10 Pertempuran Maut di Vietnam, Nomor 7 Terjadi di Bukit Hamburger

Minggu, 18 Oktober 2020 – 21:00 WIB

Ilustrasi Perang Vietnam (Foto: Istimewa)

Ilustrasi Perang Vietnam (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews -  Ada dua perang dalam kurun waktu 30 tahun yang mengobarkan semangat pejuang di Vietnam. Yakni perang melawan Prancis 1946-1954, dan perang melawan Amerika Serikat (AS) 1955-1975.

Namun ada yang menyebut perang melawan Prancis adalah Perang Indochina pertama, dan perang melawan AS adalah Perang Indochina Kedua. Sebabnya kedua perang melibatkan Laos dan Kamboja, dua negara yang masuk kawasan Indochina. 

Mengutip situs warhistoryonline punya sebutan lain. Dua perang itu adalah perang internasional, yang pertama dikomandani Prancis dan kedua dipimpin AS, melawan komunis Vietnam. 

Saat itu Washington percaya perang di Vietnam untuk menyelamatkan negara itu dari komunis. Vietnam (Utara) menyebut perang melawan AS adalah kelanjutan dari perang melawan kolonialisme. 

Perang Indochina Kedua, popular dengan sebutan Perang Vietnam, berlangsung sepuluh tahun. Perang berakhir dengan kekalahan memalukan di pihak AS. Namun, selama 20 tahun itu, ada sepuluh pertempuran paling mematikan yang melibatkan dua kekuatan.

1.      Pertempuran Ap Bac

Pada 28 Desember 1961, intelejen AS melaporkan adanya konsentrasi besar pasukan Vietnam Utara di dekat Ap Bac, jauh di dalam wilayah Vietnam Selatan. Infantri ketujuh Tentara Republik Vietnam Selatan (ARVN) diperintahkan menggempur mereka dengan semua senjata yang diberikan AS.

Pertempuran berlangsung berbulan-bulan, dan melibatkan semua kendaraan tempur dan persenjataan. Pada 2 Januari 1963, helicopter AS menerjunkan personel ARVN di sebuah desa. Yang terjadi adalah bencana. Semua pasukan Vietnam Selantan menjadi santapan peluru, dan lima helicopter AS ditembak jatuh.

Sejak saat itu, AS merasa perlu terlibat langsung dalam perang.

 

2.      Pertempuran Pleiku

AS perlu pembenar untuk terlibat dalam perang di Vietnam. Dibuatlah Insiden Teluk Tonkin. AS menuduh Vietnam Utara menyerang kapal perangnya di Teluk Tonkin. Washington merasa perlu membalas, dengan membom Vietnam Utara. Situasi ini memaksa Uni Soviet terlibat.

Vietnam Utara merespon serangan udara AS dengan menyerang basis-basis tentara Paman Sam di Vietnam Selatan. Tahun berikutnya Batalion 409 Viet Cong (VC) menyerang Kamp Holloway, pangkalan helicopter AS di Pleiku pada 6 Februari, Kompi 30 Viet Cong menyerang pangkalan AL AS di Vietnam Selatan.

Di Washington, Pertempuran Pleiku menyadarkan Presiden Lyndon Johnson untuk tidak meningkatkan keterlibatakan negaranya dalam perang di Vietnam. Ia khawatir Cina dan Kuba punya alasan untuk terlibat di Vietnam.  

 

3.      Pertempuran Van Tuong 

Prajurit AS menyebutnya Operasi Starlite. Operasi berlangsung 18 Agustus 1965, dan tercatat sebagai serangan AS pertama terhadap markas Viet Cong (VC). 

Bermula dari pembelotan seorang serdadu VC. Kepada komandan militer AS, sang pembelot mengatakan Vietnam Utara berencana menyerang Pangkalan Udara Chu Lai di Van Tuong. AS memutuskan melancarkan serangan preemptive. 

