Retiza Evaning Mahadewi, S.H.,  M.H., L.L.M.

Retiza Evaning Mahadewi, S.H., M.H., L.L.M.

Praktisi Hukum REQnews

  • Konsultan REQnews yang terhormat,

    Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih karena berkenan membaca dan menanggapi kasus yang saya hadapi saat ini.

    Nama saya Magdalena, umur saya 25 tahun dan berasal dari Banyuwangi. Saat ini saya berada di Hongkong. Saya tidak bekerja disini, saya hanya diajak pacar saya ke Hongkong.  Saya bertemu dengan pacar saya di Bali tahun 2017, kami jatuh cinta (menurut dugaan saya) dan saya mau saja saat diajak ke Hongkong. Setelah saya urus passport, kami langsung berangkat ke Hongkong. Terus terang awalnya memang saya terbujuk oleh rayuan maut dan janjinya untuk menikahi saya.

    Tapi janji tinggal janji, setelah kami hidup bersama di apartemennya selama 1 bulan, tiba-tiba seorang wanita yang mengaku istrinya datang membawa koper besar dari luar negeri dan hingga kini menetap di apartemen yang kami tinggali.

    Parahnya, pacar saya ini memperkenalkan saya sebagai pembantu baru mereka!  Saya hingga saat ini menetap di kamar pembantu mereka serta bekerja sebagai pembantu! Sejak saat itulah perlakuan yang saya terima dari pria yang sediannya saya sayangi menjadi sangat berubah, dia hampir tidak pernah lagi mengajak bicara. Bahkan tak berani menatap mata saya! Istrinyalah yang memberikan perintah kepada saya bila membutuhkan atau menyuruh saya melakukan sesuatu.

    Saya tidak tahu lagi harus bagaimana, memang passport masih saya pegang sendiri dan saya juga mendapatkan “gaji” sebesar HKD 750. Saya tidak tahu apakah gaji saya ini sesuai dengan standar gaji PRT disana atau tidak.

    Mereka memang memberikan kebutuhan dasar saya selama ini seperti sabun mandi, shampoo, sikat gigi hingga baju. Perlakuan mereka juga tidak pernah buruk pada saya, tidak pernah berkata kasar dan tidak pernah memukul.

    Namun saya tetap saja merasa kecewa dan sakit hati, sehingga saya sering menjawab pertanyaan mereka dengan ketus. Yang tidak saya miliki hingga saat ini adalah ijin tinggal dan bekerja di Hongkong, karena itulah saya takut kemana-mana, takut ditangkap polisi dan mencoba bertahan di “neraka” ini.

    Mengapa saya katakan neraka? Karena setiap hari saya harus menjadi saksi kemesraan pria yang saya cintai dengan istrinya! Sekarang hari-hari saya diisi dengan mencuci, memasak dan membereskan apartemen mereka. Entah sampai kapan saya harus menjalani kehidupan seperti ini.

    Menurut Ibu konsultan, apa yang harus saya lakukan hingga saya dapat kembali ke tanah air? Sekali lagi, terima kasih ya Bu? Tuhan memberkati Ibu dan keluarga.

  • Halo Ibu Magdalena, sebelumnya saya harus mendefinisikan status Ibu dimata hukum yang berlaku di Indonesia untuk kemudian dapat menjelaskan perlindungan hukum apa saja yang Ibu sepantasnya peroleh. Berdasarkan UU No.18 Tahun 2017 tentang Perlindangan Pekerja Migran di Indonesia, Ibu termasuk dalam kategori “pekerja migran” atau istilah yang umum digunakan adalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sesuai dengan Pasa 1 ayat (2) yang mengatakan bahwa pekerja migran adalah setiap warga negara Indonesia yang akan, sedang atau telah melakukan pekerjaan dengan menerima upah di luar wilayah Republik Indonesia.

    Meskipun tanpa surat-surat atau administrasi yang jelas, namun Ibu Magdalena bekerja sebagai pembantu di Hongkong dan menerima upah sebesar HKD 750, maka tetap ibu layak mendapatkan perlindungan berdasarkan UU No.18 Tahun 2017. Namun, hal ini perlu pula dipertegas dengan pacar Ibu apakah yang bersangkutan juga mengakui ibu adalah asisten rumah tangganya atau bekerja untuknya?

    Karena jika pacar Ibu tidak mengakui keberadaan Ibu dirumahnya sebagai asisten rumah tangga atau justru hanya menganggap teman yang menginap dirumahnya dan diberikan uang saku sebesar HKD 750, maka hal ini akan menghambat Ibu untuk mendapatkan perlindungan sesuai dengan UU No.18 Tahun 2017, disamping fakta bahwa Ibu tidak memiliki dokumen kerja apapun untuk bekerja dirumah pacar Ibu.

    Oleh karenanya, keputusan Ibu untuk kembali ke Indonesia memang adalah solusi yang terbaik. Lalu kemudian, bagaimana cara untuk kembali ke Indonesia?

    Mengenai kepulangan, hal ini akan berkaitan dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Hongkong yang beralamat di Hong Kong, Causeway Bay, 127-129 Leighton Road; 6-8 Keswick Street Causeway Bay Hong Kong. Namun sebelumnya, perlu Ibu pastikan bahwa paspor Ibu masih berlaku, jika masih berlaku maka Ibu dapat mengajukan pengaduan ke KJRI Hongkong tersebut karena Ibu telah bekerja dengan tidak memiliki dokumen pendukung dan oleh karenanya Ibu ingin dibantu kepulangan ke Indonesia.

    Namun jika, Ibu tidak memegang paspor milik Ibu, maka KJRI Hongkong dapat mengeluarkan SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor) untuk sekali jalan pulang ke Indonesia, berdasarkan Pasal 44 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI No.8 Tahun 2014 tentang Paspor Biasa dan Surat Perjalanan Laksana Paspor.

Apakah Anda memiliki Pertanyaan Hukum?