IFBC Banner

Cieee..Luhut Binsar dan Dandhy Laksono Saling Sindir 'Sexy Killers'

Kamis, 25 April 2019 – 12:30 WIB

Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan

Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan

JAKARTA, REQnews - Film dokumentar 'Sexy Killers' garapan Watchdoc yang viral beberapa waktu lalu 'menyindir' perusahaan PT Toba Bara Sejahtera milik Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan. Luhut punya sebagian saham di perusahaan tambang batu bara tersebut.

Asal tahu saja, PT Toba Bara Sejahtera (TOBA) adalah induk perusahaan dari PT Adimitra Baratama Nusantara, pemilik IUP di Sanga-sanga, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Perusahaan ini diduga menjadi penyebab kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambangnya (Sexy Killers menit ke 22:21). 

Sayangnya, Luhut hanya bisa menanggapi dengan singkat tanpa melihat substansi film yang mengulas dampak penggalian tambang batu bara dan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) tersebut. 

"Tidak benar itu. Kurang kerjaan itu," kata Luhut beberapa waktu lalu di Jakarta. 

Sebagai informasi, menurut data hasil penelitian Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) yang mengungkap, PT Toba Bara Sejahtera punya empat anak perusahaan dan 50 tambang. Artinya, perusahaan ini menguasai 15 ribu hektare. 

TOBA juga disebut-sebut ikut menjadi salah satu pihak yang menambang batu bara sampai dikirim ke berbagai kawasan untuk pembangunan PLTU. 

Menanggapi pernyataan Luhut, sutradara Sexy Killers sekaligus pendiri Watchdoc, Dandhy Dwi Laksono mengaku tak ambil pusing. "Saya baru akan merespons kalau nanti Pak Luhut sudah mengomentari substansi filmnya,” kata Dandhy. 

Dandhy pun balik bertanya soal kapasitas Luhut yang mengomentari filmya tersebut. Apakah Luhut merespons Sexy Killers dalam kapasitasnya sebagai seorang Menko Maritim atau pebisnis. 

"Beliau merespons sebagai pejabat publik yang membuat keputusan-keputusan di bidang energi, atau sebagai pemegang saham perusahaan energi dari hulu hingga hilir?," tanya Dandhy. 

Komentar sinis Luhut tersebut juga ditanggapi Merah Johansyah selaku Koordinator Jatam. "Kami anggap komentar Luhut sebagai reaksi sebagai seorang pengusaha batu bara yang panik," ujar Merah. 

Kata dia, jika Luhut bersikap sebagai seorang menteri seharusnya memberikan komentar soal bagaimana mencari solusi atas masalah tambang. Jatam pun menantang Luhut membuktikan film bikinan Watchdoc dan data hasil penelitian Jatam memang salah. 

Jika data tersebut salah, klaim tidak benar dari Luhut dapat dibenarkan. "Kenyataannya kan dia langsung reaksioner gitu, kan. Karena bukti film Sexy Killers tak bisa dibantah. Kalau berani, kami tantang dia datang dan bertemu dengan masyarakat yang menjadi korban tambangnya dia," ucap Merah. 

Sebagai informasi, dalam film tersebut banyak perusahaan tambang yang membuat kerusakan lingkungan dan korban jiwa. Misalnya, udara yang tercemar, kurangnya air bersih, tidak ditutupnya sisa galian tambang, dan mengambil lahan kerja transmigran yang sebagian besar bertani. 

Bahkan tak sedikit anak kecil yang menjadi korban karena tenggelam di galian bekas tambang yang tak ditutup oleh perusahaan tambang. Padahal, hal itu bisa diantisipasi jika penambang lebih hati-hati dengan menutup galian tersebut. 

Contoh lainnya, salah satu warga yang tinggal dekat dengan pembangunan PLTU diceritakan terkena kanker hingga meninggal karena menghisap udara dari pembangkit itu. Warga itu sempat dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Dharmais, Jakarta. 

Selain itu, lahan warga yang digunakan untuk bertani juga diambil paksa. Padahal, belum ada perjanjian penjualan lahan sawah antara warga dan pengusaha. 

Secara keseluruhan, penambangan batu bara terjadi untuk memenuhi kebutuhan listrik di berbagai wilayah di Indonesia. Luhut bukan satu-satunya pejabat yang disebut dalam film tersebut, tapi juga ada Presiden Joko Widodo (Jokowi), termasuk Cawapres nomor urut 2 Sandiaga Uno. (RYN)