Cerita Perwira Polda Bali, dari Sabu Hingga Meninggal di Penjara Kerobokan

Minggu, 24 Mei 2020 – 09:01 WIB

Tragis! Mantan Perwira Polda Bali Jadi Napi Narkoba dan Meninggal dalam Lapas  

Tragis! Mantan Perwira Polda Bali Jadi Napi Narkoba dan Meninggal dalam Lapas  

KEROBOKAN, REQnews – Seorang napi narkoba Lapas Kelas IIA Kerobokan meninggal dalam tahanan. Namun kabar kematian pria bernama I Wayan Sudarta (58) ini malah menguak fakta baru. Almarhum ternyata mantan perwira pertama polisi berpangkat Iptu yang bertugas di Satbhara Polda Bali.

Menurut penjelasan Humas Kanwil Kemenkumham Bali I Putu Surya Darma, Sudarta sempat munta darah. Ia kemudian diantar teman selnya ke klinik Lapas Kamis pagi sekitar pukul 09.00 WITA.

Namun kondisinya tak kunjung membaik. Ia malah terus muntah darah. Tekanan darahnya 80/69 mmhg.

Fisiknya pun kian melemah. Dokter klinik merujuk Sudarta ke RS Sanglah untuk mendapat perawatan intensif. Melihat kondisi yang bersangkutan semakin menurun dan dokter menyarankan rawat inap.

“Namun sekitar pukul 14.00 WITA, dokter mengatakan Sudarta sudah meninggal dunia dengan diagnosa melena dan anemia," ujar Surya, Jumat 22 Mei 2020.

Selanjutnya, jenazah Sudarta diserahkan ke pihak keluarga untuk diupacarai.

Sebelumnya, almarhum Sudarta ditangkap karena menyelundupkan sabu kepada salah seorang tahanan di Rutan Polda Bali pada 15 Februari 2018 lalu.

Sudarta membawa tas kresek putih yang didalamnya berisi makanan dan peralatan mandi.

Karena bukan jam besuk, penjaga rutan yaitu Bripka I Made Puja Astawa dkk tak mengizinkan. Terdakwa lalu minta tolong agar petugas menerima peralatan mandi untuk diserahkan kepada tahanan bernama Armadi Gabriel.

Akhirnya pasta gigi, sampo dan sikat gigi diterima petugas jaga. Setelah terdakwa pergi, petugas jaga mengecek barang bawaan yang dititipkan.

Pada saat memeriksa shampo, petugas menemukan kejanggalan karena terdapat benda mencurigakan di dalamnya.

Disaksikan petugas lainnya, shampoo tersebut akhirnya dibuka dan ditemukan satu paket sabu-sabu seberat 0,4 gram.

Pria asal Klungkung itu lantas diadili dan diganjar lima tahun penjara pada 2018 lalu dan baru akan bebas pada 23 Februari 2022 mendatang. Sayangnya baru dua tahun di penjara, ia malah menghembuskan napas terakhir. (Bins)