Faksi Septian Mahargita SH

Faksi Septian Mahargita SH

Praktisi Hukum REQnews

  • Wonogiri, 25 Maret 2020 
    Pengacara www.REQnews.com yang saya hormati, 
     
    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
     
    Perkenalkan nama saya Wuryani asal Wonogiri. Saya baru saja kehilangan suami saya tercinta seminggu yang lalu karena komplikasi penyakit yang telah dideritanya beberapa tahun terakhir. Meninggalnya suami saya tentu membuat dunia saya seakan runtuh. Bagaimana tidak? Sebenarnya tahun ini kami sudah merencanakan untuk mengikuti program bayi tabung.

    Ya, kami memang belum dikarunia keturunan. Entahlah apa sebabnya, karena pemeriksaan dokter yang sering kami lakukan baik di dalam dan luar negeri menyatakan bahwa kami sehat. Maka seharusnya rahim saya siap dibuahi kapan saja. 
     
    Setelah suami pergi ke peristirahatan terakhirnya, saya baru menyadari kehendak Tuhan untuk tidak memberikan buah hati kepada kami agar saya bisa fokus merawat almarhum suami tercinta dimasa akhirnya. 
     
    Kini saya sedang menghadapi permasalahan besar, almarhum suami saya adalah seorang pengusaha besar di kota kami dan tentu saja harta peninggalannya juga tidak sedikit. Hal tersebut telah menjadikan alasan bagi orang tua dan saudara-saudaranya untuk mempertanyakan apa saja yang akan mereka dapat mengingat suami tidak memiliki anak. Memang suami saya bukanlah lahir dari keluarga yang berada. Seluruh kekayaannya didapat karena kerja keras dan keuletannya bekerja.  
     
    Seseorang pernah mengatakan pada saya bahwa orang tua suami takut jika saya menguasai seluruh harta suami dan menghamburkannya seorang diri. Allahuakbar! Sungguh tidak pernah sedikitpun terlintas di benak saya untuk menguasai harta peninggalan suami. Saya saat ini masih sangat berduka.  
     
    Pengacara www.REQnews.com yang saya hormati, Ijinkan saya mendapatkan pencerahan, sebenarnya berapa persen hak orang tua suami atas seluruh harta peninggalannya? Dan kapan waktu terbaik untuk membagi warisan ? 
     
     
    Terima kasih. 
    Wassalamualaykum warahmatullahiwabarakatuh
     

  • Kami turut berduka cita atas meinggalnya suami ibu, semoga ibu diberikan kekuatan dalam menghadapi cobaan ini. Kami akan menjelaskan mengenai pembagian hak waris untuk orang tua suami ibu dan untuk ibu sendiri sesuai hukum islam.

     

    Secara garis besar Hukum Islam membagi 2 (dua) golongan ahli waris. Golongan pertama yaitu Zawil Furud, yaitu ahli waris yang mendapatkan harta warisan berdasarkan bagian tertentu dari harta warisan yang presentasenya telah ditentukan oleh Al-quran dan Hidst. Golongan ini merupakan pihak yang pertama kali mendapatkan harta waris setelah pewaris meninggal dunia.

     

    Golongan ahli waris yang lain selain Zawil Furud disebut dengan istilah Ashabah, yaitu ahli waris yang mendapatkan sisa harta warisan pewaris setelah harta warisan tersebut dibagikan kepada golongan ahli waris pertama atau Zawil Farud. Akan tetapi apabila tidak ada ahli waris yang termasuk dalam golongan Zawil Furud tersebut maka ahli waris yang termasuk golongan Ashabah akan mendapatkan seluruh harta waris yang ditinggalkan oleh Pewaris.

     

    Adapun pembagian waris untuk ibu beserta orang tua suami berdasarkan Buku II Hukum Kewarisan dalam Kompilasi Hukum Islam yaitu sebagai berikut:

    1. Ayah 1/3 bagian dari harta waris;
    2. Ibu 1/3 bagian dari harta waris;
    3. Istri ¼ bagian dari harta waris

     

    Harta yang akan diwaris oleh pewaris dalam hal ini pada prinsipnya adalah harta bawaan ditambah bagian dari harta bersama setelah digunakan untuk keperluan pewaris selama sakit sampai meninggalnya, biaya pengurusan jenazah (tajhiz), pembayaran hutang dan pemberian untuk kerabat.

     

    Pada dasarnya pembagian harta waris dapat dilakukan setelah pengurusan jenazah, pemenuhan wasiat, dan pelunasan hutang si mayat, sehingga para ahli waris baik secara bersama – sama atau perseorangan dapat mengajukan permintaan kepada ahli waris yang lain untuk melakukan pembagian harta warisan. Bila ada diantara ahli waris yang tidak menyetujui permintaan itu, maka yang bersangkutan dapat mengajukan gugatan melalui Pengadilan Agama untuk dilakukan pembagian warisan.

     

    Sekian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

Apakah Anda memiliki Pertanyaan Hukum?