Menggunakan helicopter dan tank, AS menyerang perbatasan Vietnam Utara. Dari laut, kapal-kapal AS melancarkan tembakan dukungan. Operasi berakhir 24 Agustus dengan kemenangan telak di kubu AS. Sebanyak 614 VC tewas. AS hanya kehilangan 45 serdadu. 

Vietnam Utara mengklaim memenangkan perang itu, karena berhasil menahan pasukan AS memasuki wilayahnya.  

 

4.      Pertempuran La Drang 

Ini pertempuran pertama antara AS dan Vietnam Utara tahun 1965. Pertempuran dimulai dengan serangan VC ke kamp pasukan khusus AS di Plei Mei, Oktober tahun itu. AS melancarkan tiga serangan balik dengan menyerbu tempat-tempat peristirahatan VC di wilayah Kamboja. 

Tahap kedua serangan VC terjadi 14 sampai 18 November. Kali ini VC menyerang pasukan AS, yang diterjunkan dengan helicopter, secara konvensional. Sasaran VC adalah basis pasokan utama pasukan AS.

Alih-alih menggunakan taktik gerilya, VC justru terlibat dalam perang terbuka. AS memukul mundur VC. Kedua pihak kehilangan banyak personel, tapi saling klaim kemenangan. 

Pertempuran La Drang mengajarkan AS untuk tetap menggunakan keunggulan di udara. Di sisi lain, VC sadar mereka tidak bisa menandingi AS dalam perang terbuka, dan harus kembali ke taktik perang gerilya.

 

5.      Pertempuran Khe San 

Pada 21 Januari 1968, VC menyerang garnisun mariner AS di Khe San dan mengepungnya sampai 9 Juli. Viet Cong (VC) menggunakan rudal antipesawat untuk mencegah jet tempur dan helicopter AS memasok bantuan. 

Maret 1968 AS melancarkan Operasi Pegasus, untuk memberi pasokan dan bantuan ke pangkalan militer. Upaya itu gagal, dan AS kehilangan banyak personel. Pada 19 Juni, AS melancarkan Operasi Charlie, yang diawali penembakan besar-besaran ke posisi VC. 

VC kalah telak, dan kehilangan banyak serdadu. Namun, pengepungan itu membuat Vietnam Utara leluasa menggerakan pasukan dan menempatkannya jauh ke dalam wilayah Vietnam Selatan. 

 

6.      Ofensif Tet

Orang Vietnam menggunakan penanggalan Cina. Tahun baru Vietnam, disebut Tet, jatuh bertepatan Imlek – tahun baru dalam penanggalan Cina. 

Salah satu episode paling berdarah dalam Perang Vietnam adalah Ofensif Tet, atau serangan Vietnam Utara dan Viet Cong saat malam pergantian tahun. Serangan terjadi pada malam 30 Januari 1968, ketika sebagian besar penduduk Vietnam merayakan pergantian tahun, sedangkan militer AS dan Vietnam Selatan terfokus ke Khe San. 

Saat itu Vietnam Utara dan VC menyerang pangkalan militer, kantor pemerintah, kedutaan asing, dan mengeksekusi warga sipil simpatisan AS. Serangan berlanjut sampai 28 Maret, dan berakhir dengan kekalahan Vietnam Utara dan VC di seluruh dari 100 kota yang diserang.

Meski kalah, rejim komunis Vietnam Utara terhibur karena memperoleh kemenangan psikologis. Di AS, teriakan antiperang semakin nyaring, dan Ofensif Tet menjadi awal kekalahan Vietnam Selatan. 

 

7.      Pertempuran di Bukit Hamburger

Angkatan Darat Vietnam Utara telah lama berpangkalan di Bukit Hamburger di dalam wilayah Vietnam Selatan. Pasukan gabungan AS-Vietnam Selatan diperintahkan mengusir mereka.

