3 Kekejaman Husni Mubarak yang Tak Mungkin Dilupakan Rakyat Mesir

Rabu, 26 Februari 2020 – 11:00 WIB

Husni Mubarak

Husni Mubarak

JAKARTA, REQnews - Eks Presiden Mesir Husni Mubarak meninggal dunia pada Selasa 25 Februari 2020 dalam usia 91 tahun di sebuah rumah sakit di ibu kota Kairo, setelah sepekan lalu menjalani operasi atas penyakitnya.

Selama 30 tahun memimpin sebagai diktator, banyak derita yang dialami rakyat Mesir. Ia lengser pada 2011 lalu, setelah badai demonstrasi melanda Mesir, menuntutnya turun takhta.

Husni kemudian divonis penjara seumur hidup, kemudian dibebaskan Presiden Abdul Fattah Al Sissi pada 2014 lalu. Meski telah meninggal dunia, ada 3 kejahatan besar yang dilakukan Husni Mubarak, yang tak mungkin dilupakan rakyat Mesir selama ia memimpin.

1. Pembantaian Demonstran

Pada 2011 lalu, demonstrasi besar-besaran terjadi di Kairo dan kota-kota lainnya, menuntut Husni turun dari jabatannya sebagai presiden. Massa bahkan berkumpul selama berminggu-minggu di Tahrir Square menyuarakan pencopotan Husni.

Kesal dengan demonstrasi yang kian tak terkendali, kabarnya Husni memerintahkan aparat untuk menembaki demonstran dengan peluru tajam. Selama demonstrasi bergulir, sekitar 900 orang terbunuh.

2. Penyiksaan Keji

Selama memimpin Mesir, Husni dikenal sebagai tangan besi. Para tahanan politik atau penentang pemerintahan kerap mengalami penyiksaan yang pedih. Mulai dari disetrum listrik, pemukulan, hingga ancaman pemerkosaan terhadap keluarga tahanan.

Organisasii HAM Mesir menerima sebanyak 460 laporan penyiksaan selama Husni memimpin. Bahkan, 73 orang dilaporkan hilang secara misterius.

 

3. Intimidasi Politik

Sebagai penguasa, Husni tak ingin posisinya dilengserkan lawan atau oposisi. Ia menang dalam empat pemilu, yang sebagian disabotase dengan melibatkan partai oposisi Ayman Nour. 

Merasa terancam, Husni juga melarang semua aktivitas Ikhwanul Muslimin, sebagai kelompok Muslim terbesar di Mesir yang massanya banyak. Ia menganggap keberadaan kelompok itu mengancam kekuasaannya. Selain itu, masyarakat juga dilarang membentuk partai politik dan maju sebagai presiden.

Husni juga mengendalikan Komisi Pemilihan Umum Mesir, untuk bertindak sesuka hati menggagalkan setiap pencalonan presiden dari kubu oposisi.