REQNews.com

Kisah Nyata Teror Pocong Sukowati 1975 Menuntut Keadilan di Temanggung

The Other Side

Jumat, 30 Oktober 2020 - 14:00

Ilustrasi Pocong (Foto: Istimewa)Ilustrasi Pocong (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Temanggung, sekitar pertengahan November 1973. Sukowati, wanita berusia 23 tahun, hidup bersama sang nenek usai ditinggal orang tuanya meninggal dunia.

Saat itu, Wati adalah bunga desa dan terkenal cerdas serta religius. Wajar jika banyak yang melamar dari pria kaya hingga orang biasa.

Namun lamaran itu ditolaknya lantaran wanita cantik ini sudah menjalin hubungan dengan pujaan hatinya, yakni Bondan.

Sayangnya, hubungan mereka terlarang karena tak disetujui oleh nenek Wati, pun ayah dari Bondan dengan sebuah alasan keduanya pernah menjadi lawan politik, yakni sama-sama calon lurah setempat.

Bondan pun akhirnya menikah pada akhir tahun 1974. Namun bukan dengan Wati. Padahal, pria ini sudah berjanji takkan menikah denganw wanita selain Wati.

Apalagi Wati sedang mengandung anak Bondan. Karena tahu dikhianati sang kekasih, Wati memilih bunuh diri dan mayatnya ditemukan gantung diri di kamarnya.

Yang bikin ngeri, mayat Wati ditemukan warga setelah 7 hari kematiannya. Pasca kejadian tragis ini, warga setempat diteror hantu pocong, yang konon katanya sosok arwah Wati yang mencari keadilan.

Peristiwa horor itu terjadi tepat 3 hari setelah kematian Wati. Masih ingat kan nenek wati yang sedang sakit? Selang 40 hari kematian wati, sang nenek sehat bugar bahkan bicaranya pun mulai agak lancar. Sepeninggal wati, nenek di urus keperluannya oleh warga sekitar, karena dulunya beliau dikenal dermawan dan baik.

Kondisi itu membuat warga iba, dan mencoba membalas kebaikannya dengan saling bekerjasama mengurus keperluan beliau. Singkat cerita, di suatu sore, sekitar pukul 17.00, nenek berjalan tergopoh-gopoh menggunakan tongkatnya, berjalan menghampiri kerumunan warga yang sedang ngobrol-ngobrol di depan mushola.

"Wonten nopo mbah?(ada apa nek?) sahut salah satu warga..
"Wati bali, nggowo bayi" (wati pulang, bawa bayi) kata nenek, warga kebingungan dong..
"Wati sinten mbah?(wati siapa nek?)
"Sukowati!!!" putuku!!(Sukowati!! Cucuku!!) dengan nada meningg
"Njo tiliki nek ra ngandel!!"(ayo lihat, kalo tidak percaya) kata nenek lagi.

Kemudian berkerumunlah warga yang penasaran, bersama-sama membuktikan omongan nenek, dan setelah dilihat memang tidak ada siapa-siapa di situ. Tapi warga tetap bergidik ngeri, pasalnya nenek ngotot sekali bahwa cucunya yang mati bunuh diri itu, kembali pulang kerumah dengan membawa bayi sore itu, sebagian warga juga menganggap mungkin nenek saking kangennya dengan cucunya sampe berhalusinasi seperti itu.

Selang beberapa hari kemudian, salah satu warga bernama Sarjono pulang dari desa sebelah. Naik sepeda ontelnya di jalan desa yang waktu itu sepi.

Tiba-tiba Sarjono melihat wanita dari kejauhan berjalan di depannya, pakaiannya dress batik, dengan slendang seperti sedang menggendong bayi. Semakin mendekat, seperti bau anyir, dan dari belakang jarak kira-kira 5 meter ada yang janggal. Pakaian wanita tersebut seperti basah, namun merah, seperti darah.

Sarjono pun menghentikan sepedanya, sesaat kemudian sosok itu berhenti berjalan, dan membalikkan badannya, sambil terus tersenyum jahat, sosok itu berbicara sekali "MASSSS!!!!" dan berjalan mundur cepat sekali. Dan menghilang di kabut ujung desa, Sarjono berlari meninggalkan sepedanya.

Setelah bertemu warga, Sarjono bersumpah bahwa yang dilihat itu adalah Sukowati. Sebab dia hafal dengan tahi lalat di bawah matanya, kejadian itu sangat cepat dan merubah cara berpikir dari tidak percaya menjadi sangat percaya adanya pocong.

Katanya sampai sekarang di waktu tertentu Pocong ini masih menampakkan diri hingga menjadi urban legend di desa Temanggung.

Redaktur : Ryan Virgiawan

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.