WA Pinangki: Sy Antar Rahmat Menghadap JA

Kamis, 17 September 2020 – 10:50 WIB

Koordinator MAKI Boyamin Saiman membocorkan isi percakapan WhatsApp Jaksa Pinangki Sirna Malasari dan pengacara Anita Dewi Kolopaking ke publik.

Koordinator MAKI Boyamin Saiman membocorkan isi percakapan WhatsApp Jaksa Pinangki Sirna Malasari dan pengacara Anita Dewi Kolopaking ke publik.

JAKARTA, REQnews - Koordinator MAKI Boyamin Saiman membocorkan isi percakapan WhatsApp Jaksa Pinangki Sirna Malasari dan pengacara Anita Dewi Kolopaking ke publik. Isi chat tersebut berisikan rencana Pinangki yang mempertemukan Rahmat dengan JA.

Selama ini, JA biasa digunakan sebagai sebutan untuk Jaksa Agung. Belum diketahui, apakah benar sebutan JA itu ditujukan untuk Jaksa Agung ST Burhanuddin. "Km rabu paginya sy antar rahmat menghadap JA," begitu diduga isi chat Pinangki kepada Anita Kolopaking.

Informasi itu disampaikan Boyamin ke wartawan pada Rabu 16 September 2020 di Jakarta. Rahmat merupakan saksi dalam kasus Djoko Tjandra, yang statusnya kini dicekal Kejaksaan Agung (Kejagung) bepergian ke luar negeri.

Permintaan pencekalan diajukan Kejagung ke Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM. Pencekalan itu sendiri selama 6 bulan terhitung sejak Agustus 2020. "Rahmat dicekal sejak 10 Agustus, selama 6 bulan," kata Direktur Penyidikan (Dirdik) pada Jampidsus Kejagung Febrie Adriansyah, kepada wartawan di Gedung Bundar Jampidsus Kejagung, Rabu, 16 September 2020.

Diketahui sebelumnya, Rahmat, telah diperiksa penyidik Jampidsus. Dalam pemeriksaan tersebut, penyidik menyelidiki peran Rahmat hingga bisa memperkenalkan jaksa Pinangki dengan Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra.

Berikut isi percakapan lengkap WhatsApp antara Pinangki dan Anita tersebut:

Anita: Met Sore Mba

Pinangki: Rabu atau Kamis gmn?

Anita: Sy baru selesai meeting, Apa mau skrg?

Pinangki: Skr jg sama euy

Pinangki: Rabu aja ya

Pinangki: Siang2 gitu

Pinangki: Km raby paginya sy antar rahmat menghadap JA

Anita: Ok Rabu siang ya..

Kasus suap Djoko Tjandra yang melibatkan Jaksa Pinangki Sirna Malasari serta Anita Kolopaking, dinilai penanganannya sudah salah kaprah sejak awal. Kondisi itu mengakibatkan terjadi tebang pilih dan upaya melindungi satu sama lain di kalangan aparatur.

Menurut Ketua Presidium IPW, Neta Pane, seharusnya saat melihat begitu banyak institusi dan aparatur yang terlibat, kasus ini seharusnya ditangani tim independen yang diketuai Menko Polkam di mana Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi “leader”.

"Sebab dalam memburu gratifikasi uang segar di balik kasus Joko Tjandra, kami melihat dalam kasus ini ada gratifikasi uang, gratifikasi asmara dan gratifikasi seks," kata Neta di Jakarta, Minggu 13 September 2020.

Jika dipetakan, lanjutnya, kasus Joko Tjandra melibatkan begitu banyak institusi mulai NCB Polri, Bareskrim Polri, Polda Kalbar, Imigrasi, Kelurahan, Dukcapil, Kejaksaan, Pengadilan dan lain-lain.

"Jika hanya Polri yang mengusut, tentu Polri tidak akan mampu. Polri sendiri kerepotan mengusut di internalnya, bagaimana kepolisian mampu mengusut dugaan keterlibatan oknum di eksternal Polri," ujarnya.

Jadi jangan heran, lanjutnya, jika laporan Wakil Ketua Gerindra Arief Puyuono tentang dugaan keterlibatan Ketua PN Jaksel tak kunjung diproses polisi.

Sebab jika pola penanganan kasus Joko Tjandra dilakukan secara parsial, kasus ini tidak akan tuntas secara terang benderang hingga ke akar-akarnya. Kasus ini hanya menyerang ng kelompok-kelompok tertentu yang tidak punya backing kuat atau backing-nya sudah rontok.

"Sebab itu, jika kasus Joko Tjandra memang mau dituntaskan, Presiden harus membentuk tim independen yang diketuai Menko Polhukam. Sehingga semua yang terlibat bisa dijerat oleh hukum."

(Apriel)