Syekh Puji Terancam Dikebiri karena Nikahi Bocah Berulang-ulang

Rabu, 08 April 2020 – 12:35 WIB

Syekh Puji Terancam Dikebiri karena Nikahi Bocah Berulang-ulang (Foto: Istimewa)

Syekh Puji Terancam Dikebiri karena Nikahi Bocah Berulang-ulang (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Kabar Pujiono Cahyo Widianto alias Syekh Puji yang dipolisikan karena menikahi anak usia 7 tahun menghebohkan Tanah Air. Pasalnya, Syekh Puji juga bikin geger Indonesia setelah menikahi gadis berusia 11 tahun bernama Lutfiana Ulfa pada 2008 lalu.

Kasus Syekh Puji yang diduga kembali menikahi anak di bawah umur menjadi perhatian Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait. Menurut Arist, Syekh Puji adalah residivis kejahatan seksual terhadap anak.

"Jadi Komnas Perlindungan Anak juga menyimpulkan bahwa Syekh Puji ini sebenarnya sudah masuk residivis kejahatan seksual terhadap anak. Dan dia dapat diancam hukuman seumur hidup bahkan bisa dikebiri," kata Arist Merdeka Siraitdi Polres Jakarta Selatan, Selasa 7 April 2020.

Menurut Arist Merdeka Sirait, Syekh Puji sudah melakukan pelanggaran berupa menikahi anak di bawah umur berulang-ulang. Ia diketahui sempat dilaporkan ke polisi karena kasus pernikahan anak di bawah umur pada 2008, 2009, 2018, dan yang terbaru ialah 2020 ini.

"Karena satu persyaratan bisa dilakukan berulang-berulang terhadap tindakan pidana yang sama dia bisa dikenakan tindakan pidana kebiri lewat suntikan kimia. Bahkan dipasang chip untuk dia bisa dimonitoring di mana dia berada," kata Arist.

Selain itu, Arist juga mengatakan kedua orangtua bocah tujuh yang menikahkan anaknya ke Syekh Puji dapat dipidana. "Bisa (dipidanakan)," kata dia.

Menurutnya, kedua orangtua seharusnya dapat mencegah pernikahan anak di bawa umur.

"Jadi di dalam hukum undang-undang perlindungan anak, siapa pun di antara kita termasuk orangtua yang mendorong terjadinya perkawinan usia anak, yang tidak dibenarkan oleh undang-undang, berarti itu kita ikut mendorong terjadinya pelanggaran terhadap anak. Termasuk orangtua mereka," jelas Arist Merdeka Sirait.

"Karena unsurnya terpenuhi seperti bujuk rayu, tipu muslihat dari orang yang mau memanfaatkan anak itu. Lalu kemudian itu dimanfaatkan oleh orangtua atau sekitarnya atau orang yang ikut terlibat dan itu bisa dipidana juga," kata Arist Merdeka Sirait menegaskan.

Diketahui, kasus ini bermula saat Komnas Perlindungan Anak (KPA) Jateng melaporkan ulah Syekh Puji ke Polda Jawa Tengah pada Jumat 21 Februari 2020 lalu, terkait dugaan pencabulan karena menikahi anak di bawah umur pada Juli 2016.

Anak berinisial DT tersebut saat dinikahi masih berusia 7 tahun, dan kini telah berusia 10 tahun. DT dinikahi Syekh Puji di Ponpes Miftahul Jangh, Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang.

KPA Jateng mendapat pengaduan dari keluarga besar Syekh Puji terkait masalah itu. Ketua KPA Jateng Endar Susilo mengatakan Syekh Puji menikahi anak berusia tujuh tahun berawal dari pihaknya yang mendapat pengaduan dari tiga keluarga besarnya, yakni, Joko Lelono atau Jack dan dua keponakannya, Wahyu dan Apri Cahyo Widianto.