Novel untuk Novel Baswedan

Senin, 31 Desember 2018 – 11:30 WIB

Foto REQnews

Foto REQnews

Oleh : Agus Dwi Prasetyo

(Wartawan Jawa Pos, Penulis Buku Teror Mata Abdi Astina)

------------------------------------------------------------------------------------

Judul : Teror Mata Abdi Astina

Editor : Agus Budiawan, Kafidlul Ulum

Desain : Gani Ramdani

Penerbit : REQbook, September 2018

Jumlah Halaman : 208 halaman

----------------------------------------------------------------------------------

"Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena bila jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran.”

Kata-kata sastrawan Seno Gumira Ajidarma itu ibarat cambuk bagi saya. Hampir setiap hari, seiring kasus penyiraman air keras penyidik KPK Novel Baswedan belum terungkap, saya merasakan nyeri begitu dalam di bagian leher belakang. Semakin lama, rasa nyeri itu kian menggumpal. Saya berpikir rasanya ada yang salah dengan diri saya.

Dalam kondisi semacam itu, saya kembali teringat pesan Seno : fakta-fakta bisa diembargo, dimanipulasi, atau ditutup dengan tinta hitam, tapi kebenaran muncul dengan sendirinya seperti kenyataan. Kata-kata itu terus melecut batin saya. Hingga akhirnya inisiatif itu pun muncul ; menulis sebebas-bebasnya.

Di bahasa psikologi, keinginan saya menulis untuk melenyapkan rasa nyeri berkepanjangan semacam itu dikenal dengan istilah katarsis. Dengan menulis, saya merasa lega. Saya bisa mengurangi ketegangan pikiran lewat tulisan.

Lalu kenapa Novel Baswedan? Sejak kasus penganiayaan Novel terjadi 11 April 2017, kegelisahan selalu menyelimuti pikiran saya. Itu karena sampai detik ini, kasus itu belum terungkap. Sepertinya, hal sama juga dirasakan orang-orang terdekat Novel ; keluarga, wadah pegawai (WP) KPK hingga rekan-rekan dari berbagai elemen.

Novel Baswedan memang telah menginspirasi banyak orang. Tidak terkecuali saya yang sejak 2017 awal "mangkal" di KPK. Dukungan publik agar kasus Novel segera diungkap tak pernah padam. Makin ke sini, dukungan itu semakin kuat dan padat. Publik semakin yakin bahwa Novel adalah korban penganiayaan yang didalangi “orang kuat.”


Lewat buku Teror Mata Abdi Astina, saya mencoba merangkai peristiwa imajiner tentang pelemahan lembaga antikorupsi nasional (LAKON). Teror terhadap salah seorang penyidik LAKON bernama Sindu bagian dari pelemahan itu. Konstelasi peristiwa teror dan pelemahan LAKON menjadi poin utama cerita dalam buku ini.

Saya merangkai puzzle-puzzle di balik peristiwa penganiayaan Sindu dengan pelemahan LAKON yang sistematis. Ada misi besar dalam teror air keras Sindu. Yaitu menguasai dan mengendalikan LAKON untuk kepentingan kelompok tertentu yang terafiliasi dengan penguasa Republik Astina.

Sebagai manusia, Sindu memang bisa dimatikan. Tapi, strategi untuk membunuh Sindu, gagal total. Sebaliknya, dia kembali dengan kekuatan berlipat. Wadah abdi LAKON murka. Mereka “menggugat” perdana menteri dengan berbagai cara. Upaya itu dilakukan agar perdana menteri membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).

Sekilas, cerita dalam buku ini mirip dengan apa yang terjadi di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat ini. Ketika saya didesak untuk mengakui kemiripan itu, saya kembali teringat dengan kata-kata Seno : jurnalisme terikat dengan seribu satu kendala, dari bisnis sampai politik, untuk menghadirkan dirinya, tapi kendala sastra hanyalah kejujurannya sendiri.

Lewat novel ini, saya ingin menyampaikan pesan bahwa rasa kemanusiaan itu akan muncul pada setiap diri manusia. Termasuk dalam diri saya. Kisah Novel Baswedan murni kejahatan kemanusiaan. Sebagai manusia, saya ingin melawan kejahatan itu. Secara tekstual. Karena saya tak punya senjata dan pasukan untuk berperang secara fisik. Yang saya miliki hanya akal sehat dan logika berpikir kaum awam.

Lewat perlawanan tekstual, setidaknya saya mendapat dua keuntungan. Pertama, lega karena telah menulis. Kedua, membantu hati-hati yang gelisah karena kesulitan untuk meluruskan marwah pemberantasan korupsi yang sedang bengkok saat ini.

Saya teringat testimoni Prof Djoko Saryono, Guru Besar Sastra Universitas Negeri Malang, yang menyebut novel Teror Mata Abdi Astina menjadi asupan imajinasi positif tentang dunia yang lebih baik yang layak diperjuangkan di tengah kemarau dan defisit imajinasi positif tentang perjuangan melawan korupsi. Secara langsung pesan Prof Djoko membuat saya merasa berguna telah menulis novel itu.

Di bagian akhir, saya ingin mengajak publik untuk bergerak melawan kejahatan kemanusiaan di tengah upaya memberantas korupsi. Saya hanya bisa mempersembahkan novel Teror Mata Abdi Astina untuk Novel Baswedan dan penggemarnya. Semoga publik di luar sana bisa melakukan lebih dari ini. Tentu saja, semua demi peradaban manusia yang lebih baik di masa mendatang.(*)