Retiza Evaning Mahadewi, S.H.,  M.H., L.L.M.

Retiza Evaning Mahadewi, S.H., M.H., L.L.M.

Praktisi Hukum REQnews

  • Namaku Airin Sukamawati, ibu rumah tangga. Aku sudah menikah dan punya 2 anak. Namun 1 anak yang kumiliki adalah hasil hubungan gelapku dengan owner perusahaan tempatku bekerja, sebut saja namanya Johannes. Hingga saat ini, suamiku tidak mngetahui bahwa anak ke-2 yang kini sudah berusia 5 tahun bukanlah darah dagingnya.

    Hubungan saya dengan pimpinan tersebut pun masih berlangsung hingga saat ini. Tapi ada satu kekhawatiran yang selalu berputar di kepalaku. Yakni masa depan anak ke-2 saya itu yang nota bene berjenis kelamin perempuan.

    Apakah bisa jika anakku menikah nanti wali nikahnya adalah suami sahku saat ini? Dan apakah jika Johannes meninggal, anakku bisa mendapatkan atau menggugat sebagian hak waris yang ditinggalkan kekasih gelapku tersebut ?

    Demikian pertanyaan saya kepada REQnews. Terima kasih.



  • Ibu Airin,

    Ada beberapa hal yang dapat dijelaskan secara hukum mengenai status anak kedua dari Ibu Airin. Mengenai wali nikah atas anak tersebut ketika menikah tergantung dari aturan agama yang dianut Ibu Airin dan anak tersebut. Namun demikian, anak tersebut memiliki hak untuk mengetahui siapa orang tuanya yang sebenarnya dan kemudian dibesarkan dan diasuh oleh orang tuanya sendiri, dalam hal ini ayah dan ibu biologisnya. Hak atas anak ini dilindungi atau diatur oleh Undang-Undang No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang menyatakan bahwa setiap anak berhak untuk mengetahui siapa orang tuanya, dibesarkan dan diasuh oleh orang tuanya sendiri. Hal ini perlu dipertimbangkan oleh Ibu Airin apabila telah ada hasil pemeriksaan medis yang benar-benar membuktikan bahwa anak kedua Ibu Airin bukan anak biologis dari suami sah Ibu Airin.

    Mengenai hak atas waris dari Bapak Johannes (ayah biologis), sebenarnya anak kedua Ibu Airin memiliki hak atas warisan tersebut sesuai dengan Putusan Mahkamah Konstitusi No:46/PUU-VIII/2010 tanggal 17 Februari 2012 yang memutuskan bahwa Pasal 43 ayat (1) UU No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan patut dibaca :

    “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya.”

    Jadi, anak memiliki hubungan perdata dengan ayah biologisnya jika dapat dibuktikan baik berdasarkan ilmu pengetahuan (hasil pemerksaan medis misalnya) atau secara hukum, yaitu dengan melalui penetapan pengadilan. Dengan demikian, anak tersebut memiliki hak untuk menjadi ahli waris jika ayah biologisnya telah meninggal dan meninggalkan warisan apabila terdapat bukti medis mengenai hubungan darah ayah dan anak.

    Demikian penjelasan saya, terima kasih atas perhatiannya.

    Salam hormat



Apakah Anda memiliki Pertanyaan Hukum?