Retiza Evaning Mahadewi, S.H.,  M.H., L.L.M.

Retiza Evaning Mahadewi, S.H., M.H., L.L.M.

Slogan "Jagonya Ayam"

  • Nama saya Marlene Nathania. Saya merupakan mahasiswa hukum yang baru saja lulus menempuh pendidikan sarjana S1. Saya merupakan orang yang suka memperhatikan merk dan slogan tempat-tempat yang saya kunjungi. Beberapa hari lalu saya mengunjungi restoran Ayam Karawaci yang terletak di Jl. Pesanggrahan, Jakarta Barat, ternyata slogan yang mereka gunakan ialah 'jagonya ayam.' Saya lalu mikir, ‘lho ini bukannya slogan yang sudah ada dari KFC?’ Mohon pencerahan Ibu.

    Marlene Nathania, Jakarta Barat



  • Mbak Marlene,

    Permasalan mengenai merek maupun slogan sering dijumpai dalam persaingan usaha dan semacam ini diatur dalam Undang-undang Merek dan Indikasi Geografis atau dikenal dengan Undang-Undang MIG No. 20 Tahun 2016 (untuk selanjutnya disebut sebagai UU MIG).

    Mengenai permasalahan yang kedua, yaitu boleh atau tidaknya menggunakan slogan yang sama untuk bidang bisnis yang sama, maka, Pertama-tama, kita harus menganalisis apakah slogan tersebut masuk ke dalam kategori merek yang dimaksud oleh Pasal 1 angka (1) UU MIG yang mengatakan bahwa merek adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk 2 dimensi dan/atau 3 dimensi, suara, hologram, atau kombinasi dari 2 atau lebih unsur tersebut untuk membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi oleh orang atau badan hukum dalam kegiatan perdagangan barang dan/atau jasa.

    Berdasarkan definisi yang dinyatakan tersebut, harus terdapat kata yang membedakan, yang memiliki daya pembeda yakni indikator untuk mempermudah mengetahui perbedaan suatu merek. Daya pembeda ini dapat dilihat apakah dalam suatu merek terdapat persamaan pada pokoknya atau keseluruhan dengan merek lain.

    Dalam hal ‘jagonya ayam’ , slogan ini masuk ke dalam kategori yang dimaksud Pasal 1 angka (1) UU MIG karena slogan tersebut memiliki daya pembeda dan dapat dijadikan indikator untuk mengetahui perbedaan merek (dalam hal ini merek KFC). Analisis berikutnya adalah “Apakah KFC memilik hak atas slogan tersebut?” Berdasarkan Pasal 1 angka (5) UU MIG Hak Atas Mereka adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada pemilik merek yang terdaftar untuk jangka waktu tertentu dengan menggunakan sendiri merek tersebut atau memberikan pihak lain untuk menggunakannya. Kalimat terdaftar dalam UU MIG ini menegaskan bahwa perlindungan atas merek atau slogan oleh UU MIG hanya untuk slogan atau merek yang didaftarkan lebih dulu di Ditjen HKI.

    Perlindungan slogan atau merek ini hanya diberikan kepada pihak yang terlebih dulu mendaftarkan slogan atau mereknya, konsep ‘First to File’ ini pula yang memberikan kewenangan kepada Ditjen HKI untuk hanya memperbolehkan slogan atau merek yang memiliki konsep kebaruan atau novelty dari merek lainnya untuk bisa didaftarkan.

    Mengenai persamaan slogan atau merek, diatur pula di Pasal 21 ayat (1) UU MIG dan dipertegas oleh penjelasannya sebagai berikut : persamaan pada pokoknya adalah kemiripan yang disebabkan oleh adanya unsur yang dominan antara merek yang satu dengan merek yang lain sehingga menimbulkan kesan adanya persamaan, baik mengenai bentuk, cara penempatan, cara penulisan atau kombinasi antara unsur maupun persamaan bunyi ucapan, yang terdapat dalam merek tersebut.

    Penentuan persamaan pada pokoknya antara merek yang satu dengan merek yang lain juga dijelaskan pada Yurisprudensi Mahkamah Agung (MA) No. 2541 K/Pdt/1989 dan No. 376 K/Pdt/1989 yang menyatakan, merek-merek bersangkutan harus dipandang secara keseluruhan sebagai satu- kesatuan yang bulat, tanpa mengadakan pemecahan atas bagian dari merek-merek tersebut.

    Mari kita melihat putusan MA perkara No. 022 K/N/HaKI/2002. Dalam kasus ini, MA menyatakan penggugat sebagai pemilik sah atas merek Cornetto dan dalam pertimbangannya, MA menggunakan parameter berupa persamaan visual, persamaan jenis barang dan persamaan konsep.

    Mari kita juga menganalisis kelas kedua merek tersebut di Nice Classification. Kedua merek berada pada kelas yang sama (persamaan jenis barang) yaitu kelas 43 pada Nice Classification atau dikenal dengan kelas usaha jasa untuk menyediakan makanan dan minuman. Sedangkan persamaan konsep dapat dilihat dari persamaan slogan yang digunakan, yaitu sama-sama menggunakan slogan 'jagonya ayam.' Maka kesamaan slogan dalam kasus ini merupakan hal yang dilarang.

    Tindakan hukum yang dapat dilakukan ialah mengajukan gugatan atas pelanggaran merek ke pengadilan niaga sebagaimana diatur pada Pasal 83 UU MIG, yaitu gugatan ganti rugi atau penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan penggunaan merek tersebut.

    Demikian penjelasan saya, semoga bermanfaat!



Apakah Anda memiliki Pertanyaan Hukum?