Duh! Puluhan Anjing di Bantul Dijadikan Olahan Sate dan Tongseng, Pelanggannya Banyak

Kamis, 16 Januari 2020 – 14:30 WIB

Ilustrasi anjing hendak disembelih. (Foto: Istimewa)

Ilustrasi anjing hendak disembelih. (Foto: Istimewa)

BANTUL, REQnews - Tingkat konsumsi daging anjing di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, masih terbilang cukup tinggi. ‎‎Setiap hari puluhan ekor anjing dipotong di berbagai pemotongan anjing untuk disajikan sebagai hidangan.

Seperti diketahui, hingga saat ini belum ada aturan terkait pelarangan pemotongan anjing yang dikhawatirkan akan menimbulkan penularan penyakit rabies.

Kepala Bidang Peternakan, Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Kabupaten Bantul, Joko Waluyo mencatat saat ini ada sekitar 10 tempat pemotongan anjing yang tersebar di wilayah Bantul.

"Dalam sehari, satu tempat pemotongan itu bisa memotong satu sampai dua ekor," kata Joko, Senin 13 Januari 2020.

Joko mengatakan, daging anjing potong biasanya dipasok dari seputar Daerah Istimewa Yogyakarta. Paling banyak dari daerah barat seperti Kulon Progo ataupun Purworejo.

Setelah dipotong, daging anjing tersebut kemudian diolah menjadi kuliner seperti tongseng ataupun sate. Pelanggan kuliner tersebut pun terbilang banyak. Bahkan mereka berasal dari berbagai daerah. Hanya saja, kebetulan tempat pemotongannya, menurut Joko, ada di Bantul.

"Jadi yang memesan biasanya banyak dari warga luar daerah," kata dia.

Pemotongan daging anjing ini menjadi dilema. Menurut Joko, meskipun daging anjing bukan termasuk konsumsi makanan, namun pihaknya mengaku belum bisa melarang usaha pemotongan anjing di Bumi Projotamansari.

Pasalnya, Pemerintah Kabupaten Bantul sampai saat ini belum memiliki peraturan daerah atau semacam peraturan Bupati yang menegaskan larangan, mengenai peredaran daging anjing. Sehingga sejauh ini masih dibebaskan.

Selain itu, ketika usaha tersebut memang terpaksa harus diberhentikan, maka dikatakan Joko, Pemerintah memiliki konsekuensi, bagiamana caranya untuk mengganti ke sektor usaha lain. Baik tukang jagal maupun penjual kuliner olahannya.

"Seperti yang ada di solo. Mereka diberikan pekerjaan lain. (di Bantul) belum bisa diterapkan," ujar dia.

Meskipun beluma ada peraturannya, Joko mengaku tidak serta-merta lepas tangan. Pihaknya tetap memberikan perhatian khusus dengan cara rutin secara berkala melakukan pengawasan dengan melibatkan Balai Besar Veteriner Wates.

Pengawasan itu menurutnya sangat penting untuk memastikan bahwa anjing yang dipotong dan diolah menjadi kuliner makanan di Bantul itu tidak terjangkit oleh rabies.

"Kita sudah melakukan pengecekan ke lokasi secara berkala. Mengambil sampel untuk diuji di laboratorium BBVet Wates. Meskipun mereka bukan binaan kami," kata dia.