Bocor Isi WA Pinangki dan Anita Sebut Nama JA, ST Burhanuddin?

Rabu, 16 September 2020 – 16:45 WIB

Bocor Percakapan WA Pinangki dan Anita, Sebut Nama JA! Ini Isinya

Bocor Percakapan WA Pinangki dan Anita, Sebut Nama JA! Ini Isinya

JAKARTA, REQnews - Isi percakapan Jaksa Pinangki Sirna Malasari dan pengacara Anita Dewi Kolopaking via WhatsApp bocor ke publik. Dari isi chat yang ditunjukkan oleh Koordinator MAKI Boyamin Saiman, terungkap penyebutan nama Rahmat dan JA.

Hal itu disampaikan Boyamin ke wartawan pada Rabu 16 September 2020 di Jakarta. Tampak ada percakapan Pinangki yang berniat mengajak Rahmat untuk bertemu seseorang yang disebutnya sebagai JA.

Selama ini, JA biasa digunakan sebagai sebutan untuk Jaksa Agung. Belum diketahui, apakah benar sebutan JA itu ditujukan untuk Jaksa Agung ST Burhanuddin.

Berikut isi percakapan tersebut:

Anita: Met Sore Mba

Pinangki: Rabu atau Kamis gmn?

Anita: Sy baru selesai meeting, Apa mau skrg?

Pinangki: Skr jg sama euy

Pinangki: Rabu aja ya

Pinangki: Siang2 gitu

Pinangki: Km raby paginya sy antar rahmat menghadap JA

Anita: Ok Rabu siang ya..

Kasus suap Djoko Tjandra yang melibatkan Jaksa Pinangki Sirna Malasari serta Anita Kolopaking, dinilai penanganannya sudah salah kaprah sejak awal. Kondisi itu mengakibatkan terjadi tebang pilih dan upaya melindungi satu sama lain di kalangan aparatur.

Menurut Ketua Presidium IPW, Neta Pane, seharusnya saat melihat begitu banyak institusi dan aparatur yang terlibat, kasus ini seharusnya ditangani tim independen yang diketuai Menko Polkam di mana Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi “leader”.

"Sebab dalam memburu gratifikasi uang segar di balik kasus Joko Tjandra, kami melihat dalam kasus ini ada gratifikasi uang, gratifikasi asmara dan gratifikasi seks," kata Neta di Jakarta, Minggu 13 September 2020.

Jika dipetakan, lanjutnya, kasus Joko Tjandra melibatkan begitu banyak institusi mulai NCB Polri, Bareskrim Polri, Polda Kalbar, Imigrasi, Kelurahan, Dukcapil, Kejaksaan, Pengadilan dan lain-lain.

"Jika hanya Polri yang mengusut, tentu Polri tidak akan mampu. Polri sendiri kerepotan mengusut di internalnya, bagaimana kepolisian mampu mengusut dugaan keterlibatan oknum di eksternal Polri," ujarnya.

Jadi jangan heran, lanjutnya, jika laporan Wakil Ketua Gerindra Arief Puyuono tentang dugaan keterlibatan Ketua PN Jaksel tak kunjung diproses polisi.

Sebab jika pola penanganan kasus Joko Tjandra dilakukan secara parsial, kasus ini tidak akan tuntas secara terang benderang hingga ke akar-akarnya. Kasus ini hanya menyerang ng kelompok-kelompok tertentu yang tidak punya backing kuat atau backing-nya sudah rontok.

"Sebab itu, jika kasus Joko Tjandra memang mau dituntaskan, Presiden harus membentuk tim independen yang diketuai Menko Polhukam. Sehingga semua yang terlibat bisa dijerat oleh hukum."

(Apriel)