Memahami Penderitaan Palestina dan Beramal Lewat Game Lyla and the Shadow of War

Jumat, 11 Juni 2021 – 19:52 WIB

Foto: adrenaline.com.br

Foto: adrenaline.com.br

New York, REQNews.com -- Rasheed Abu-Eideh, pengembang perangkat lunak Palestina, telah bekerja membangun game selama lebih sepuluh tahun. Kini, dia menggunakan kemampuannya untuk mengumpulkan donasi dan mengajak dunia memahami penderitaan Palestina.

Abu-Eideh mengembangkan game Lyla and the Shadow of War selama dua tahun. Karyanya kini tersedia di platform independen itch.io. Ia berharap mengumpulkan sebanyak mungkin dana untuk mengatasi krisis kemanusiaan berkelanjutan di Palestina.

Lyla and the Shadow of War menceritakan kisah seorang gadis muda Palestina dan keluarganya yang tinggal di Gaza selama perang 2014. Itu kisah nyata, yang mengingatkan perang tujuh pekan dan waktu bermainnya yang 15 menit.

Banyak adegan yang menggambarkan gema peristiwa lebih baru dari serangan bulan lalu terhadap Gaza, ketika pemboman Israel menewaskan 250 warga Palestina, termasuk 66 anak-anak, menghancurkan rumah, sekolah dan rumah sakit.

"Game salah satu media terbaik untuk menampilkan kisah-kisah Palestina," kata Abu Eideh kepada Al Jazeera.

"Ada potensi besar untuk menjangkau jutaan orang. Jika mereka melihat yang terjadi lapangan, dan berinteraksi dengannya, mereka akan datang mendukung," lanjutnya.

Menurut Abu-Eideh, ia tidak hanya perlu mengumpulkan uang untuk Palesetina, tapi juga meningkatkan kesadaran. Palestina membutuhkan orang untuk memahami apa yang terjadi setiap hari.

Marah dengan penindasan suara-suara pro-Palestina di media arus utama, Abu Eideh bertekad menemukan cara mengungkapkan rasa frustrasi dan keluhan warga negaarnya kepada dunia.

"Saya mencoba menerjemahkan perasaan orang Palestina, apa yang mereka alami dalam hidup mereka," katanya. "Melalui Lyla, saya mencoba menempatkan pemain dalam pengalaman itu."

Aslinya, game itu rilis 2016 dan sempat ditolak oleh Apple App Store karena komentar politiknya. Dorongan media sosial yang dihasilkan komunitas game lebih luas meningkatkan kesadaran Abu-Eideh dan proyeknya menghasilkan gelombang dukungan dan pujian kritis tak terduga.

"Situs web dan jurnalis membicarakan game ini, yang membuatnya populer," kata Abu-Eideh.

Awalnya, menampilkan dua lusinan game. Setelah itu dukungan untuk bundel dengan cepat dipasang. Dalam hitungan hari, ratusan pembuat konten dan puluhan ribu kontributor berkumpul di belakang kampanye.

Selain Lyla and the Shadow of War, para donatur menerima akses ke ratusan game, aset, dan soundtrack, semuanya disumbangkan secara gratis oleh pengembang game dan kreator media dari seluruh dunia.

Bundel disusun Alanna Linayre, pendiri dan direktur kreatif Toadhouse Games, sebuah studio game indie yang berbasis di New York dan mengkhususkan diri membuat game dengan tujuan menghilangkan stigma penyakit mental serta promosi perawatan diri.

Sebagai orang yang hidup dengan gangguan stress pasca trauma (PTSD), Linayre terinspirasi betindak setelah menonton video yang diambil warga Palestina selama serangan Gaza terbaru.

"Saya bisa melihat banyak gejala yang sama, yang saya alami saat kecil," kata Linayre kepada Al Jazeera.

Menurut Linayre, bundel game akan menjadi ide bagus untuk membantu dengan cara yang kecil. "Saya tidak berharap itu memiliki jangkauan yang akhirnya dimiliki, tapi saya sangat bersyukur semua ini tumbuh melampaui niat saya," katanya.

Saat ini, donasi yang terkumpul sebanyak 650 ribu dolar AS, atau Rp 9,2 miliar. Padahal, target Abu-Eideh hanya 500 ribu dolar AS. Seluruh uang akan disumbangkan ke Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-bangsa untuk digunakan membeli makanan dan perlindungan bagi warga Palestina di Yerusalem, Gaza, dan Tepi Barat.

"Saya bererima kasih kepada semua orang," kata Abu-Eideh. "