Cerita Awak Kabin Digrounded saat Covid-19, Ada Pramugari Jadi Tukang Bungkus Nasi

Jumat, 27 Maret 2020 – 09:05 WIB

Cerita Awak Kabin Digrounded saat Covid-19, Ada Pramugari Jadi Tukang Bungkus Nasi (Foto: Istimewa)

Cerita Awak Kabin Digrounded saat Covid-19, Ada Pramugari Jadi Tukang Bungkus Nasi (Foto: Istimewa)

SINGAPURA, REQnews - Penyebaran virus corona telah menekan bisnis maskapai penerbangan. Jumlah penumpang semakin anjlok hingga maskapai perlu mengurangi jumlah penerbangan, rute, dan frekuensi.

Bahkan, dilaporkan terdapat sejumlah perusahaan maskapai yang harus membatalkan penerbangan sampai meng-grounded armadanya. Awak kru kabin pun banyak yang harus mengambil cuti tanpa bayaran karena tidak ada pesawat yang terbang.

Dikutip dari South China Morning Post, Jumat 28 Maret 2020, banyak pekerja di industri penerbangan yang khawatir dengan kondisi keuangan mereka seiring mandeknya dunia penerbangan gara-gara pandemi virus corona.

Misalnya saja di Singapura, banyak awak kabin yang berjuang untuk mendapatkan pendapatan mereka yang hilang, saat mereka cuti atau saat bekerja dalam kondisi shift yang sedikit.

"Berapa banyak penghasilan yang saya bawa satu bulan semata-mata tergantung pada penerbangan saya. Jadi dengan banyak penerbangan saya dibatalkan, bisa dapat gaji pokok saja sudah bagus banget," kata seorang pramugari Singapore Airlines yang menolak disebutkan namanya.

Pramugari berusia 25 tahun itu sudah memutuskan untuk mengambil cuti tanpa bayaran. Secara realistis ia berpikir bahwa berharap dipanggil kerja saat dalam masa seperti ini adalah hal yang tidak mungkin.

Kini dia tengah mempertimbangkan membantu bibinya yang memiliki gerai makanan untuk bekerja membungkus nasi dengan bayaran 7 dolar Singapura (sekitar Rp 80 ribu) per jamnya.

Sementara itu, pramugari yang lebih senior yang sudah 27 tahun di Singapore Airlines, mengatakan wabah Corona membawa dampak yang lebih dahsyat ketimbang saat ada wabah SARS. Saat masa darurat corona ini, ia bekerja hanya 6-8 hari saja dari biasanya 20 hari kerja.

"Penerbangan dulu yang dibatalkan hanya ke China, sementara ke bagian dunia lain masih berjalan," ujarnya.

Tanpa penghasilan dari terbangnya, dia mengaku kesulitan untuk membayar cicilan atau membayar pengasuh ibunya yang sedang sakit-sakitan.

"Beberapa pramugari adalah orang tua tunggal. Mereka harus menjaga anak, dan orang tua mereka. Bagaimana saya mencari pekerjaan lain. Semua perusahaan tengah melakukan perampingan usaha. Sementara saya bisanya hanya melakukan apa yang sudah saya lakukan selama 27 tahun ini," keluhnya.

Awak kabin yang lain, yang bekerja untuk maskapai lain di Singapura, mengatakan sudah mengambil pekerjaan paruh waktu di sebuah toko ritel, dimana dia bisa bekerja 3 kali seminggu. Ia terpaksa mengambil pekerjaan paruh waktu karena 50-80 persen gaji bulanannya hilang gara-gara jarang terbang.

Penghasilannya sebagai pramugara di maskapai tersebut mencapai 3.500 dolar Singapura sebulan. Dalam waktu sebulan dia biasanya bekerja 16 kali, namun sepanjang bulan Maret ini hanya 6 hari saja.

Seorang pilot yang juga menolak disebutkan namanya mengaku gajinya sudah dipotong 55 persen dan mengambil cuti tanpa dibayar mulai 1 April. Untung saja dia masih punya tabungan dan investasi yang bisa diandalkan. Namun dia khawatir soal kesehatannya.

"Saya yakin pasti ada orang yang terinfeksi di dalam pesawat. Setelah bekerja saya pulang ke rumah dan menemui 2 anak. Mereka masih muda dan akan bertahan, tapi saya punya orang tua yang berumur 80 tahun. Saya tidak bisa duduk bareng mereka, terus saya pergi ke mana, saya pergi ke hotel di negara saya. Kenapa saya mengeluarkan 2.000 dolar Singapura untuk kamar hotel, tapi saat saya keluar masuk hotel, orang-orang menganggap saya bersenang-senang?," curhatnya.

Soal keluhan para awak kabin ini, Air Line Pilots Association Singapore (Alpa-S) mengatakan pihaknya bersama maskapai dan kementerian tenaga kerja Singapura sudah menyiapkan berbagai inisiatif untuk membantu para pilot.