Novel Menunda Kekalahan: Kisah Napi dan Kejanggalan di Balik Vonis Hukuman Mati

Kamis, 02 September 2021 – 11:53 WIB

Buku berjudul Menunda Kekalahan, Todung Mulya Lubis (Foto: Dok/ REQ)

Buku berjudul Menunda Kekalahan, Todung Mulya Lubis (Foto: Dok/ REQ)

JAKARTA, REQnews - Buku berjudul 'Menunda Kekalahan' resmi dirilis pada Rabu 11 Agustus 2021. Bagi kalian pecinta novel hukum dan tertarik membacanya bisa mendapatkan di berbagai toko buku di Indonesia. 

Penerbit Gramedia Pustaka Utama resmi merilis novel terbaru berjudul Menunda Kekalahan pada Rabu 11 Agustus 2021. Novel bertema hukum ini ditulis oleh seorang mantan aktivis hak asasi manusia, advokat senior yang juga ahli hukum, Todung Mulya Lubis, yang sudah berkiprah di belantara rimba hukum Indonesia selama berpuluh-puluh tahun. Todung konsisten menyuarakan penolakan akan hukuman mati. Menurutnya praktik tersebut tak ayal hanya sebagai pembalasan kejahatan dengan kejahatan. 

Novel setebal 320 halaman itu terinspirasi dari penanganan kasus Bali Nine di mana dirinya menjadi pembela Myuran Sukumaran dan Andrew Chan, dua terpidana Australia yang dituduh menyelundupkan narkotika, ditangkap, diadili, dihukum mati dan dieksekusi. 

Adapun isu sentral dalam novel ini adalah hak untuk hidup yang dikalahkan oleh sistem pemidanaan yang menolak menghargai hak untuk hidup sebagai hak asasi manusia, menolak filosofi pemidanaan yang bermuara pada rehabilitasi terpidana menjadi manusia yang baik. 

Meskipun novel ini bisa dikatakan serius, namun isu-isu hukum yang disajikan terasa lebih hidup karena berbicara tentang sesuatu yang berharga dalam kehidupan manusia yaitu kehidupan itu sendiri.

Penyuka novel-novel hukum karya John Grisham itu berusaha menyampaikan pesan secara tersirat agar Indonesia meninggalkan praktik hukuman mati. Di banyak negara maju, kata Todung, praktik hukuman tersebut sudah lama ditinggalkan. Tinggal negara-negara di Timur Tengah dan sebagian Asia yang melaksanakannya, termasuk Indonesia.

Novel ini ditulis Todung sebagai refleksi atas pengalaman dirinya memperjuangkan penghapusan hukuman mati selama ini. 

Novel ini berkisah tentang potret penegakan hukum di Indonesia. Manusia bisanya berusaha, menempuh upaya hukum yang bisa dilakukan. Namun, pada akhirnya, siapa yang akan menang? Manusia miskin, yang tak berdaya atau kekuasaan dan kezaliman?

Kisah dibuka dengan dua pemuda ditangkap karena membawa heroin dalam perjalanan pulang meninggalkan Bali menuju Australia. Bersama tujuh pemuda lainnya mereka diadili di Denpasar. Kedua pemuda itu dijatuhi pidana mati oleh Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, dan kemudian dikukuhkan oleh Mahkamah Agung.

Topan Luhur, pengacara ternama yang biasanya menangani sengketa bisnis perusahaan, diminta Pemerintah Australia untuk menangani perkara itu pada upaya hukum yang masih terbuka pada tahapan berikutnya yang tersisa. Dia diminta juga karena dia dikenal sebagai aktivis hak asasi manusia yang pernah menolak hukuman mati.

Inilah yang kemudian membuat Topan bimbang dan menghadapi dilema. Dia mengharamkan narkoba karena tahu bahaya narkoba sebagai musuh nomor wahid di Indonesia, tetapi dia juga sadar bahwa hak untuk hidup bersifat absolut, tak bisa dilanggar. Hukuman berat harus dijatuhkan tetapi tanpa mencabut hak untuk hidup. Hampir sebulan dia baru bisa memutuskan. Selama sekitar delapan tahun Topan bergumul dalam kasus itu dengan segala dinamika proses hukum di lapangan yang tanpa kepastian.

Tema berlatar hukum yang masih sangat jarang diangkat ini sangat menarik untuk dibaca karena diramu dengan formula yang ciamik. Meskipun mengangkat tema yang serius namun novel ini ringan dibaca, konflik-konflik yang berterbaran membuat ingin membaca lagi, dan lagi. 

Pada akhir novel, hati kita akan terasa sesak dan berkecamuk melihat potret hukum itu sendiri. Kekuasaan lebih berkuasa. Hukum hanya hadir sebagai pembenar. Namun, perjuangan tidak akan pernah berakhir.

Gimana? Tertarik untuk membaca? Buku ini sangat layak untuk masuk dalam wish list, kamu lho!