Perjuangan Ahli Waris Pangeran Ratu Anom Rebut Tahta Kesultanan Banjar

Selasa, 30 Juni 2020 – 14:32 WIB

Perjuangan Keturunan Pangeran Anom Merebut Tahta Kesultanan Banjar

Perjuangan Keturunan Pangeran Anom Merebut Tahta Kesultanan Banjar

JAKARTA, REQnews – Tamaknya Pangeran Tamjidilah I membuat keturunan asli Kesultanan Banjar kesal. Hampir 25 tahun menjabat tapi tidak kunjung melepas tahtanya.

Untuk mempertahankan tahta sultan, Tamjidilah I kerap melakukan berbagai cara kotor dilakukan mulai dari pengasingan serta melakukan pembunuhan bagi siapa saja yang memberontak.

Kisah ini berawal sejak Sultan Hamidullah atau dikenal dengan Sultan Kuning wafat. Menyandang status adik kandung, Pangeran Tamjidilah I pun berkuasa dan menjadi satu-satunya orang yang menggantikan kedudukan Sultan Kuning.

Kala itu, anak Sultan Kuning, Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah belum cukup umur menjabat sebagai Sultan. Karenanya, posisi Tamjidilah I hanya pemangku raja sampai Aminullah dewasa.

Namun kenyataannya hampir 25 tahun, tahta kesultanan tidak kunjung diberikan kepada Aminullah. Tamjidilah I menggunakan akal licik menjadikan Aminullah sebagai menantunya agar hasrat menduduki kerajaan hilang perlahan.

Tapi dugaan itu salah. Aminullah yang bergelar Tuan Almusyarafat Pengeran Ratu Anom masih menginginkan haknya kembali. Alhasil, Pangeran Ratu Anom kemudian pergi dari kesultanan, mencari strategi melakukan penyerangan.

Ia sempat singgah di Tabanio tempat perdagangan gelap paling ramai di pulau Kalimantan. Setelah bertahun-tahun, ia mampu mengumpulkan massa yang besar menyerang Kesultanan Banjar.

Tanpa adanya persiapan, Sultan Tamjidillah I kalah dari penyerangan. Pangeran Ratu Anom berhasil merebut haknya kembali memimpin Kesultanan Banjar. Tapi jabatan itu tidak bertahan lama, hanya berlangsung tiga tahun, Pangeran Anom wafat tahun 1761.

Banyak yang menduga ia diracuni oleh Tamjidillah, itu terbukti dari perkataannya di depan beberapa bangsawan. “Biarlah tahta direbut oleh Pangeran Anom, sebentar lagi juga akan mati,” dengan percaya diri ia mengatakan itu di depan orang banyak.

 

Pangeran Anom pun mempunyai tiga anak yang masih kecil-kecil yaitu Abdullah, Rahmat, dan Amir. Dari ketiganya hanya Amir yang masih hidup dan melarikan diri. Kemudian ia mendirikan Kerajaan Kusan di Tanah Kusan, Kalimantan Selatan.

Saat kerajaannya sudah mulai kuat, ia berencana menyerang Kerajaan Banjar di Tabonio. Tapi Kesultanan Banjar mendapat perlindungan dari VOC atas perjanjian yang dilakukan oleh anaknya Tamjidillah I, Sunan Nata Alam atau Panembahan Batu.

Amir tertangkap dan diasingkan ke Srilangka. Kerajaan Kusan akhirnya jatuh ke tangan anak Panembahan Batu, Sultan Sulaiman. Dalam sejarahnya, Amir merupakan kakek dari Pangeran Antasari Kesultanan Banjar.