Foto Oknum Satpol PP Banting Wanita dan Remaja Desa Pubabu-Besipae, Ada yang Dicekik

Sabtu, 17 Oktober 2020 – 14:30 WIB

Ibu rumah tangga di Pubabu yang pingsan usai dibanting oknum Satpol PP

Ibu rumah tangga di Pubabu yang pingsan usai dibanting oknum Satpol PP

JAKARTA, REQnews - Pemandangan kekerasan yang dilakukan oknum aparat kembali terjadi. Kali ini yang menjadi korban adalah para ibu rumah tangga dan remaja di Desa Pubabu-Besipae, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). 

Parahnya, mereka sampai ada yang dicekik lehernya hingga dibanting ke tanah. Dari catatan REQnews yang merangkum pelbagai sumber, Sabtu 17 Oktober 2020, para korban tercatat berjumlah 5 orang. 

Mereka adalah Debora Nomleni, remaja berusia 19 tahun. Kemudian Demaris Tefa perempuan berusia 48 tahun, Giarsi Tanu berusia 10 tahun, Novi Tamonob berusia 15 tahun dan Marni Saseseb perempuan berusia 28 tahun. 

Korban yang mendapat kekerasan paling parah adalah Demaris. Ia dicekik serta dibanting dan mengakibatkan pingsan serta lehernya terluka. Sementara Novi bernasib sama, yakni ditendang, dibanting hingga jatuh ke lumpur. 

Aksi kekerasan itu pun viral media sosial karena terekam video. Diketahui Bentrokan terjadi pada Rabu 14 Oktober lalu sekitar pukul 12.00 Wita.

Kejadian tersebut berawal saat sejumlah aparat Pol PP, TNI, dan Polri datang ke lahan sengketa di Pubabu-Besipae. Mereka hendak melakukan penghijauan dengan penanaman pohon lamtoro di lahan sengketa.

Karena masih bersengketa dan masih pandemi Covid-19, warga menolak kegiatan tersebut. Saat dikonfimasi, tokoh masyarakat Desa Pubabu Niko Manoe membenarkan penganiayaan tersebut.

Ia mengatakan kejadian tersebut berawal dari lahan sengketa di wilayah Desa Pubabi. Di hari kejadian, petugas Satpol PP dan DInas Peternakan Provinsi NTT melakukan kegiatan di lahan sengkat tersebut.

“Benar, ada kejadian itu, seperti video yang beredar di media sosial. Kejadian bermula sekitar jam 12.00 WITA, siang tadi hingga akhirnya ada tindakan represif dari pihak pemerintah provinsi kepada warga kami,” kata Niko. 

Kejadian ini pun mendapat perhatian dari sejarawan JJ Rizal. Ia menuliskan cuitan di akun Twitternya dan mention ke Presiden Joko Widodo. 

Berikut cuitannya, "pak presiden @jokowi pemandangan kekerasan aparat negara kian sering terlihat di desa maupun kota

mohon jgn dibiarkan krn merusak rasa nasionalisme kita, ingat pesan sukarno: "nasionalisme yang sejati, nasionalismenya itu timbul dari rasa cinta akan manusia dan kemanusiaan."

Sementara Kasat Pol PP NTT Cornelis Wadu membantah telah melakukan aksi kekerasan di Desa Pubabu-Besipe. "Itu tidak benar. Nanti untuk lebih jelasnya konfirmasi langsung ke Plt Kepala Badan Pendapatan dan Aset Daerah NTT Weli Rohimone," ujar dia.

Hal senada juga dikatakan Plt Badan Pendapatan dan Aset Daerah Welly Rohi Mone. Ia mebantah telah melakukan kekerasan pada warga.

Bahkan ia mengklaim anak buahnya menjadi korban karena mengalami memar di bagian kepala. Ia mengaku telah melaporkan dugaan penganiayaan tersebut ke Polsek Amanuban Selatan. “Ini baru selesai visum. Kami sudah buat laporan, karena staf saya alami penganiayaan,” jelasnya.

Welly Rohi Mone mengatakan kedatangan Pemprov NTT dan Koresm 161 Wirasaksti Kupang di lahan sengketa tersebut untuk meninjau lahan yang akan dimanfaatkan untuk Program Tanam Jagung Panen Sapi.

Saat itu warga melarang mobil mengisi air sehingga terjadi tarik menarik selang antara warga dan petugas keamanan. Kata Welly, saat tarik menarik itu seorang ibu terpeleset dan terjatuh. Lalu salah satu stafnya mencoba membantu ibu yang terjatuh tersebut.

Namun saat akan membantu, Welly mengatakan stafnya malah dipukul. “Orang belum pegang sudah jatuh. Satu ibu terpeleset, namun hendak ditolong, justru dipukul,” katanya.

Kejadian penganiayaan oleh petugas Sat Pol PP dan sejumlah pria itu terekam di video berdurasi 2 menit 50 detik dan viral di media sosial.