Ngeri-ngeri Sedap! Senjata AS Senilai 9,8 Triliun Rupiah Raib saat Perang Lawan ISIS

Jumat, 21 Februari 2020 – 23:30 WIB

Pasukan AS di Suriah (istimewa)

Pasukan AS di Suriah (istimewa)

INTERNASIONAL, REQnews - Sebuah kabar mengejutkan datang dari Amerika Serikat (AS). Pentagon mengungkapkan, senjata perang milik militer AS tidak mampu dilacak keberadaannya alias raib tanpa kabar.

Melansir pemberitaan Newsweek, Kamis 20 Februari 2020, dalam laporan Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan Selasa pekan lalu, para pejabat militer di Pasukan Gabungan Khusus (SOJTF) dan 1st Theater Sustainment Command (TSC) tidak mampu melacak persenjataan yang bernilai sekitar 715 juta dolar AS atau setara dengan Rp 9,8 triliun. Senjata-senjata tersebut digunakan dalam perang melawan ISIS di Suriah.

Persenjataan tersebut adalah bagian dari permintaan dana persenjataan oleh Departemen Pertahanan untuk periode 2017-2018.

Senjata-senjata buatan AS ini tersebar di Timur Tengah semasa ISIS masih berjaya pada 2014 silam. Militan ISIS juga diketahui menyita sejumlah senjata AS yang ditinggalkan pasukan Irak. Sebagian senjata ini juga jatuh ke tangan Al Qaidah yang sempat menjadi sekutu ISIS.

Selain itu, Pentagon juga mengungkapkan bahwa selama ini Pasukan Gabungan Khusus yang mengawasi jalannya operasi militer dalam perang melawan ISIS. Mereka yang menentukan senjata apa yang digunakan dan diserahkan kepada para sekutu AS di lapangan, termasuk Pasukan Kurdi SDF yang memerangi ISIS.

AS menempatkan persenjataan mereka di sebuah gudang senjata di Kuwait. Dari sanalah arus keluar masuk senjata itu berasal, dekat perbatasan Suriah.

Namun, personel Pasukan Gabungan Khusus tidak mengeluarkan persenjataan yang sudah diterima sehingga membuat gudang senjata penuh. Kondisi ini membuat mereka harus menaruh persenjataan di luar gudang di peti kemas kapal sehingga senjata-senjata itu rentan rusak atau jadi rongsokan.

Hampir 4.100 senjata, termasuk peluncur roket dan senjata mesin, yang ditaruh di peti kemas kapal. Dan Parahnya tidak adanya catatan inventaris persenjataan sehingga menimbulkan kemungkinan senjata yang sama datang berkali-kali. (Binsasi)