Pada 10 Mei 1969 Divisi 101 Airborne, Resimen Marinir ke-9, Resimen Kaveleri ke-5, dan Resimen Kavaleri ke-3 Vietnam Selatan, menyerang posisi Angkatan Darat Vietnam di Bukit Hamburger. AS dan Vietnam mengalami kerugian besar, tapi sukses merebut bukit strategis itu pada 20 Mei. 

Alih-alih menguasai dan mengamankan bukit itu, pasukan yang mabuk kemenangan diperintahkan menarik diri. Merasa tak dihargai, tentara AS dan Vietnam Selatan marah dan frustrasi. Publik AS tahu, dan kian mengobarkan demo antiperang. 

Di level strategis, AS terpaksa memikirkan kembali strategi militer ‘tekanan maksimum’ terhadap Vietnam Utara menajdi ‘reaksi pelindung.’

 

8.      Ofensif Paskah 

AS berusaha mengakhiri perang dengan merancang Perjanjian Damai Paris 27 Januari 1973. Vietnam Utara setuju tapi berusaha meningkatkan daya tawar dengan menekan AS agar menarik diri. Caranya, menyerang Vietnam Selatan secara besar-besaran pada 30 Maret 1972.

Gelombang besar pasukan Vietnam Utara dan VC tanpa kesulitan merebut Quang Tri, Hue, An Loc, dan Kon Tum. AS merespon dengan menggelar carpet bombing. Vietnam Selatan merebut kembali Quang Tri, tapi gagal mengalahkan Vietnam Utara di 10 persen wilayahnya. 

Pertempuran berakhir 22 Oktober. Vietnam Utara dipukul mundur, tapi bertahan di wilayah yang direbut. Daya tawar Vietnam Utara di Perjanjian Damai Paris meningkat.  

 

9.      Pertempuran Xuan Loc

Sukses merebut Hue, An Loc, dan Kon Tum, membuat Vietnam Utara berambisi merebut sebanyak mungkin wilayah Vietnam Selatan. Pada 19 April 1975, Vietnam Utara memasuki Propinsi Nai Nai – pertahanan terakhir dan jalan menuju Saigon, ibu kota Vietnam Selatan.

Divisi Infanteri ke-18 Vietnam Selatan yang berpangkalan di Xuan Loc relatif mampu menghentikan gerakan pasukan Vietnam Utara selama 12 hari. Pada 21 April, Presiden Vietnam Selatan Nguyen Van Thieu memerintahkan seluruh pasukan di Xuan Loc mundur dan fokus mempertahankan Saigon. 

Kekacauan tak terhindarkan saat pasukan Vietnam Selatan dan warga sipil pro AS melarikan diri dari Xuan Loc menuju Saigon. Pasukan Vietnam Utara tak henti mengganggu mereka, dengan maksud memperkeruh suasana.  

 

10.  Kejatuhan Saigon

Setelah Xuan Loc jatuh, seluruh sistem pemerintahan Vietnam Selatan ambruk. Di Saigon, warga sipil dan sisa-sisa tentara Vietnam Selatan bukan sibuk melakukan perlawanan terakhir, tapi melarikan diri. Kekacauan luar biasa terjadi di semua sudut kota.

Xuan Loc hanya berjarak 26 mil dari Saigon, dan pasukan Vietnam Utara terus bergerak. AS sempat berpikir menggunakan senjata nuklir untuk menghentikan laju Vietnam Utara, tapi terlalu berisiko. AS tahu semua itu tidak berguna, dan senjata nuklir hanya akan menimbulkan korban sipil lebih banyak dan memicu kemarahan Uni Soviet dan Cina.

Pada 27 April Saigon terkepung. Dua hari kemudian penembakan dari pinggir kota dimulai. Ada perlawanan, tapi minimal. Pada 30 April tentara Vietnam Utara memasuki Saigon dan disambut ribuan warga sipil yang bersimpati kepada mereka.

Di Kedubes AS, evakuasi warga sipil AS dan Vietnam Selatan berubah menjadi kekacauan. Tentara Vietnam Selatan tidak bereaksi, karena perang telah berakhir.