Di Jepang, Ribuan Lansia Melakukan Kejahatan Agar Bisa Hidup Enak di Penjara

Rabu, 20 Januari 2021 – 12:43 WIB

Foto: Financial Times

Foto: Financial Times

Tokyo, REQNews.com -- Jepang baru saja merilis Buku Putih 2020 tentang kejahatan. Isinya, 42.463 lansia melakukan kejahatan agar bisa hidup lebih enak di penjara.

Hallo Jepang melaporkan Buku Putih 2020 yang dikeluarkan Kementerian Kehakiman menyebutkan terdapat 749 kasus sepanjang 2019, atau turun 8,4 persen. Padahal, Jepang relatif menghadapi kesulitan ekonomi akibat pandemi.

Kriminalitas Jepang justru mencapai puncaknya tahun 2002, dengan 2,85 juta, tapi terus turun setiap tahun selama 17 tahun terakhir. Angka kriminalitas 2019 adalah yang terendah sejak akhir Perang Dunia II.

Sebanyak 70 persen kejahatan 2019 adalah tindak pidana pencurian. Perampokan dan pencurian sepeda menurun, karena penggunaan kamera keamanan sampai ke pelosok seluruh kota.

Jumlah tersangka yang ditangkap sepanjang 2019 adalah 192.067, turun 6,5 persen dibanding tahun sebelumnya. Menariknya, dari seluruh tersangka, 42.463 berusia 65 tahun ke atas atau lansia.

Dibanding 2018, lansia yang tertangkap turun 5,1 persen. Namun, penurunan ini justru disebabkan anjloknya populasi lansia.

Jika angka kejahatan lansia dihitung berdasarkan populasi lansia sepanjang 2019, persentase yang diperoleh sangat mengkhawatirkan, yaitu terjadi peningkatan 22 persen.

Kejahatan lansia yang paling umum adalah mengutil (52,4 persen), lainnya; perampokan (17,6 persen), penyerangan (14,2 persen), dan penggelapan (5,4 persen).

Rata-rata di semua rentang usia, pengutilan mencapai 28,7 persen dan pencurian lainnya 20,1 persen, yang mengindikasikan pencurian terbesar dilakukan oleh senior.

Pelanggaran mengutil yang dilakukan oleh lansia wanita sangat tinggi yaitu 75,6 persen. Pada 2018, lansia wanita yang mengutil mencapai angka 82,5 persen. Dari mereka yang ditangkap, 93.967 adalah pelanggar kambuhan, atau sebesar 48,8 persen dari total penangkapan.

Dari data di atas terlihat jelas bahwa lansia sering mengutil dan hampir setengahnya adalah kambuhan. Mengapa lansia senang melakukan tindak kriminal dan meringkuk di balik teralis besi?

Menurut National Institute of Population and Social Security Research penyebab semua ini adalah makin banyak lansia yang hidup sendiri akibat tren tak menikah yang dimulai sejak 1980-an.

Kementerian Kesejahteraan Jepang memprediksi jumlah orang yang berusia di atas 65 tahun dan hidup sendirian akan melebihi angka 30 persen di 47 prefektur pada 2040.

Sebagian dari mereka yang hidup sendirian ini akan menghadapi masalah besar ketika tak memiliki uang pensiun. Pekerja sektor informal hanya mengandalkan tabungan untuk hidup di usia lanjut. Repotnya, usia hidup masyarakat Jepang lebih lama dibandingkan dengan penduduk negara lain, misalnya Indonesia.

Ketika tabungan terkuras, hidup kian terancam. Apalagi, sejumlah lansia menderita demensia. Hubungan kekerabatan masyarakat Jepang juga tak sedekat seperti penduduk Indonesia.

Dalam kondisi terjepit seperti ini hidup di penjara terasa lebih nyaman; makan gratis, layanan kesehatan dan perhatian dan tim medis lembaga pemasyarakatan. Salah satu cara untuk tinggal di penjara adalah tindak pidana.

Tindak pidana paling gampang adalah mengutil di kombini, atau supermarket, dekat permukiman. Mereka tahu konbini dilengkapi kamera pengawas. Justru itulah yang para lansia inginkan, cepat tertangkap dan masuk penjara.

"Saya sudah pensiun dan uang tabungan habis. Saya bisa hidup gratis di penjara," kata seorang narapidana berusia 69 tahun. "Saya tidak ditangkap, maka saya melapor ke polisi. Polisi menangkap saya, dan kini saya dipenjara sembilan tahun."

Tak semua narapidana lansia mencuri karena disengaja. Sebagian mengutil karena menderita demensia. Penderita Alzheimer yang hidup sebatang kara memang menyedihkan. Di penjara, mereka mendapatkan perawatan yang tidak didapat saat di rumah.

Ada juga lansia yang memiliki rumah dan keluarga tetapi tetap mencuri agar menghuni penjara. Menurut seorang petugas LP perempuan di Iwakuni, sekitar 30 mil dari Hiroshima, bagi mereka penjara layaknya sebuah rumah. Di sini mereka dipahami dan diperhatikan, tak seperti saat berada di rumah sendiri.

Melemahnya ikatan kekeluargaan, hubungan sosial dan lingkungan membuat makin meningkatnya isolasi sosial yang pada gilirannya membuat lansia merasa terasing di rumah dan lingkunnya sendiri. Ada yang mengatakan penjara adalah surga bagi lansia.