Viral Pendeta Mualaf dan Ngaku Setubuhi 11 Pelayan Wanita, Ini Videonya

Selasa, 07 Juli 2020 – 15:30 WIB

Viral Pendeta Mualaf dan Ngaku Setubuhi 11 Pelayan Wanita, Ini Videonya

Viral Pendeta Mualaf dan Ngaku Setubuhi 11 Pelayan Wanita, Ini Videonya

JAKARTA, REQnews - Masyarakat dihebohkan video pria yang mengaku pendeta dan memilih berpindah agama Islam atau mualaf. Dalam video yang viral itu, ia menceritakan pengalamannya mendapat gaji Rp 4 juta tiap bulan saat menjadi pendeta.

Adalah akun Twitter @PakatDayak, yang memposting video itu pada Minggu 5 Juli 2020. Video berdurasi 1.54 menit itu, memperlihatkan seorang pria yang duduk di antara dua pria lain.

Tiga orang lainnya, memakai baju koko dan peci serta duduk bersila di depan mimbar sebuah masjid. Tampak mantan pendeta itu duduk di tengah memegang microphone.

Pria yang belum diketahui identitasnya itu menceritakan bahwa dirinya sejak kecil dididik untuk menjadi pendeta muda. "Saya sekolah di STT Palangkaraya, Sekolah Tinggi Teologi Tangkiling. Satu tahun di sana. Tahun 2012 saya lulus, saya jadi pendeta muda," kata pria itu.

Saat menjadi pendeta, ia mengaku mendapatkan fasilitas seperti rumah dan kendaraan. "Yang orang Islam masuk ke dalam Kristen, itu kami begitu bahagia. Apapun yang ada itu dikasih semua fasilitas, termasuk saya," katanya.

"Saya tidak sombong, (digaji) Rp 4 juta satu bulan. Mobil, motor yang saya bawa ini itu hasil dari gereja itu sendiri, hasil dari saya khutbah dimana-mana."

Bahkan ia mengklaim kalau menjadi pendeta juga diberikan wanita pelayan. Yang mengerikan, saat dirinya sebagai pendeta dirinnya mengaku meniduri para wanita pelayan tersebut. "Termasuk pembantu cewek. Saya maaf bukan saya ini, di dalam 11 pembantu itu semuanya saya tiduri," ucapnya.

"Itu dosanya sudah ditebus pak, tenang aja. Bagi saya itu enggak apa, dosa saya, saya seorang pendeta, ngapain mikir dosa," kata dia.

Akun @PakatDayak yang mengunggah video ini pun mengomentari pengakuan pria tersebut. "Kalau ente mau pindah agama ya hak anda.. Tapi jangan ngibul begini," ujar @PakatDayak.

"Saya lho orang Palangkaraya. Di mana itu pendeta dikasi fasilitas ++ macam itu di Palangkaraya? Jadi pendeta itu pelayanan dan susah seringkali dikirim ke pedalaman kampung tanpa fasilitas memadai.. Picik sekali," ujarnya.

Setelah lulus STT, diakunya tidak dapat langsung ditasbih menjadi pendeta. Masa praktek sebagai vikaris harus ditempuh terlebih dahulu. "Saya juga lulusan STT tapi nggak setahun macam dia. Nggak jadi pendeta pulak," kata @PakatDayak.

Ia melanjutkan, "Tapi saya tahu betapa susahnya untuk dapat gelar Sarjana Theologia. Dikirim ke pelosok untuk melayani bukan dilayani. Hasil praktek jelek, ya kirim lagi ke tempat lain sampai lulus praktek."