Kisah Radio Malabar, Aset Gunung Puntang Pemilik Pemancar Terbesar di Dunia

Minggu, 22 November 2020 – 16:02 WIB

Radio Malabar (Foto: Istimewa)

Radio Malabar (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Niat baik musisi Erdian Aji Prihartanto atau Anji ingin mengembalikan kejayaan Radio Malabar dibalas dengan laporan polisi. Anji diduga melakukan perusakan situs bersejarah di Gunung Puntang tersebut. 

Padahal, Anji hanya ingin memelihara aset bangunan Radio Malabar Puntang. Dulu, bangunan ini dikenal pemilik sinyal pemancar terbaik di dunia pada zaman Belanda.

"Pihak @perumperhutani pun bilang, selama puluhan tahun baru sekali ini bangunan Radio Malabar dibersihkan hingga segitunya hingga terlihat aura dan wibawanya. Selama ini bangunan itu tertutup tanah dan semak belukar hingga jarang orang datang melihat. Area bekas kolam cinta pun hanya dibuat sebagai tempat duduk, tempat jemuran baju basah dan tempat sampah,” kata Anji.

REQnews pun mencoba mengulas seperti apa sih masa kejayaan Radio Malabar di Gunung Puntang, Bandung. Mengutip pelbagai sumber, kisah radio ini muncul berawal saat berdirinya International Amateur Radio Union (IARU) tahun 1925, wilayah nusantara masih dikuasai oleh Belanda, dan pada saat itu tengah berkecamuk Perang Dunia Pertama.

Pada saat itu, komunikasi antara Netherland dengan Hindia Belanda (julukan untuk wilayah Nusantara) hanya mengandakan saluran kabel Laut yang melintas Teluk Aden yang dikuasai oleh Inggris.

Timbul kekhawatiran Belanda atas saluran komunikasi tersebut, mengingat Inggris terlibat dalam Perang Dunia Pertama tersebut sedangkan Belanda ingin bersikap netral. Maka, dilakukanlah berbagai percobaan dengan menempatkan beberapa stasiun relay di Malabar, Sumatra, Srilanka dan beberapa tempat lagi.

Prof. Dr. Ir. Komans di Netherland berhasil melakukan komunikasi dengan Dr. Ir. De Groot yang menggunakan Radio Malabar di Pulau Jawa. Kejadian ini merupakan titik tolak masuknya Komunikasi Radio di Indonesia, dan Pemerintah Hindia Belanda mendirikan B.R.V. (Batavian Radio Vereneging) dan NIROM.

Hingga lahirlah Radio Malabar, yang berdiri tanggal 5 Mei 1925. Radio ini merupakan pemancar yang menggunakan teknologi arc transmitter terbesar di dunia.

Radio ini memiliki dua buah arc transmitter yang besar dengan kekuatan 2400kW. Arc transmitter ini dibuat oleh Klaas Dijkstra yang bekerja untuk Dr. Ir. De Groot. 

Input power pemancar Radio Malabar adalah 3,6 MegaWatt dan bekerja pada frekuensi 49.2kHz dengan panjang gelombang 6100m dengan menggunakan callsign PMM. Daya untuk pemancar Radio Malabar dibangkitlan oleh sebuah pembangkit tenaga air buatan Amerika yang terletak di Pengalengan dengan tegangan 25kV.

Asal tahu saja, Radio Malabar merupakan cikal bakal amatir radio di Indonesia dan merupakan radio pertama di Indonesia untuk komunikasi jarak jauh. Frekuensi yang digunakan masih sangat rendah dalam panjang gelombang sangat panjang, tidak mengherankan jika antenna yang digunakan harus dibentangkan memenuhi gunung Malabar di Bandung Selatan. 

Sisa-sisa Radio Malabar masih terdapat di sana, yaitu berupa tiang-tiang antena-antena besar dan tinggi di tengah hutan.

Bangunan gedung Stasiun Radio Malabar dibuat menghadap ke negeri Belanda. Lalu antenna ditarik sloop ke atas agar menghasilkan arah pancaran ke negeri Belanda, dengan lembah diantara dua pengunungan tersebut sebagai reflektornya. Sunggguh karya perencanaan kerja yang luar biasa.

Radio Malabar diresmikan penggunaannya oleh Gubernur Jendral Belanda Dirk Fock. Selanjutnya pemancar radio ini menandai dimulainya kegiatan Komunikasi Radio di Indonesia.

Meski kini Radio Malabar tinggal puing-puing, namun sejarahnya patut kita apresiasi sebagai sebuah momen dari awal kegiatan teknik radio di tanah air kita. 

Fasilitas Radio

Special Call YE9ØPK memancar dari lokasi Gunung Puntang, Bandung Selatan, yaitu di tempat stasiun Radio Malabar pernah berdiri. Sedangkan PI9ØPCG memancar dari lokasi eks Stasiun Radio Kootwijk yang gedungnya sendiri masih berdiri tegak hingga saat ini dan sekarang berada dibawah pengelolaan Dinas Kehutanan Belanda.

Radio Malabar memang sangat fenomenal, banyak pihak menyebutkan inilah salah satu pemancar radio terbesar yang pernah ada di muka bumi. Bekerja pada Very Low Frequency (VLF) 49,2 kHz dengan daya 2,5 MegaWatt dan antenna yang membentang diantara dua pegunungan sehingga disebut “berg-antenna”. 

Pemancarnya menggunakan teknologi arc (Poulsen), yaitu busur listrik untuk membangkitkan arus searah listrik menjadi frekuensi radio alternating current. Cara ini mampu menghasilkan gelombang pembawa yang terkendali dan inilah teknologi radio pertama yang bisa digunakan untuk mengirimkan suara (modulasi amplitudo). 

Seiring dengan perkembangan teknologi setelah itu barulah kemudian digunakan pemancar band High Frequency (HF) buatan pabrikan Telefunken, Jerman, yang dianggap jauh lebih efisien.