Final Account: Dokumentasi tentang Sisa Nazi yang Menyesal dan Tetap Menghormati Hitler

Kamis, 20 Mei 2021 – 09:05 WIB

Foto: easyreadernews.com

Foto: easyreadernews.com

London, REQNews.com -- Bagi Anda yang suka sejarah, terutama tentang Perang Dunia II dan Nazi, Final Account -- film dokumenter karya sutradara Luke Holland -- pasti layak tonton.

Film, dirilis pekan lalu, mengangkat kehidupan prajurit Nazi Jerman yang masih hidup. Sebagian dari mereka hidup normal, dan dalam beberapa kasus tetap bangga dengan partisipasi mereka dalam salah satu masa paling bersejarah.

Sebagai film dokumenter, Final Account dibuat dengan melacak sisa-sisa Nazi yang masih hidup dan memiliki ingatan kuat tentang saat-saat mereka berpartisipasi. Luke Holand membutuhkan sepuluh tahun untuk melacak, mewawancarai mereka selama lebih 500 jam dan merekam subyek lansia dalam film ini.

Sayangnya, Holland -- yang kakek dan neneknya tewas dalam Holocaust -- tidak sempat melihat karya hebatnya dirilis. Ia meninggal Juni 2020, tak lama setelah menyelesaikan filmnya.

Mereka yang diwawancarai Holland terdiri dari petugas medis, perwira SS, dan penjaga kamp konsentrasi. Pemerintah Jerman menganggap mereka fungsionaris, bukan penjahat perang, dan kembali ke komunitas setelah Perang Dunia II selesai.

Mereka hidup normal, menikmati tunjangan pensiun dari pemerintah Jerman. Yang menarik mereka seolah tidak pernah melakukan apa-apa di masa lalu.


Kata Kunci Itu Adalah 'Tidak Ada'

Klaus Kleinau, mantan anggota Waffen SS, menyesali semua yang dilakukannya selama Perang Dunia II. Namun, menurut pengakuannya, tidak ada yang bisa dilakukan selain menaati perintah.

Holland membuka film dari pengakuan Kleinau yang menarik. "Setelah perang, mayoritas dari mereka yang berada di bawah Naziisme akan mengatakan tiga hal ketika ditanya tentang perannya; pertama; saya tidak tahu, kedua; saya tidak ambil bagian, ketiga; jika saya tahu, saya akan bertindak," kata Kleinau.

Menurut Kleinau, kalimat itu disebutkan berulang-ulang setiap kali mereka ditanya oleh siapa pun. Ia percaya ini menjadi khayalan yang tersebar luas.

"Semua orang berusaha menjauhkan diri dari pembantaian di bawah Naziisme, terutama yang terjadi pada tahun-tahun terakhir," kata Klineau. "Itulah mengapa banyak orang berkata; saya bukan seorang Nazi."

Sebagian orang-orang yang diwawancarai memulai partisipasi dengan Nazi saat bergabung dengan Jungvolk, program wajib untuk anak laki-laki berusia 10 sampai 14 tahun. Setelah itu mereka masuk ke organisasi Pemuda Hitler. Wanita masuk ke Liga Gadis Jerman.

Beberapa orang yang diwawancarai Holland masih ingat bagaimana mereka, sebagai anak-anak, senang menghadiri kamp

"Ini kartu keanggotaan Pemuda Hitler saya," kata Hans Werk, yang akhirnya menjadi bagian Waffen SS. "Saya bergabung dengan Jungvolk pada usia 10 tahun, dan menerima ini. Saya bergabung pada 1 Mei 1937. Bahkan sebelum susia saya sepuluh tahun."

Seperti Kleinau, Werk mengungkapkan penyesalan mendalam dan tulus tentang tindakannya di masa perang.

Seorang wanita, nama tidak disebutkan, mengatakan; "Kami tidak mendukung pesta, tapi kami menyukai seragamnya. Kami ikut dengannya, karena kami menikmati, mengenakan seragam, dan melakukan pawai."

Werk mengatakan anak-anak belajar membaca buku alfabet biasa, tapi juga memiliki buku alfabet Yahudi. "Ada karikatur seorang Yahudi untuk setiap huruf," kata Werk.

Salah satu yang diingat Werk adalah toko daging yang sangat berminyak dan kotor. Lainnya, karikatur tentang orang Yahudi berambut panjang kotor mengenakan topi duduk di belakang kasir. Di sebelahnya, seorang gadis Jeman berambut pirang dengan celemek putih. Yahudi itu memegang tangan di tempat yang tidak seharusnya.

Meski banyak subyek menunjukan rasa malu atas peran meeka dalam Holocaust, yang lain tidak memiliki penyesalan sama sekali. Seorang pria anonim, misalnya, masih belum lupa pernah memanggil penjaga dari kamp konsentrasi Bergen-Belsen untuk membawa kembali tahanan Yahudi yang melarikan diri dan bersembunyi di kandang babi pertaniannya.

Saat bercerita tentang kisah itu, pria itu tertawa. Ia seolah menikmati saat-saat itu, dan tidak menyesal.

Karl Hollander, mantan letnan SS yang menyimpan lencana swastika, ditanya apakah masih menghormati Adolf Hitler. Dia menjawab; "Saya masih melakukannya. Idenya benar. Saya tidak sependapat mereka (Yahudi - red) harus dibunuh, tapi diusir ke negara lain di mana mereka bisa memerintah sendiri. Itu akan menyelamatkan banyak kesedihan."


Membantah

Kurt Sametreiter dari SS meluruskan satu hal. Menurutnya, Waffen SS tidak ada hubungan dengan perlakuan brutal dan mengertikan terhadap orang Yahudi, pembangkangan, dan kamp konsentrasi.

"Kami adalah tentara garis depan," kata Sametreiter. "Saya tidak menyesal. Saya tidak akan pernah menyesal besama unit itu. Sungguh tidak. Di Waffen SS, Anda bisa mengandalan setiap orang seratus persen. Tidak ada yang bisa salah."

Ketika ditanya apakah enam juta orang terbunuh selama Holocaust, Sametreiter mengatakan; "Itu lelucon."

"Saya tidak percaya. Saya tidak akan mempercayainya," lanjut Sametreiter. "Tidak mungkin. Maaf....!! Yahudi yang mengatakan seperti itu. Saya menyangkalnya. Itu tidak pernah terjadi."