Film Siege of Jadotville, Berkisah Tentang Perjuangan Tentara Irlandia yang Dilupakan

Rabu, 06 Januari 2021 – 04:03 WIB

Film The Siege of Jadotville (Foto: Istimewa)

Film The Siege of Jadotville (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - The Siege of Jadotville, besutan sutradara Richie Smyth itu, dirilis pada tahun 2016. Film tersebut bercerita tentang kisah nyata sebuah pengepungan kontingen pasukan penjaga perdamaian asal Irlandia, di Kongo tahun 1961.

Berkisah tentang angkatan bersenjata Irlandia yang masih baru dan tak miliki pengalaman, ingin menunjukkan kontribusinya kepada dunia. Cara yang mereka tempuh adalah dengan berkontribusi untuk pasukan perdamaian PBB, yang dikirim demi menstabilkan keadaan Kongo.

Negeri yang kaya akan mineral, namun juga menjadi sebuah kutukan. Kekayaan Provinsi Katanga tergolong mineral langka, termasuk uranium. Dalam sejarah, digunakan sebagai sumber bahan pembuatan bom atom untuk menyasar Hiroshima dan Nagasaki.

Katanga kemudian memisahkan diri dari Kongo, yang diumumkan oleh Moishe Tshombe dan partai Conakat. Selain itu, para pengusaha asal Prancis, Inggris, dan Belgia juga turut mendukung demi mengamankan bisnisnya.

Cerita bermula saat kontingen Irlandia, yang dipimpin oleh Commandant Pat Quinlan (Jamie Dornan, Fifty Shades of Grey) dan Kompi A yang dipimpinnya, ditugaskan ke Katanga. 

Sebanyak156 prajurit Irlandia tersebut disambut dingin oleh para penduduk Katanga. Mereka merupakan pendukung para pengusaha dan industrialis Eropa untuk memerdekakan diri dari Kongo.

Namun, keadaan semakin parah. Banyak tentara bayaran yang dipimpin oleh Rene Faulques (Guillaume Canet), dikirim secara diam-diam untuk mengamankan bisnis tambang Prancis di Kongo.

Lokasi markas kontingen PBB yang berlokasi di desa Jadotville tersebut, harus membelah jalanan kasar dan bukit agar sampai di lokasi. Tak banyak rumah berdiri, yang ada hanyalah beberapa rumah dan gudang, sehingga mudah untuk diserang.

Perlengkapan senjata pun jauh drai kata modern, untuk standar Perang Dunia II. Setiap prajurit hanya membawa senapan seperti Lee Enfield, FN FAL, senapan mesin Bren, dan pistol mitraliur Carl Gustav. Tak ada senjata berat, kecuali mortir 60 mm.

Saat itu, PBB memutuskan untuk menggelar operasi Morthor, yang bertujuan untuk membebaskan Elizabethville dari pasukan yang setia kepada Tshombe. Namun, rencana tersebut justru berakhir menjadi pembantaian berdarah.

Tepatnya di stasiun radio Elizabethville, pasukan PBB dari India menggranat dan menembaki loyalis Tshombe yang tak bersenjata dan hanya berlindung di stasiun radio. Para pendukung Tshombe pun tidak tinggal diam. 

Kemudian, mereka mengutus tentara bayaran untuk menyerbu Jadotville. Tepat saat para prajurit sedang menjalankan misa Kudus di hari Minggu di bulan September.

Namun, berkat Bill Ready (Sam Keeley), kontingen Irlandia balik melawan dan bisa memukul balik para tentara bayaran. Para tentara yang awalannya belum bisa apa-apa itu, menjadi cepat beradaptasi dengan kondisi dan menjadi tentara sejati.

Perang terjadi selama berhari-hari. Walaupun kalah jumlah dan amunisi, namun pasukan Irlandia berhasil mengalahkan musuh yang jumlahnya ribuan hanya dengan taktik yang brilian. Tak hanya itu, hujan mortir bahkan serangan udara dari jet Fouga Magister juga mereka hadapi dengan modal nekat.

Berharap mendapatkan bantuan, namun apalah daya. Komandan kontingen Irlandia Jenderal McEntee yang lebih memilih bermain politik dibanding menyelamatkan anak buahnya.

Setelah berjuang sekuat tenaga, pasukan Irlandia baru menyerah ketika banyak yang terluka dan benar-benar sudah kehabisan amunisi dan pembekalan. Ajaibnya, tak ada seorangpun yang gugur dalam pertempuran. Padahal, pihak lawan banyak yang berguguran.

Namun, keberanian atas perlawanan kontingen pasukan perdamaian PBB asal Irlandia tersebut, justru dilupakan di negerinya sendiri. Hanya karena keputusan Commandant Pat Quinlan yang memutuskan menyerah, karena memang sudah tidak ada pilihan lain untuk melakukan perlawanan.

Tak hanya itu, bahkan Pat Quinlan dianggap sebagai pecundang. Kemudian pada tahun 2004, pemerintah Irlandia baru membersihkan namanya dan anggota Kompi A sesudah Kolonel Pat Quinlan meninggal dunia.