Duh! Dewas TVRI Nilai Kasus TVRI Bisa Mirip Kayak Jiwasraya, Apanya?

Rabu, 22 Januari 2020 – 00:00 WIB

Gedung TVRI (istimewa)

Gedung TVRI (istimewa)

JAKARTA, REQnews – Dewan Pengawas (Dewas) TVRI mengungkapkan hak siar liga Inggris jadi salah satu faktor penyebab pemecatan Helmy Yahya. Hal ini dijelaskan oleh anggota Dewas TVRI Pamungkas Trishadiatmoko. Pria yang karib disapa Moko ini menyebut program tersebut berbiaya tinggi dan bisa jadi pemicu gagal bayar dan utang skala kecil laiknya Jiwasraya.

Menurut pengakuan Moko, terkait detail hak siar Liga Inggris ini, pihaknya tak mendapatkan informasi yang lengkap dari Direksi TVRI.

“Dewas hanya menerima perjanjian stensil terkait hak siar Liga Inggris. Salah satunya adalah perjanjian terkait penawaran atau bidding hak siar Liga Inggris,” ujarnya di Senayan, Selasa 21 Januari 2020.

Padahal kata Moko, Dewas TVRI telah meminta penjelasan pada Direksi TVRI terkait hak siar Liga Inggris pada tanggal 9 Juli 2019.

Namun pada 16 Juli, Direksi merespons surat Dewas lewat selembar kertas namun tak secara detail mencantumkan penjelasan terkait kontrak dan hal teknis lainnya soal acara tersebut.

Lalu tanggal 17 Juli, Dewas pun mengelar rapat dan meminta direksi meminta pejelasan. Namun direksi memberikan penjelasan tanpa dokumen dan tanpa seluruh hal yang diminta.

Moko pun terkejut tatkala Dewas menerima tagihan dari PT Global Media Visual terkait hak siar Liga Inggris sekitar Rp27 Miliar.

“Itu jatuh tempo tanggal 15 November 2019, dan 31 Desember belum terbayarkan tagihan,” katanya.

Utang atas hak siar TVRI itu, kata Moko, lantas di limpahkan atau carry over ke tahun anggaran TVRI tahun 2020. Tak hanya itu, ia menyatakan pada Maret 2020 akan datang tagihan sebesar Rp 21 Miliar dan pada September 2020 sebesar Rp21 Miliar terkait hak siar Liga Inggris.

“Sehingga terdapat kewajiban yang dibayar, ini belum gagal bayar ya, tapi berpotensi gagal bayar, karena tak ada dalam RKAT. Ini totalnya adalah senilai 69 miliar. Ini belum pajak dan biaya-biaya lain,” ujarnya.

Moko pun membantah bila hak siar Liga Inggris didapatkan secara gratis oleh TVRI. Menurutnya, hak siar itu didapatkan TVRI selama tiga sesi seharga 9 Juta dolar AS atau Rp 126 miliar. Satu sesi sendiri berdurasi 10 bulan.

"Jadi tiap sesi berbiaya 3 juta dolar AS, dengan kontrak 76 pertandingan, atau sekali tayangan Rp 552 juta. Ini ekuivalen dengan rata-rata tayangan TVRI yang Rp 15 juta per episode. Lah ini (Liga Inggris) seperti membiayai 37 episode atau 2 bulan program lainnya," katanya.

Moko mengatakan bahwa TVRI hanya mendapatkan hak siar Liga Inggris sebanyak 2 pertandingan dalam seminggu. Padahal seharusnya televisi nasional ini sejatinya mendapatkan hak siaran 10 pertandingan Liga Inggris tiap minggunya.

"Dulu MNC TV mereka berbiaya 10 Juta dolar AS untuk seluruh tayangan," ujarnya.

Konflik di TVRI bermula saat Helmy dilengserkan oleh Dewas. Ia sendiri enggan membeberkan soal rincian dana hak siar Liga Inggris.

Helmy hanya menyebut bahwa Dewas TVRI mengetahui proses pembelian hak siar itu. Menurutnya pula, pendanaan hak siar itu berasal dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang didapat TVRI. (Binsasi)