Nelayan Cina Terlibat Operasi Rahasia, Benarkah?

Sabtu, 18 Januari 2020 – 09:00 WIB

Ilustrasi kapal nelayan Cina (istimewa)

Ilustrasi kapal nelayan Cina (istimewa)

INTERNASIONAL, REQnews – Sebuah kabar mengejutkan diberitakan oleh sebuah media Cina baru-baru ini soal operasi rahasia para nelayan di lepas pantai. Mereka diiming-iming hadiah besar oleh pemerintah, jika menemukan ‘alat mata-mata asing’.

Hingga kini sudah ada tujuh alat yang ditemukan oleh 11 nelayan dan mereka telah mendapatkan hadiah. Satu di antaranya adalah perempuan dan selebihnya laki-laki.

Ini bukan yang pertama, para nelayan dari Jiangsu menemukan "alat mata-mata" ini. Pada 2018, sebanyak 18 orang diberi hadian karena menemukan sembilan alat.

Hadiah yang mereka dapatkan juga besar sampai sekitar 500.000 yuan atau sekitar Rp 1,2 miliar, sekitar 17 kali lebih tinggi dari pendapatan rata-rata di Cina. Pemberian hadiah seperti ini juga pernah berlangsung setahun sebelumnya.

Tapi dari mana "alat mata-mata bawah laut" ini? Apa fungsinya dan mengapa begitu berharga? Dan mengapa para nelayan ini menemukan begitu banyak alat?

Jiangsu adalah provinsi di Cina timur, wilayah pesisir sepanjang 1.000 kilometer. Pesisir ini menghadap ke Jepang dan Korea Selatan, sementara letak Taiwan sekitar 1.000 kilometer di selatan.

Letak geografis seperti ini dan besarnya kehadiran Amerika Serikat di kawasan menjelaskan mengapa para nelayan sering menemukan alat mata-mata ini. Cina tidak menjelaskan di mana saja alat ini ditemukan dan hanya mengatakan "buatan negara-negara lain."

Namun pakar dan konsultan regional Alexander Neill mengatakan, mungkin alat ini berasal dari Kapal Angkatan Laut AS, pasukan keamanan Jepang atau mungkin Taiwan, karena di wilayah ini terjadi persaingan tinggi.

Lalu apa yang ingin didapatkan Amerika, Jepang atau Taiwan?

 

Pada 2009, Angkatan Laut AS mensponsori penelitian drone bawah laut, yang dikenal sebagai "alat bawah laut tak berawak", "unmanned undersea vehicles (UUV)".

Penelitian ini merekomendasikan tujuh cara penggunaan UUV, termasuk melacak "potensi kapal selam musuh". Kemudian mencari bom bawah laut, khususnya di perairan negara-negara lain, mengerahkan perlengkapan mata-mata.

Kemudian memonitor "infrastruktur bawah laut", seperti kabel komunikasi. Penelitian juga mengangkat kekuatan UUV Gliders, alat yang lebih kecil, seperti yang ditemukan oleh para nelayan Jiangsu. Alat ini dapat dikerahkan selama berbulan- bulan dan murah.

Murah di sini berarti "hanya puluhan ribu dolar". Harga alat dan juga jangkauannya menunjukkan bahwa "alat mata-mata bawah laut" ini semakin penting. Neill memperkirakan jumlahnya di dunia mencapai "ratusan."

Informasi tersebut, menjelaskan mengapa alat-alat ini terjaring oleh nelayan Cina. Negara ini memiliki armada perikanan yang begitu besar. Armada perikanan Cina juga berbeda dengan negara-negara lain.

Sebagian nelayan sendiri adalah bagian dari militer dan hal ini menjelaskan mengapa mereka terus menemukan alat militer ini.

Milisi Maritim Cina adalah bagian dari milisi nasional yang merupakan pasukan sipil cadangan. Organisasi ini unik namun diketahui oleh militer Amerika Serikat, menurut Profesor Andrew S Erickson.

Menurut laporan Kementerian Pertahanan AS pada 2017, organisasi ini memainkan "peran penting dalam sejumlah operasi militer selama bertahun-tahun."

Sebelumnya, organisasi ini menyewa kapal dari perusahaan-perusahaan atau nelayan. Kementerian Pertahanan mengatakan tampaknya "Cina membangun armada resmi untuk pasukan milisi."

Neill mengatakan banyak kapal yang "berkeliaran seperti kapal ikan" dan mereka sebenarnya melakukan mata-mata Angkatan Laut dan mata-mata terhadap "saingan-saingan Cina."

"Di atas kertas mereka tampak canggih dengan kapal pukat. Namun armada ini sebenarnya adalah kapal dengan jenis militer dengan tonase tinggi. Bila Anda lihat foto-fotonya, jelas bahwa armada ini satu jaringan dengan kemampuan sinyal melalui komando (Angkatan Laut) dan kontrol jaringan,” katanya.

Pada dasarnya armada perikanan ini dapat memberikan pertahanan atau pengintaian awal - pasukan militer yang bekerja dengan kedok sipil.

"Armada perikanan Cina dijadikan milisi," kata Neill.

"Saya rasa - melalui informasi yang saya gali sedikit - mereka ini (para nelayan Jiangsu) mungkin juga menjadi bagian dari itu," tambahnya.

Cina tidak hanya menemukan alat mata-mata bawah laut, namun juga mengoperasikannya.

Dalam parade militer memperingati 70 tahun negara Cina, alat HSU001 dipamerkan, kemungkinan dengan kemampuan untuk meluncurkan drone yang lebih kecil.

Dan lima bulan sebelumnya, alat lain milik Cina terungkap setelah para nelayan di seputar Riau menemukan "rudal" dengan huruf Cina.

"Itu bukan misil, tapi alat bawah laut, yang biasanya digunakan untuk penelitian bawah laut," kata polisi di Riau pada Maret 2019.

Walaupun asalnya belum dipastikan, para pakar curigai alat itu adalah bagian dari pengintaian yang dilakukan Cina, atau yang disebut "Great Underwater Wall of Cina" atau "Tembok Besar Bawah Laut Cina."

Jadi, di tengah berkembangnya teknologi UUV ini, akan lebih banyak nelayan, apakah itu di Cina, Indonesia atau tempat lain, yang diperkirakan akan menemukan alat-alat bawah laut ini. Dan seperti yang ditemukan oleh para nelayan Jiangsu, nilai alat-alat seperti ini sangat mahal.

"Drone ini diperluas jangkauannya untuk semua Angkatan Laut modern di kawasan," kata Neill.