Seberapa Mirip Kasus Jiwasraya dan Asabri?

Selasa, 14 Januari 2020 – 20:00 WIB

Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA, REQnews – Nama dua perusahaan asuransi BUMN yaitu PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asabri (Persero) kini sedang jadi trending topic. Kedua perusahaan plat merah ini diduga menyimpan skandal korupsi yang menggunung.

Bahkan banyak pihak yang menduga ada kesamaan masalah antara kedua perusahaan asuransi ini. Berikut rangkuman soal kemiripan kasusnya:

 

Punya Modus yang Sama

Menteri Koordinator Polhukam Mahfud MD baru-baru mengungkapkan bahwa dugaan korupsi di Asabri memiliki modus operandi yang sama dengan Jiwasraya.

“Modus sama. Akan mungkin ada beberapa orangnya yang sama. Tapi nanti lah yang penting itu akan dibongkar. Karena itu melukai hati kita semua," ujarnya di Jakarta, Senin 13 Januari 2020.

Ia menambahkan, saat ini masih dilakukan pendalaman untuk memastikan ada atau tidaknya dugaan korupsi di Asabri.

"Yang penting kita pastikan dulu bahwa itu ada apa tidak. Kalau berdasarkan dari BPK sih yang saya cek tidak ada dan tidak besar. Tapi sekarang sedang divalidasi oleh suatu institusi lain, BPK yang minta, karena polanya sama dengan Jiwasraya," katanya.

 

Dugaan Tindak Korupsi

Kemudian, belum lama ini terkuak bahwa dugaan tindak korupsi di tubuh Jiwasraya berawal dari laporan eks Menteri BUMN Rini Soemarno. Rini melapor ke Kejaksaan Agung atas Dugaan Fraud di PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Laporan bernomor: SR – 789 / MBU / 10 / 2019 tanggal 17 Oktober 2019 tersebut kemudian ditindak lanjuti oleh Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung RI dengan menerbitkan Surat Perintah Penyidikan Nomor : PRINT – 33 / F.2 / Fd.2 / 12 / 2019 tanggal 17 Desember 2019.

Kejagung kemudian mulai melakukan serangkaian langkah termasuk pencekalan beberapa orang yang diduga masuk ke pusaran korupsi.

Sedangkan pada kasus Asabri, dugaan korupsi disampaikan oleh Mahfud. Kata dia, kasus tersebut cukup besar, bahkan diduga lebih besar dari kasus Jiwasraya, dengan nilai korupsi di atas Rp 10 triliun.

 

Laporan Keuangan Bermasalah

Indikasi kejanggalan pada keduanya juga terkuak lewat laporan keuangan. Pada Mei 2018, hasil audit Kantor Akuntan Publik (KAP) PricewaterhouseCoopers (PwC) atas laporan keuangan Jiwasraya tahun buku 2017 mengoreksi laporan keuangan interim dari laba sebesar Rp 2,4 triliun menjadi hanya Rp 428 miliar.

Hal yang hampir sama juga terjadi pada Asabri. Perusahaan ini sempat melakukan restatement atau penyajian ulang laporan keuangan tahun 2016. Revisi tersebut membuat laba perusahaan turun drastis.

Sebelum restatement, laba bersih Asabri tahun 2016 tercatat Rp 537,62 miliar. Usai restatement, laba bersih perseroan anjlok menjadi Rp 116,46 miliar. Sementara laba bersih 2017 senilai Rp 943,81 miliar. Setelah 2017, Asabri belum melaporkan laporan keuangan ke publik.

 

Salah Investasi Saham

Keduanya sama-sama berinvestasi ke saham yang kini nilainya turun drastis. Asabri terindikasi melakukan penempatan dana investasi di saham-saham berisiko tinggi dan tidak likuid.

Tercatat ada 11 emiten dalam portofolio saham Asabri yang mayoritas mengalami penurunan signifikan sejak penutupan perdagangan 2017 hingga penutupan perdagangan 2019.

Ke-11 perusahaan yang sahamnya dimiliki Asabri yaitu PT Bank Yudha Bhakti Tbk (BBYB), PT Hanson International Tbk (MYRX), PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP), PT Indofarma Tbk (INAF), PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL), PT Prima Cakrawala Abadi Tbk (PCAR), dan PT Alfa Energi Investama Tbk (FIRE). Perusahaan lain adalah PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), PT SMR Utama Tbk (SMRU), PT Sidomulyo Selaras Tbk (SDMU), dan PT Island Concepts Indonesia Tbk (ICON).

Tak hanya turun drastis, beberapa saham juga sempat bergerak liar dalam waktu dua tahun terakhir. Artinya, ada saham-saham tertentu yang tiba-tiba naik pesat, lalu jatuh ke harga yang rendah dalam waktu yang cukup singkat.

Hal ini juga dialami oleh Jiwasraya. Kerugian besar yang menimpa Jiwasraya tak terlepas dari kurang tepatnya pengelolaan investasi di masa lalu. Salah satunya karena keberadaan saham kualitas rendah alias saham gorengan yang dibeli perusahaan beberapa waktu lalu. Akibatnya, nilai investasi saham Jiwasraya turun drastis.

Nilai investasi saham Jiwasraya hanya Rp 1,5 triliun per 26 Desember 2019. Sementara investasi reksa dana saham sebesar Rp 4 triliun. Padahal sepanjang 2014-2017, nilai investasi saham yang diperoleh perusahaan mencapai Rp 5,6 triliun dan reksa dana saham (underlying) sebesar Rp 12,7 triliun.

Saham gorengan yang dimaksud di antaranya PT Prima Cakrawala Abadi Tbk (PCAR), PT Eureka Prima Jakarta Tbk (LCGP), PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE), PT Pool Advista Finance Tbk (POLA), dan PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM). (Binsasi)