Retiza Evaning Mahadewi, S.H.,  M.H., L.L.M.

Retiza Evaning Mahadewi, S.H., M.H., L.L.M.

Praktisi Hukum REQnews

  • REQnews YTH,

    Saya Maria Mira Kadarsih, ingin menggugat cerai suami saya yang telah meninggalkan kami tanpa kabar selama lebih dari 10 tahun.

     

    Kami beragama Kristen dan sebenarnya agama kami menolak adanya perceraian, tapi kejelasan status saya menjadi prioritas utama saat ini mengingat kedua anak kami sudah sangat membutuhkan figur seorang Ayah dan kebetulan ada seorang pria lajang berbaik hati dan dengan tulus menginginkan untuk turut merawat anak-anak.

     

    Saya ingin tahu, apakah syarat-syarat untuk mengajukan gugatan perceraian dan apakah bisa tanpa menggunakan pengacara mengingat pasti biayanya sangat mahal. Lalu bagaimana agar suami tahu bahwa saya menggugat cerai dan bagaimana pula agar hak asuh anak tetap berada di tangan saya, mengingat saat ini kami tidak tahu alamat suami dan apakah dia masih hidup atau sudah meninggal.

     

    Demikian atas bantuan REQnews, saya ucapkan terima kasih.

  • Hai Ibu Maria, semoga Ibu selalu diberi kemudahan oleh Tuhan. Sebelum saya masuk ke dalam penjelasan mengenai prosedur dan tata cara mengajukan perceraian, akan lebih baik Ibu Maria mengetahui hukum yang mengatur mengenai perceraian. Pada dasarnya perceraian adalah berakhirnya perkawinan atara suami dan istri yang dapat disebabkan oleh 2 hal sesuai dengan Pasal 38 UU No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan, yaitu :

    1. Kematian, putusnya perkawinan yang disebabkan salah satu pihak (suami/ istri) meninggal dunia.
    2. Diajukannya perceraian
    1. Talak, berdasarkan hukum Islam yang berlaku bagi muslim, adalah ikrar suami dihadapan Pengadilan Agama yang menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan.
    2. Bagi non-muslim, putusnya perkawinan dapat terjadi dari putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap atas gugatan diajukan salah satu pihak (suami atau istri) ke Pengadilan Negeri.

     

    Berdasarkan Pasal 39 UU No.1 Tahun 1974, disebutkan tentang alasan-alasan yang diajukan suami atau istri untuk mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan, yaitu sbb :

    • Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sulit disembuhkan
    • Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturutturut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya
    • Salah satu pihak mendapatkan hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung
    • Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain
    • Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjadalankan kewajibannya sebagai suami istri
    • Antara suami dan aistri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga
    • Suami melanggar Ta’lik Talak (berdasarkan Pasal 110 Inpres No.1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam, berlaku bagi muslim)
    • Peralihan agama yang menyebabkan ketidakrukunan dalam rumah tangga.

     

    Ada pula alasan-alasan yang lain untuk mengajukan perceraian, yaitu:

    • Karena ketidakmampuan suami memberi nafkah, hal ini karena seorang suami berkewajiban untuk mencukupi kebutuhan sandang, pangan, papa, dan kesehatan yang diperlukan bagi kehidupan keluarganya. Jika istri tidak bisa menerima keadaan ini, maka dia bisa meminta kepada suami untuk menceraikannya dengan alasan bahwa istri benar-benar tidak sanggup menerimanya.
    • Karena suami bertindak kasar atau terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), misalnya suka memukul, untuk melindungi kepentingan dan keselamatan istri, atas permintaan yang bersangkutan maka Pengadilan dapat memutuskan pernikahan atas gugatan dari salah satu pihak.
    • Karena kepergian suami dalam waktu yang cukup lama, suami tidak pernah ada dirumah, baik itu kepergian demi mencari ilmu, bisnis atau alasan lain. Jika istri tidak bisa menerima keadaan itu dan merasa sangat dirugikan atas kepergian suaminya, maka Pengadilan dapat menceraikannya.

     

    Lalu, yang kemudian perlu dipahami jika seseorang memutuskan untuk bercerai adalah akibat dari perceraian yang tergambar dalam Pasal 41 UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, disebutkan 3 akibat putusnya perkawinan karena perceraian:

    1. Ibu dan Bapak dari anak-anak yang bercerai tetap berkewajiban untuk memlihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan si anak.
    2. Bapak tetap bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan Pendidikan anaknya tersebut.
    3. Pengadilan dapat mewajibkan kepada mantan sumai untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi mantan istrinya.

     

     

    Kembali ke pertanyaan Ibu Maria, untuk pengajuan perceraian bisa tanpa didampingi pengacara, dokumen yang perlu ibu siapkan untuk persiapan pengajuan gugatan cerai, beberapa diantaranya adalah :

    1. Surat nikah asli
    2. Fotokopi surat nikah
    3. Fotokopi KTP dari penggugat (dalam hal ini istri)
    4. Surat keerangan dari kelurahan
    5. Fotokopi Kartu Keluarga
    6. Fotokopi Akta Kelahiran Anak (jika memiliki anak)
    7. Materai

     

    Kemudian, langkah selanjutnya adalah mendaftara gugatan cerai ke Pengadilan Negeri di wilayah kediaman pihak tergugat (dalam hal ini suami). Surat gugatan harus mencantumkan alasan menggugat cerai seperti yang dijelaskan diatas. Mengenai biaya yang dibutuhkan dalam proses perceraian, biaya yang harus ditanggung oleh yang mengajukan cerai antraa lain adalah biaya pendaftaran, materai, biaya panggilan sidang dll. Saat proses persidangan berjalan, kedua belah pihak akan dipanggil untuk menghadiri persidangan untuk mengikuti mediasi. Mediasi tersebut berfungsi agar kedua belah pihak bisa berdamai dan menarik gugatannya, akan tetapu jika keputusan untuk bercerai sudah bulat maka proses perceraian akan dilanjutkan dengan pembacaan surat gugatan. Mengingat suami dari Ibu Maria tidak jelas dimana keberadaannya, maka kemungkinan yang akan terjadi dalam proses persidangan pihak tergugat (suami) tidak memenuhi panggilan untuk mengikuti sidang karena alamat panggilan ditujukan pada alamat yang tertera di identitas KTP, maka Pengadilan dapat membuat amar putusan yang berisi pemutusan sah antara suami dan istri (verstek) , dengan kata lain proses persidangan akan lebih singkat dari biasanya. Namun, surat gugatan yang diajukan oleh pihak istri tetap akan dapat berjalan lancar apabila berdasar pada alasan yang jelas terkair pengajuan gugatan cerai dengan disertai bukti-bukti dan saksi-saksi, hal-hal tersebut perlu dihadirkan dalam persidangan meskipun pihak tergugat (suami) tidak hadir dalam persidangan.

     

    Salam

Apakah Anda memiliki Pertanyaan Hukum?