Kartini dan Marsinah, Dibungkam dengan Cara Dibunuh

Minggu, 21 April 2019 – 11:30 WIB

Kartini dan Marsinah

Kartini dan Marsinah

JAKARTA, REQnews - Berbicara tanggal 21 April, selalu dikaitkan dengan peringatan Hari Kartini. Sebuah apresiasi yang diberikan Indonesia yang mendukung suara dan pemikiran maju Kartini yang berwawasan kebangsaan.

Semua pasti tahu bahwa Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April 1879 dan meninggal dunia pada 17 September 1904, atau empat hari setelah melahirkan putranya, Raden Mas Soesalit. Banyak yang bertanya apakah Kartini dibunuh?. 

Penulis Sitiosemandari Soeroto, dalam bukunya yang berjudul “Kartini, Sebuah Biografi”, Kartini diduga meninggal karena dibunuh oleh orang suruhan Belanda. Di bukunya tersebut, Sitiosemandari menuliskan detik-detik sakaratul maut Kartini. 

Bukan tanpa sebab dugaan itu muncul. Karena selama proses persalinan Raden Mas Soesalit sebenarnya berjalan lancar pada 13 September 1904 lalu. Bahkan Kartini dan jabang bayinya saat itu dalam keadaan sehat. 

Kematian Kartini pun sepertinya sudah direncanakan Belanda. Empat hari setelah melahirkan, atau tepatnya 17 September 1904, Belanda diduga mengirim 'pencabut nyawa' Kartini, yakni seorang dokter Belanda bernama dr. Van Ravesteyn. 

Dokter tersebut meminta Kartini meminum anggur bersama untuk keselamatan ibu dan bayi. Tak lama kemudian, mendadak Kartini mengeluh sakit di bagian perutnya. 

Supaya kedok pembunuhannya tak tercium, Ravesteyn yang sedang berkunjung ke rumah lain, cepat-cepat datang kembali usai membujuk Kartini menenggak anggur tersebut. 

Sayangnya, setengah jam kemudian, dokter Belanda itu tidak bisa menolong nyawa pemikir wanita Indonesia yang pertama ini. Kematiannya pun dianggap sebuah prestasi Belanda karena berhasil membungkam pemikiran-pemikiran maju Kartini yang berwawasan kebangsaan. 

89 tahun berlalu setelah kematian Kartini, Indonesia kembali kehilangan perempuan simbol perlindungan HAM, Marsinah. Ia tewas mengenaskan karena dibunuh saat memperjuangkan nasib buruh di Jawa Timur. 

Semasa hidupnya, Marsinah selalu berada di garda depan untuk menuntut perbaikan upah buruh yang sudah ditetapkan oleh Gubernur Jawa Timur saat itu. Aksi wanita kelahiran 10 April 1969 ini pun dianggap sebagai pembangkang dan wajib dimusnahkan agar kepentingan pihak pabrik berjalan dengan baik. 

Hasil otopsi di RSUD Nganjuk dan RSUD Dr Soetomo menyebutkan, ada bekas luka penganiayaan berat di tubuh aktivis dan buruh pabrik PT Catur Putra Surya ini. Tak hanya itu, ada juga yang menyebutkan penerima penghargaan Yap Thiam Hiem Award ini mengalami luka tembak di bagian alat vitalnya. 

Pakar forensik almarhum Abdul Mun'im Idries, pun menyatakan Marsinah tewas akibat pendarahan dalam rongga perut. Sementara dalam persidangan terungkap Marsinah ditusuk alat vitalnya dalam waktu yang berbeda. Namun dalam laporan hasil visum, hanya ada 1 luka.

Berkaca dari peristiwa sadis yang dialami RA Kartini dan Marsinah, muncul sebuah pertanyaan. Mengapa membungkam suara dan pemikiran wanita Indonesia harus dengan cara dibunuh dengan sadis?

(KIY)