Allahu Akbar, Pesawat Garuda Mendarat Darurat di Sungai Bengawan Solo!

Sabtu, 16 Januari 2021 – 12:30 WIB

Pesawat Garuda Indonesia saat mendarat darurat di Bengawan Solo (Foto: Istimewa)

Pesawat Garuda Indonesia saat mendarat darurat di Bengawan Solo (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Innalillahi wa innailahi rojiun, pesawat Garuda Indonesia dengan penerbangan GA 421 mendarat darurat di sungai Bengawan Solo. Itu terjadi lantaran pesawat jenis Boeing 737-300 tersebut mengalami mati mesin saat menembus badai hujan dan es.

Peristiwa yang dialami pesawat rute Lombok-Yogyakarta itu terjadi sekitar pukul 16.00 WIB, 16 Januari 2002 atau 19 tahun silam. Saat itu, pesawat dengan registrasi PK-GWA tersebut ditumpangi 54 orang dan 6 kru. Seluruh penumpang selamat, tetapi seorang kru awak kabin ditemukan tewas, diduga akibat benturan saat pesawat mendarat.

Berdasar investigasi yang dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), pesawat yang dipiloti oleh Kapten Abdul Rozak itu kemudian menuju ketinggian jelajah 31.000 kaki.

Namun saat meninggalkan ketinggian jelajah untuk turun ke bandara Adisutjipto, di atas wilayah Rembang, Abdul Rozak, memutuskan bahwa penerbangan untuk sedikit menyimpang dari rute seharusnya, atas izin ATC. Hal itu dilakukan karena di depan terdapat awan yang mengandung hujan dan petir.

Sekitar 90 detik setelah memasuki awan yang berisi hujan, saat pesawat turun ke ketinggian 18.000 kaki dengan kondisi mesin dalam posisi idle, kedua mesin tiba-tiba mati dan kehilangan daya dorong (thrust). Pilot dan kopilot pun saat itu mencoba untuk menghidupkan unit daya cadangan (auxiliary power unit/APU) untuk membantu menyalakan mesin utama, tetapi tidak berhasil.

Penyelidikan yang dilakukan menyebut bahwa kru kokpit mencoba menyalakan mesin dengan interval setiap satu menit. Manual B737 yang dikeluarkan Boeing menyebut APU mesti dinyalakan dalam interval 3 menit sekali. Ketika pesawat sampai di ketinggian 8.000 kaki, dan kedua mesin belum berhasil di-restart, pilot melihat alur anak sungai Bengawan Solo dan memutuskan untuk melakukan pendaratan di sana.

Pesawat pun melakukan ditching tanpa mengeluarkan roda pendaratan maupun flaps (menjulurkan sayap). KNKT menyimpulkan bahwa pelatihan yang diberikan maskapai Garuda Indonesia kepada pilot-pilotnya dalam hal interpretasi radar cuaca tidak sebagaimana mestinya dilakukan, hanya diberikan secara tidak formal. Jika kru mengubah sudut radar cuaca pesawat ke bawah sebelum meninggalkan ketinggian jelajah, maka kemungkinan mereka akan melihat jalur awan di depan dengan lebih baik.

Dari rekaman suara kokpit dan melihat kerusakan di hidung dan mesin pesawat, disimpulkan awan badai yang ditembus GA421 kala itu bukan hanya berisi hujan saja, melainkan juga butiran-butiran es. Laporan menyebut air dan es tersebut memiliki kepadatan yang tidak bisa ditoleransi lagi oleh mesin saat kondisi idle, sehingga tidak bisa dinyalakan ulang.

Berdasar temuan tersebut, maka diterbitkan rekomendasi kepada pabrikan mesin pesawat. Mereka diminta untuk membuat prosedur bagaimana meningkatkan kemampuan mesin saat menghadapi situasi hujan badai dan es, yakni dengan meningkatkan RPM minimum menjadi 45 persen dan melarang penggunaan autothrust dalam kondisi presipitasi tinggi. Selain itu, KNKT juga memberikan rekomendasi untuk memperbaiki metode pelatihan awak pesawat dalam membaca citra radar cuaca, pabrikan radar cuaca harus meningkatkan sistem radar cuacanya agar bisa lebih baik mengidentifikasi awan, serta perbaikan dalam prosedur pemeliharaan baterai pesawat untuk maskapai.

Takbir Sang Pilot

Kapten Abdul Rozak meminta kepada co pilot Haryadi meletakan microfon dan meminta seluruh penumpang dan kru untuk berdoa. Sebab ia memutuskan untuk melakukan pendaratan darurat.

"Saya katakan saja sudah letakkan. Kita berdoa, detik-detik kematian sudah di depan mata. Kita suruh berdoa dan saya takbir. Setelah berdoa dan saya takbir, saya konsentrasi lagi," ujar Kapten Abdul Rozak.

Kapten Abdul Rozak pun lantas menurunkan pesawat ke 17.000 kaki. Di ketinggian tersebut ia mulai melihat ada hamparan sawah dan sungai. Ia pun terus berdiskusi dengan co-pilotnya. Co-pilot menyarankan untuk mendaratkan pesawat di sawah.

"Begitu saya ke kiri lihat ada sungai, saya sarankan bagaimana kalau ke sungai itu. Pada saat itu dia (Co-pilot) sarankan sawah, saya bilang kita akan mati semua kalau kesitu. Dengan waktu tersisa sedikit itu saya sarankan ke sungai," katanya.

Pesawat pun mulai terbang rendah di ketinggian 3.000 kaki, namun Kapten Abdul Rozak kembali panik saat melihat Sungai Bengawan Solo yang mau ia jadikan lokasi pendaratan darurat ternyata ada jembatan yang memiliki banyak tiang.

Kemudian ia sejajarkan pesawat dengan sungai. Ia pun siap menjadikan sungai sebagai tempat landasan. Saat ia belokkan pesawat ke kiri, rupanya di sana ada jembatan satu lagi yang harus ia lewati, sementara kondisi pesawat tinggal jatuh.

"Jadi begitu sulitnya saya mendaratkan pesawat itu di antara dua jembatan," katanya.

Setelah berhasil mendaratkan pesawat di sungai, kondisi 54 penumpang dan 5 kru pesawat pun berhasil selamat, sementara 1 orang kru pesawat meninggal dunia.

Berikut link hasil investigasi KNKT, cek di sini