Fakta Konspirasi Pembunuhan Julius Caesar

Minggu, 12 Januari 2020 – 19:30 WIB

Ilustrasi Julius Caesar (Foto: Istimewa)

Ilustrasi Julius Caesar (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Kebangkitan Julius Caesar sebagai konsulat begitu dramatis. Pengalamannya bertahun-tahun di bidang militer membuatnya menjadi orang terkaya di Roma.

Setelah menaklukan Pompey the Great dalam perang saudara yang menegangkan, kekuatannya memuncak. Kemenangan, kecerdasannya dan loyalitasnya seperti pemberian lahan kepada rakyat miskin telah mengambil hati rakyat dan dewan senator mulai mengelu-elukan kebaikan hatinya.

Mulai dari patung, candi sampai nama bulan dinamakan karena namanya, yang sekarang kita kenal dengan bulan Juli berasal dari nama Julius. Pada tahun ke 44 SM, Julius diangkat sebagai diktator perpetuo yaitu merupakan jabatan politik luar biasa yang mempunyai kekuatan penguasaan absolut untuk masa yang tidak terbatas.

Hal ini terntunya memberikan rasa cemas kepada dewan senator terhadap kembalinya sistem monarki maupun mereka yang ingin mendapatkan kekuasaan. Karena alasan ini, munculah kelompok bawah tanah yang dipimpin oleh Gaius Cassius Langinus berisikan anggota dewan yang merencanakan pembunuhan Julius, tak terkecuali Brutus yang merupakan rekan dekat Julius.

Meskipun Brutus berada di pihak Pompey dalam perang saudara, namun Caesar secara pribadi telah menyelamatkan hidupnya. Brutus tidak hanya memaafkannya, juga memberikannya posisi sebagai penasehat pribadi dan menempatkannya pada jabatan-jabatan penting.

Karena hal tersebut, Brutus merasa ragu untuk melawan pria yang memperlakukannya bagaikan anak sendiri. Kendati demikian, bujukan Cassius dan rasa takut Brutus atas ambisi Cassius menang.

Saatnya tiba pada 15 Maret 44 SM, pada sidang dewan yang diadakan tidak lama sebelum kepergian Caesar untuk kampanye militer. Dalam sidang dewan, terdapat sebanyak 60 konspirator yang mengerumuninya, pada saat yang sudah ditentukan, konspirator tersebut mengeluarkan belati dari jubah mereka dan menusuknya dari segala sisi secara membabi buta.

Caesar melawan dengan jerih payah hingga dia melihat Brutus mengambil bagian dalam konspirasi tersebut dan mengucapkan kalimat ‘Et tu, Brute?’ yang berarti ‘kau juga nak (Brutus)?’ yang ditulis oleh Shakespear. Kalimat terakhir Caesar sebenarnya tidak diketahui, bahkan beberapa sumber kuno menyebutkan bahwa Caesar tidak sempat menguckapkan sepatah katapun.

Namun satu hal yang pasti ialah pada saat Caesar melihat Brutus terlibat dalam konspirasi, Caesar memutuskan untuk menutup wajahnya dan tidak melawan hingga kematian menjemputnya.

Ketidak sadaran Brutus dan konspirator lainnya terhadap ketenaran Caesar sebagai pemimpin yang efektif dan jujur, sedangkan anggota dewan dipandang sebagai bangsawan yang korup. Setelah pembunuhan Caesar, Roma dilanda kepanikan dan beberapa dewan memutuskan untuk melarikan diri, beberapa dewan lainnya membarikade diri di Capitoline Hill.

Mark Antony yang merupakan teman serta konsultan Caesar segera turun tangan dan memberikan pidato hebat dalam pemakaman Caesar yang memecut kesedihan dan kemarahan masyarakat. Alhasil, liberator Roma dipaksa keluar dari Roma oleh warganya sendiri.

Kekacaukan semakin menjadi-jadi karena tidak terdapatnya pemimpin Roma, perang saudara kembali terjadi dan Brutus mengalamai kekalahan yang berujung kematian. Tentunya hal ini tidak sesuai dengan ekspektasi para konspirator, yaitu pemusatan kekuasaan pada kekaisaran.

Sejak awal pembunuhan Caesar, bermunculan opini yang bermacam-maca. Sementara Brutus menginspirasi tokoh-tokoh sejarah sebagai warisan yang bertentangan. Dalam buku berjudul Inferno karya Dante, dikatakan bahwa Brutus ditempatkan pada inti neraka dan selamanya disiksa oleh iblis atas kejahatannya yaitu berkhianat.

Namun hingga sekarang, 2000 tahun kemudian, tetap menanyakan mengenai hal yang sama yaitu konflik antara kesetiaan pribadi dan idealisme universal telah menjadi perdebatan. (Hans)