Fakta G30S PKI, Tiga Dokter Bongkar Cara Soeharto Manipulasi Hasil Otopsi

Minggu, 27 September 2020 – 16:30 WIB

Fakta G30S PKI, Tiga Dokter Bongkar Cara Soeharto Manipulasi Hasil Otopsi

Fakta G30S PKI, Tiga Dokter Bongkar Cara Soeharto Manipulasi Hasil Otopsi

JAKARTA, REQnews - Peristiwa pembantaian Dewan Jenderal TNI pada 30 September 1965 belum bisa dilupakan seluruh rakyat Indonesia. Namun pasca Orde Baru runtuh pada 1998, sejumlah fakta kasus itu mulai terungkap. 

Salah satunya soal perbedaan pernyataan Presiden RI ke-2 Soeharto dengan tiga dokter yang mengotopsi jenazah para jenderal yang jadi peristiwa berdarah G30S PKI meletus pada tanggal 30 September 1965.

Tiga dokter tersebut berbasil membongkar fakta hasil otopsi mayat Jenderal Ahmad Yani hingga Mayjen DI Panjaitan. Mereka menyebut kondisi jenazah tak seperti yang disampaikan Soeharto maupun yang diberitakan di media massa.

Selama ini, pemberitaan menyebut para jenderal kemudian dibawa ke sebuah daerah di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Mereka mengalami siksaan hingga tewas mengenaskan.

Mengutip isi buku "Soeharto, Bagaimana Ia Bisa Melanggengkan Kekuasaan Selama 32 Tahun?" karangan Peter Kasenda, disebutkan bahwa beberapa jam setelah pengangkatan jenazah, Soeharto mengeluarkan perintah pembentukan tim forensik.

Tim tersebut terdiri dari Brigjen dr Roebiono Kertopati, dan Kolonel dr Frans Pattiasina. Kemudian ada tiga ahli forensik sipil dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Dr Sutomo Tjokronegoro, dr Laiuw Yan Siang, dan dr Liem Joe Thay.

"Tim itu bekerja secara maraton sejak pukul 16.30 hingga 00.30 WIB di Ruang Otopsi RSPAD Gatot Soebroto," tulis Peter.

Fakta pun terungkap bahwa hasil otopsi mereka berbeda jauh dengan pernyataan Soeharto. "Tim forensik sama sekali tak menemukan bekas siksaan di tubuh korban sebelum mereka dibunuh," kata Peter.

Kala itu media gencar memberitakan para korban disiksa. Namun Prof Dr Arif Budianto atau Liem Joe Thay mengatakan, kondisi jenazah para jenderal itu tidak seperti diberitakan oleh media massa.

"Kami memeriksa penis-penis korban dengan teliti. Jangankan terpotong, bahkan luka iris saja juga sama sekali tidak ada. Kami periksa benar itu, dan saya berani berkata itu benar. Itu faktanya," ujar Arif seperti yang dikutip dalam buku tersebut.

Senada akademisi, Benedict Anderson juga menemukan dokumen berisi laporan yang disusun oleh tim forensik. "Ternyata laporan tersebut berseberangan dengan pernyataan Soeharto sendiri," tulis Anderson dalam buku Tentang Matinya Para Jenderal.