Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!
Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!
Retiza Evaning Mahadewi, S.H.,  M.H., L.L.M.

Retiza Evaning Mahadewi, S.H., M.H., L.L.M.

Bolehkah Orang yang Sudah Meninggal Dapat Warisan?

  • Assalamualaikum,

    Semoga Allah memberikan nikmat dan karunia-Nya pada kita semua yang berusaha berpegang teguh pada ajaran Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan dan menyelesaikan segala persoalan hidup ini.

    Begini, ayah saya memiliki 2 istri (istri ke 2 dinikahi tanpa sepengetahuan istri pertama dalam hal ini ibu kami). Istri pertama meninggal tahun 2011 menyusul ayah kami meninggal tahun 2012. Setelah ayah meninggal, sebidang tanah milik ayah saya yang diperoleh saat masih hidup ibu kami (istri pertama) dan istri ke 2, laku terjual. Ayah saya menikah dengan istri pertama (ibu kami) dikarunia 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan. Satu anak laki-laki (kakak saya) telah meninggal pada tahun 1990. Ayah saya menikah dengan istri ke 2 dikarunia 1 anak laki-laki. Mohon penjelasan Ibu untuk pembagian warisnya: 

    Pertama, apakah Alm Ibu kami masih mendapatkan bagian sehubungan harta milik ayah saya itu diperoleh saat menikah dengan ibu dan beliau saat itu masih hidup? (Harta Bersama yang belum pernah dibagi).

    Kedua, Apakah alm Kakak laki-laki saya yang sudah meninggal jauh sebelum ibu dan ayah saya meninggal masih berhak atas waris? Kalau memang masih dapat, berapa haknya dan siapa yang berhak menerimanya karena kakak saya masih bujangan saat meninggal.

    Ketiga, Bagaimana perhitungan bagian ahli waris yang masih hidup (yaitu istri ke 2, 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan).

    Demikian pertanyaan saya, terima kasih atas perhatian dan kerja samanya

    Salam dan Hormat

    Ny Anggi Supriadi

    Tebet Timur Dalam,

    Jakarta Selatan



  • Waalaikumsalam,

    Sebelumnya untuk menjawab pertanyaan di atas, perlu saya menjelaskan bahwa hukum waris menurut Prof. Dr. Wirjono Prodjodikoro adalah aturan yang mengatur harta kekayaan serta kedudukannya setelah pewaris meninggal dunia hingga tata cara berpindahnya harta tersebut kepada ahli waris. Aturan-aturan atau hukum waris ini di Indonesia dibagi dalam 3 jenis, yaitu hukum waris perdata, hukum waris adat dan hukum waris Islam. Warga Negara Indonesia (WNI) wajib memilih salah satu hukum yang akan digunakannya dalam permasalahan waris. Dalam hal ini, intrumen atau aturan yang dapat menjadi solusi dalam permasalahan waris di atas adalah hukum waris Islam.

    Pihak-pihak yang berhak atas warisan yang ditinggal pewaris menurut hukum waris Islam adalah anak kandung, ayah dan ibu (orang tua) dan istri atau suami. Selain yang pihak-pihak tersebut, bisa saja warisan dibagikan kepada pihak lain asalkan pewaris telah meninggalkan surat wasiat. Tanpa surat wasiat, maka pembagian warisan harus disesuaikan dengan hukum Islam yang berlaku. Dalam permasalahan waris di atas, Ibu dari penanya berhak atas warisan dari ayah penanya sebesar 1/8 dari warisan, namun jika ibu dari penanya telah wafat maka bagian tersebut tidak perlu lagi dibagi karena warisan hanya dapat dibagi kepada keluarga/ahli waris yang masih hidup. Hal ini juga berlaku untuk anak laki-laki pewaris yang telah wafat. Jika telah wafat dan tidak memiliki anak kandung (cucu pewaris) maka anak laki-laki pewaris tidak mendapatkan bagian. 

    Siapa yang diutamakan pembagian warisan pewaris? Jawabannya, anak kandung pewaris yang masih hidup.Untuk menjawab jumlah pembagian warisan kepada anak-anak kandung yang masih hidup menurut hukum Islam, oleh karena pewaris memiliki 1 anak perempuan dan 2 anak laki-laki (1 anak luar nikah tetap dianggap kandung)maka menurut Hukum Islam anak laki-laki mendapat 2x bagian dari anak perempuan, seperti 2 anak laki-laki masing-masing mendapatkan 2/5 bagian kemudian anak perempuan mendapatkan 1/5 bagian. Pembagian ini merujuk padaPasal 176 Kompilasi Hukum Islam yang mengatakan bahwa:

    “Anak perempuan bila hanya seorang ia mendapat separuh bagian, bila dua orang atau lebih mereka bersama-sama mendapat dua pertiga bagian, dan apabila anak perempuan bersama-sama dengan anak laki-laki, maka bagian anak laki-laki adalah dua berbanding satu dengan anak perempuan.”

    Hal ini dimaksudkan agar anak laki-laki dapat mempergunakan sebaik-baiknya untuk keluarganya kelak, karena anak laki laki memiliki tanggungan terhadap anak dan istrinya sehingga ia dapat mempergunakan harta warisan tersebut untuk menghidupi keluarganya. Berbeda dengan hukum Perdata, di mana bagian untuk anak perempuan dan laki-laki sama besarnya dan tidak ada perbedaan (Pasal 852 KUH Perdata).

    Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.

    Retiza Evaning Mahadewi SH, M.H., L.L.M.



Apakah Anda memiliki Pertanyaan Hukum?