Dipenggal, Pembunuh Romina Berdalih Menjaga Kehormatan Keluarga

Selasa, 30 Juni 2020 – 13:31 WIB

Dipenggal, Pembunuh Romina Berdalih Menjaga Kehormatan Keluarga

Dipenggal, Pembunuh Romina Berdalih Menjaga Kehormatan Keluarga

JAKARTA, REQnews - Syahdan, percintaan gadis cantik Romina Ashrafi harus bertepuk sebelah tangan. Usai nekat kabur untuk kawin lari bersama pria yang dicintainya, gadis berusia 13 tahun itu harus rela kehilangan nyawanya oleh ayahnya sendiri.

Romina tewas mengenaskan dengan dipenggal saat tidur terlelap. Sang ayah beralasan, pembunuhan itu dilakukan untuk menjaga kehormatan keluarga.

Kisah ini bermula saat Romina ditemukan polisi usai menikah resmi dengan kekasihnya yang berusia 34 tahun. Ayahnya pun melaporkan kasus ini karena menolak anaknya dinikahi pria yang tidak dia setujui.

Romina lantas dikembalikan ke rumahnya walaupun sudah memohon kepada polisi agar tidak dipulangkan karena khawatir keselamatannya terancam. Saat tertidur, sang ayah membunuhnya dengan senjata tajam sejenis sabit.

Ayahnya pun langsung menyerahkan diri ke kantor polisi dengan senjata pembunuh di tangannya dan mengakui apa yang telah dilakukannya. Mengutip Al Arabiya, Selasa 30 Juni 2020, pembunuhan yang dilakukan ayah terhadap putrinya seperti yang dialami Romina Ashrafi bukan hal yang baru pertama kali terjadi.

Mereka menyebutnya dengan 'Honour killing' atau pembunuhan demi menjaga kehormatan dilakukan karena anggota keluarga itu dianggap telah mempermalukan kerabat.

Berdasarkan data yang dihimpun Human Rights Watch, alasan paling umum adalah karena korban menolak untuk mengadakan pernikahan yang diatur. Sang anak adalah korban kekerasan seksual atau pemerkosaan. Kemudian, anak melakukan hubungan seksual di luar nikah, meskipun hanya dugaan.

Dikutip dari BBC, dalam beberapa kejadian, alasan pembunuhan bahkan dilakukan untuk alasan yang lebih sepele, seperti sang anak berpakaian dengan cara yang dianggap tidak pantas atau menunjukkan perilaku yang dianggap tidak taat.

Jika seorang pria dinyatakan bersalah membunuh putrinya di Iran, hukumannya adalah antara tiga dan 10 tahun penjara, bukan hukuman mati normal atau pembayaran diyat (uang darah) untuk kasus-kasus pembunuhan.

Aktivis hak asasi manusia melaporkan tahun lalu bahwa kasus ini terus terjadi, terutama di wilayah populasi pedesaan dan suku. Tidak tahu pasti alasannya, tetapi yang jelas budaya itu telah menewaskan banyak wanita di Iran, yang dianggap melanggar norma-norma Islam konservatif.

Pembantu Presdien urusan hak asasi manusia (HAM) Shahnaz Sajjadi mengatakan, seharusnya rumah menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anak dan perempuan. Yang terlihat malah kebalikannya, kasus kejahatan terhadap perempuan di masyarakat jauh lebih sedikit daripada kasus kejahatan di dalam rumah.