Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!
Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!

Ini Ancaman Hukuman Bagi Orang yang Menghalangi Penyidikan Kasus Pembunuhan Anjing Lucky

Kamis, 16 Mei 2019 – 10:01 WIB

Anjing Lucky yang dibakar hidup-hidup oleh MM, mantan driver Go Jek

Anjing Lucky yang dibakar hidup-hidup oleh MM, mantan driver Go Jek

JAKARTA, REQnews - Pengungkapan kasus penganiayaan dan pembakaran hidup-hidup seekor anjing bernama Lucky ternyata mendapat rintangan. Yakni saat pengumpulan barang bukti dan saksi kunci di Tempat Kejadian Perkara di wilayah Sunter, Jakarta. 

Hal itu disampaikan Kristian Adi Wibowo dari Yayasan Sarana Metta Indonesia dalam akun instagramnya @christian_joshuapale. "Temen2 sesama driver ojek online si manusia kejam itu selalu berusaha menghalang-halangi bahkan melakukan intimidasi ke nyai dan team. Bahkan saat olah TKPpun kerap teman pelaku dengan keras berteriak ke arah kami dan Bunda Melly dengan teriakan berita bohong, saksi temen2 media melihatnya," kata Kristian. 

Ia juga menyertakan video dalam postingannya, tampak sekelompok orang mencoba menghalangi dirinya untuk membawa saksi kunci kasus ini, dengan membawa isu agama. "Padahal manusia2 ini tidak puasa dan tidak punya wewenang akan saksi kunci kami. Saksi kunci beragama non muslim dan ia tidak puasa, tapi kedua driver ini yg saat itu tidak puasa menghalang2i saksi utk ikut nyai ke kantor polisi padahal ijin dari owner tempat usaha ia bekerja sudah mempersilahkan saksi kunci utk pergi." 

"Nyai diludahin dikatain banci dan bencong agar saksi kunci tidak bisa pergi bersama nyai tapi bukan nyai kalo tidak melawan. Nyai bukan manusia yang cuman jago di keyboard smart phone tapi gw GA AKAN TAKUT selama gw membela kebenaran. Gw bukan jago kandang yg cuman bisa teriak2 doang tapi gw akan lawan siapapun walo itu di kandang mereka sendiri." 

"Dear @gojekindonesia monggo pak dilihat salah satu drivernya yg memakai baju warna pink bernama Ari, akan saya kirim nomer plat motor yg bersangkutan agar segera ditindak. JUSTICE FOR LUCKY!," kata Kristian. 

Menyikapi kasus ini, pakar hukum Retiza Evaning Mahadewi menjelaskan bahwa bagi siapa saja yang menghalang-halangi penyidikan atau menyembunyikan orang yang melakukan kejahatan bisa dijerat pidana. Sekalipun korban dalam kasus ini adalah seekor anjing. 

"Dalam Pasal 221 KUHP, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah," kata Retiza di Jakarta, Kamis 16 Mei 2019. 

Retiza menambahkan, pidana itu berlaku bagi barang siapa setelah dilakukan suatu kejahatan dan dengan maksud untuk menutupinya, atau untuk menghalang-halangi atau mempersukar penyidikan atau penuntutannya, menghancurkan, menghilangkan, menyembunyikan benda-benda terhadap mana atau dengan mana kejahatan dilakukan atau bekas-bekas kejahatan lainnya, atau menariknya dari pemeriksaan yang dilakukan oleh pejabat kehakiman atau kepolisian maupun oleh orang lain, yang menurut ketentuan undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi menjalankan jabatan kepolisian. 

Pasal ini mengancam hukuman kepada orang dengan sengaja menyembunyikan orang yang telah melakukan kejahatan atau yang dituntut karena sesuatu kejahatan, atau menolong orang untuk melarikan diri dari pada penyelidikan dan pemeriksaan atau tahanan oleh polisi dan yustisi. 

"Tentunya pelanggar pasal ini harus tahu bahwa orang yang ia sembunyikan atau ia tolong itu betul telah melakukan kejahatan atau dituntut karena perkara kejahatan," jelasnya. 

Artinya, kata Retiza, jika ada pihak yang ingin menghilangkan jejak adalah menyembunyikan si pelaku pembakaran anjing tersebut, atau menghilangkan bekas kejahatan dengan maksud untuk menyembunyikan kejahatan itu, atau menghancurkan barang bukti yang akan digunakan di pengadilan, maka yang bersangkutan dapat dihukum. (RYN)