Spesifikasi dan Harga Pesawat Kepresidenan yang Baru di Cat Ulang dengan Biaya 2 Miliar

Selasa, 03 Agustus 2021 – 17:32 WIB

Penampakan pesawat Kepresidenan Republik Indonesia-1 yang baru di cat merah putih (kiri), Pesawat Kepresidenan berwarna biru langit (kanan)

Penampakan pesawat Kepresidenan Republik Indonesia-1 yang baru di cat merah putih (kiri), Pesawat Kepresidenan berwarna biru langit (kanan)

JAKARTA, REQnews - Kini warna cat pesawat Kepresidenan Republik Indonesia-1 yang biasa kita lihat berwarna biru langit telah berubah menjadi warna merah putih. Biaya pengecetan yang ditaksir miliaran rupiah itu juga panen kritik. Namun banyak pula pihak yang penasaran spesifikasi pesawat tersebut.

Pesawat kepresidenan jenis Boeing Business Jet (BBJ) 2 yang berasal dari tipe 737-800 itu dipesan tahun 2011. Namun baru digunakan sebagai pesawat kepresidenan Indonesia mulai tahun 2014 atau tahun terakhir era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dikumpulkan dari berbagai sumber, pesawat ini memiliki dua mesin berjenis turbofan CFM56-7, dengan kecepatan jelajah maksimum mencapai 0,785 Mach. Itu setara dengan 969,3 km/jam.

Soal ukuran, Pesawat Boeing 737-800 BBJ-2 ini memiliki panjang 39,5 meter, rentang sayap 35,8 meter, tinggi ekor 12,5 meter. Interior pesawat Kepresidenan Republik Indonesia memiliki panjang 29,97 meter, tinggi 2,16 meter dan lebar 3,53 meter. BJ tipe 737 berbadan kecil (narrow body) dan bisa terbang non-stop 6-7 jam.

Pesawat tersebut mampu terbang hingga ketinggian maksimum 41.000 kaki, dengan daya jelajah 10.000 km dengan daya tampung bahan bakar 35.539 liter yang ditampung dalam enam tangki bahan bakar.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden pertama yang menggunakan pesawat ini untuk tugas kenegaraan. Pada tanggal 5 Mei 2014 presiden berkunjung ke Denpasar, Bali untuk menghadiri konferensi regional Open Government Partnership (OGP) Asia-Pasifik.

Presiden Joko Widodo terbang perdana menggunakan pesawat ini setelah dilantik menjadi presiden pada tanggal 29 Oktober 2014. Presiden terbang ke Sinabung untuk bertemu dengan para korban bencana erupsi Gunung Sinabung. Pada kesempatan ini, presiden didampingi oleh Ibu Negara Iriana, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dan putrinya Kahiyang Ayu.

Fasilitas yang ada di dalam kabin pesawat juga terbilang lengkap. Terdapat kamar tidur, toilet dengan pancuran, ruang konferensi, ruang makan dan ruang tamu.

Dengan kokpit dua tempat duduk bagi dua awak, enam monitor penerbangan, dual GPS Build-in, TCAS, GPWS dan Sistem panduan penerbangan Flight Dynamics. Pada kabin depan, terdapat kamar dengan tempat tidur besar, ruang tamu, ruang istirahat kru, kamar mandi.

Fitur keamanan pesawat kepresidenan ini antara lain memiliki perangkat anti serangan rudal. Pesawat ini memiliki sensor yang dapat mendeteksi panas. Jika ada benda asing atau rudal yang mendekati pesawat, maka pesawat ini dapat mendeteksinya dan menghindar.

Dikatakan Boeing Bussiness Jet 2 (BBJ2), saat itu dibeli oleh Indonesia dengan harga USD 91,2 juta atau sekitar Rp 820 miliar, dengan perincian USD 58,6 juta untuk badan pesawat, USD 27 juta untuk interior kabin, USD 4,5 juta untuk sistem keamanan, dan USD 1,1 juta untuk biaya administrasi.

Pengecatan Pesawat BBJ2 tersebut menuai kontroversi. Menurut pemerhati penerbangan Alvin Lie, pengecatan pesawat di tengah situasi pandemi Covid-19 bukanlah merupakan kebutuhan mendesak untuk dilakukan.

"Hari gini masih aja foya-foya ubah warna pswt Kepresidenan Biaya cat ulang pswt setara B737-800 berkisar antara USD100ribu sd 150 ribu Sekitar Rp.1,4M sd R.2.1M @KemensetnegRI @setkabgoid @jokowi," tulis Alvin lewat akun @alvienlie21, Senin 2 Agustus 2021.  

Apalagi katanya usia pesawat itu baru 7 tahun dan masih relatif jarang dipakai.

"Perawatan bagus, penampilan juga masih layak. Tidak ada urgensi dicat ulang atau ubah warna,"kata Alvin Lie. 

Kabar biaya pengecatan yang memakan biaya sekitar Rp 2 miliar itu juga dibenarkan oleh sumber di Istana.

"Iya, plus minus segitu ( Rp2 miliar )," kata sumber Istana kepada wartawan, Selasa 3 Agustus 2021.

Kata mantan anggota Ombudsman RI (ORI) ini, seharusnya, anggaran negara lebih difokuskan untuk penanggulangan pandemi COVID-19 yang masih mengganas.

"Ingat, tunjangan dan insentif ASN dan anggaran berbagai Lembaga dan Kementerian dipangkas untuk refocusing anggaran," ucapnya.

Namun, menurut Kepala Sekretariat Presiden, Heru Budi Hartono rencana pengecatan pesawat jenis Boeing 737-8U3 (BBJ2) itu sudah dicanangkan sejak tahun 2019 dan dicat di dalam negeri.

"Pengecatan Pesawat BBJ2 sudah direncanakan sejak tahun 2019, terkait dengan perayaan HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia di tahun 2020," kata Heru kepada wartawan Istana, Selasa 3 Agustus 2021.

Dia mengatakan proses pengecatan merupakan pekerjaan satu paket dengan Heli Super Puma dan Pesawat RJ.

Namun, Heru menyebut, pengecatan ulang BBJ2 baru bisa dilakukan tahun ini karena menyesuaikan interval waktu perawatan rutin yang sudah ditetapkan.

"Perawatan rutin Pesawat BBJ 2 jatuh pada tahun 2021 merupakan perawatan Check C sesuai rekomendasi pabrik, maka tahun ini dilaksanakan perawatan sekaligus pengecatan yang bernuansa Merah Putih sebagaimana telah direncanakan sebelumnya," katanya.