wilayah sedemikian luas, semua etnis dan budaya mencair, berbaur, dan menciptakan generasi masyarakat baru. Ini terjadi di hampir semua tanah partikelir di sekujur Ommelanden West, dan tidak terpengaruh perubahan kepemilikan.

Buku ini, dengan segala keterbatasan dalam riset, adalah sarana melawan lupa penduduk asli Jakarta Barat akan eksistensi kampung dan nenek moyang mereka sebagai bagian sejarah Jakarta.

Terlebih, generasi penduduk asli kampung-kampung di Jakarta Barat relatif tidak mewarisi apa pun tentang sejarah permukiman mereka. Di sisi lain, peninggalan sejarah yang menjadi identitas kampung hilang satu per satu tanpa pernah ada upaya penyelamatan.

Namun, masih ada yang bisa dilakukan pengambil kebijakan untuk mengajak masyarakat mengenang masa lalu kampungnya. Mungkin semua stakeholder bisa duduk bersama membicarakan hal ini. Yang juga tak kalah penting adalah menemukan benchmark, atau rujukan, pembangunan kembali identitas kampung-kampung bersejarah. Perlu diingat, Presiden Soekarno mengatakan jangan sekali-kali melupakan sejarah.