Innalillahi 29 Lansia Tewas Usai Divaksin, Gejala Demam,Muntah hingga Diare

Senin, 18 Januari 2021 – 08:32 WIB

Ilustrasi Vaksin Covid-19 (Foto:Istimewa)

Ilustrasi Vaksin Covid-19 (Foto:Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Kabar duka datang dari 29 lansia di Norwegia. Mereka meninggal setelah mendapat suntikan vaksin COVID-19 buatan Pfizer dan BioNTech. 

Ini memunculkan keraguan soal keamanan vaksin COVID-19 bagi lansia. Padahal, beberapa negara menempatkan lansia sebagai prioritas vaksinasi.

Namun berbeda dengan Indonesia yang baru akan memvaksinasi kelompok tersebut setelah tenaga kesehatan dan petugas layanan publik. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memperkirakan, lansia baru akan mendapat vaksin COVID-19 sekitar Maret-April 2021.

Diberitakan sebelumnya, vaksin Comirnaty yang dikembangkan Pfizer-BiNTech sudah melalui uji klinis yang melibatkan kelompok lansia, dan hasilnya relatif aman. Sedangkan beberapa vaksin lain, seperti CoronaVac buatan Sinovac yang saat ini tersedia di Indonesia, sedang dalam tahap uji klinis pada lansia.

Sementara saat ini Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Penny K Lukito mengatakan tengah menunggu hasil uji klinis pada lansia untuk bisa memberikan izin penggunaan. Jika hasilnya meyakinkan, maka izin akan segera diberikan.

"Tentunya kita menunggu, mudah-mudahan hasil dari uji klinis fase 1 dan 2 pun juga bisa kita ekstrapolasi, sehingga bisa memberikan keyakinan untuk memberikan izin penggunaannya untuk lansia. Apalagi produknya sudah ada di sini kan di Bio Farma," kata Penny dalam diskusi dengan Ikatan Alumni ITB, Sabtu 16 Januari lalu. 

Terkait 29 kasus kematian yang dilaporkan, investigasi telah dilakukan pada 13 kasus. Sejauh ini disimpulkan beberapa adverse reaction (demam, muntah, dan diare) dari vaksin mRNA, platform yang digunakan vaksin buatan Pfizer.

Kondisi itu mungkin memicu dampak fatal pada beberapa pasien lansia dengan kondisi lemah dan rentan. Dikutip dari legemiddelverket.no, Senin 18 Januari 2021, Norwegian Medicines Agency (NOMA) menyebut uji klinis skala besar yang dilakukan Pfizer/BioNTech tidak melibatkan pasien dengan kondisi tidak stabil dan dengan penyakit akut.

Norwegia saat ini memvaksinasi lansia dan orang-orang di panti jompo, termasuk yang memiliki penyakit serius. "Karenanya bisa diperkirakan bahwa kematian di sekitar waktu vaksinasi mungkin terjadi. Di Norwegia, dalam sepekan terjadi rata-rata 400 kematian di panti jompo dan fasilitas pelayanan jangka panjang," tulis NOMA. 

Direktur medis NOMA, Steinar Madsen, kepada BMJ mengatakan adverse reactions pada vaksin mRNA tidak berbahaya pada pasien lebih muda dan bugar. Pihaknya menyebut, dampak fatal adalah kondisi yang langka dan terjadi pada pasien yang 'very frail' dengan penyakit sangat serius.

"Kami sekarang meminta dokter melanjutkan vaksinasi tetapi dengan evaluasi ekstra pada orang yang sangat sakit dengan kondisi penyerta yang mungkin kabuh karenanya," katanya.

Evaluasi ekstra mencakup pembahasan rasio 'risk and benefit' dengan pasien maupun keluarganya, untuk memutuskan perlu tidaknya pasien mendapat vaksin.

Di banyak negara, lansia termasuk prioritas vaksinasi karena dianggap sebagai kelompok paling rentan terhadap komplikasi COVID-19. Di Inggris, lansia berusia 90 tahun, Margaret Keenan, menjadi pasien pertama yang mendapat vaksin COVID-19. Ia mendapatkan vaksin buatan Pfizer-BioNTech.

Di Amerika Serikat, presiden terpilih Joe Biden juga telah mendapat dosis pertama vaksin COVID-19. Ia juga menggunakan vaksin buatan Pfizer-BioNTech, yang uji klinisnya memang sudah melibatkan lansia.

Vaksin dengan platform inactivated virus seperti CoronaVac buatan Sinovac juga sudah dipakai untuk lansia, antara lain di China dan Turki. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang usianya sudah 66 tahun adalah salah satu penerima vaksin CoronaVac.